PAGI itu kertas. Yang terbaca adalah lembaran-lembaran koran. Pagi masih milik pembaca koran yang menghadapi Kompas, 28 Juni 2025. Kejadian yang mungkin berada di “babak akhir”. Tangan yang tetap memegang koran terus berkurang. Pada abad XXI, tangan dan lembaran kertas (koran) bukan lagi pemandangan yang lazim. Tangan tidak lagi harus sibuk dengan lembaran koran setelah gawai terbukti memberikan kemudahan, kecepatan, murah, dan indah.
Kompas bertambah usia: 60 tahun. Maka, terbitan 28 Juni 2025 dianggap mengingatkan sejarah pers dan Indonesia. Yang tercetak di lembaran koran: “Media cetak memainkan peran penting dalam membentuk narasi awal sejarah. Sejak lahirnya, Kompas ikut serta dalam membentuk narasi awal sejarah di Indonesia.” Artinya, yang tekun membaca koran mengetahui sejarah. Pada saat tahun-tahun terus berlalu, orang yang membuka tumpukan Kompas lawas mengalami pertemuan (lagi) dengan sejarah. Kita menyebutnya konsekuensi kliping.
Kita iseng saja membaca Kompas, 10 September 1988. Kejadian yang belum terlalu lama diberitakan di halaman depan. Yang memukau adalah foto yang dicetak di Kompas. Pembaca melihat Soeharto naik sepeda. Soeharto adalah presiden. Mengapa ia naik sepeda? Pertanyaan itu menemukan jawab bagi yang membaca berita. Pada suatu masa, presiden dan para menteri naik sepeda, dari Jalan Cendana menuju Monas. Presiden yang bersepeda mengesankan sederhana, sehat, dan merakyat.
Jangan lupa membaca tajuk rencana! Sejak dulu, kekuatan Kompas terasakan dalam tajuk rencana. Buktinya, ratusan tajuk rencana terbit menjadi buku, yang bermaksud “mengawetkan” dan merekam babak-babak sejarah di Indonesia. Di koran lawas kita mengingat Indonesia masa Orde Baru: “Kata-kata apakah yang dalam waktu belakangan ini tersebar luas menjadi amat populer? Kecuali lagu cengeng, kata-kata itu meliputi: deregulasi, waskat pengawasan atasan, dan disiplin nasional. Hampir setiap minggu diselenggarakan pertemuan yang membahas disiplin nasional. Sampai-sampai orang mulai mencibir, apakah dilontarkannya disiplin nasional untuk diseminarkan?”
Indonesia sedang sibuk dengan seminar-seminar. Orde Baru itu “orde seminar”. Kita tentu tidak boleh tergesa membuat konklusi. Yang pasti Indonesia disusun dengan seminar-seminar yang menampilkan intelektual, pejabat, jenderal, dan lain-lain. Seminar seperti pengesahan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah itu “benar”. Yang ingat tulisan-tulisan lama bisa mencermati lagi kelakar Umar Kayam bertema seminar. Konon, orang-orang masa lalu dianggap pintar, penting, dan terhormat jika pernah menjadi pembicara dalam seminar-seminar, setidaknya ikut sebagai peserta dalam seminar.
Siapa masih menyimpan koran-koran lama? Kertas-kertas yang mudah rusak. Baunya pun menyengat. Menyimpan koran itu tidak mudah jika berpikiran dokumentasi. Yang biasa terjadi adalah koran-koran bekas segera diperdagangkan untuk kepentingan bungkus nasi, membuat kerajinan, atau alas yang tidur di gerbong kereta api. Orang-orang masa lalu memang punya kemahiran menggunakan lembaran koran. Percayalah bahwa Kompas tidak cuma bacaan. Lembaran-lembaran Kompas mudah untuk diperdagangkan secara berat: kilogram. Bagi yang berlangganan atau membeli Kompas secara eceran boleh melongo mengetahui harga koran berdasarkan timbangan.
Maka, terhormatlah orang-orang yang masih merawat koran-koran lama dan membuat kliping. Orang itu sadar dokumentasi meski cara hidup masa sekarang tidak terlalu membutuhkan kertas-kertas lawas. Kita terbayang lagi para dokumentator, yang memuliakan dan mengerakkan lembaran-lembaran koran dalam mengisahkan dan menjelaskan Indonesia, dari masa ke masa.
Pada saat berusia 60 tahun, Kompas mengeluarkan edisi khusus: 60 halaman. Edisi itu dijual dengan harga mahal. Kita tidak perlu membantah. Yang masih mau menerbitkan koran (cetak) dan menyajikan edisi khusus itu keanehan di abad XXI. “Sebagai media, sepanjang tahun 1965-2025, Kompas ikut mendokumentasikan perjalanan bangsa,” tulis di pengantar. Kemauan membuat kliping bersumber Kompas memang membekali dalam mengingat arus dan alur Indonesia.
Kini, beberapa koran nasional dan daerah tamat. Ada pula yang berganti bentuk, bukan lagi edisi cetak. Yang masih membaca Kompas edisi cetak berarti belum ingin kehilangan pengalaman bersama kertas. Adegan membaca koran sudah menjadi pemandangan “kuno”. Duduk dengan dua tangan memegang koran itu peristiwa aneh. Membaca koran di pangkuan juga aneh.
Pada masa lalu, anak dan remaja yang ikut membaca koran yang biasa dipegang bapak dan ibunya mengaku ikut belajar bahasa Indonesia, selain belajar masalah sastra, pendidikan, olah raga, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Di sejarah Indonesia, penerbitan koran dan majalah memang turut dalam usaha menggerakkan dan memuliakan bahasa Indonesia. Kompas ikut dalam perayaan bahasa.
Yang disampaikan Kompas patut dipuji: “Dalam usia ke-60 tahun (1965-2025), Kompas tanpa lelah merawat dan menjaga bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari visi pendiri Kompas, Jakob Oetama dan PK Ojong, yang menganggap penting akurasi ejaan, tata bahasa, dan logika dalam penulisan berita. Visi itu diwariskan secara turun-temurun kepada jajaran redaksi, dari generasi ke generasi.” Namun, penjelasan yang diberikan Kompas kadang berbeda dengan pengalaman-pengalaman pembaca. Artinya, pembaca yang memiliki catatan membandingkan mutu bahasa beragam koran. Pembaca dapat menuduh penggunaan bahasa Indonesia di Kompas itu berat dibandingkan koran-koran yang lain. Maka, muncul anggapan bahwa koran itu bacaan kaum intelektual.
Daniel Dhakidae (2013) memberi ilustrasi: “Seseorang berpakaian kumuh yang membaca Kompas di kereta api, secara paradoksal terjadi dua hal sekaligus. Pertama, the recognition of distance, pengakuan adanya jarak antara Kompas dengan salah satu koran lain, entah apa namanya dan orang dalam kategori sosial tertentu. Di pihak lain, ada the recognition of propinquity, pengakuan tentang tidak ada jarak karena pasti dia seorang profesor. Kalau tidak mana mungkin dia membaca artikel halaman enam, yang ruwet seperti ruwetnya tampang si pembaca Kompas itu.” Yang terlihat itu masa lalu. Kini, kita jarang melihat orang-orang yang masih memegang koran dan membacanya di ruang publik.
Kompas memang telah berusia 60 tahun tapi kita mulai harus menerima kenyataan bahwa jumlah pembaca koran cetak terus berkurang. Pada suatu masa, lembaran kertas itu langka, kuno, dan klasik. Anak dan cucu kita tidak mudah mengenalinya. Yang sadar koran adalah lembaran-lembaran penting mungkin akan memperdagangkannya dengan harga mahal sesuai usia dan isi.
*Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.