AKHIRNYA, Senin tiba sewajarnya. Hari yang sering dihindari dan dicemooh tapi selalu datang setelah Minggu. Yang kita mengerti, Senin, 14 Juli 2025, jalan ramai lagi dan sekolah-sekolah meriah. Artinya, jutaan anak dan remaja di seantero Indonesia masuk sekolah. Mereka menjadi jamaah berseragam lagi setelah liburan panjang. Kebenarannya seragam yang dikenakan mengesahkan mereka dalam belajar ilmu-ilmu.
Kesibukan dimulai dengan segala nasihat, tuntutan, impian, dan keluhan. Senin yang tidak selamanya indah dan bergairah. Namun, murid-murid telah berada di sekolah, yang mengabarkan negara memiliki gapaian kecerdasan. Mereka yang belajar menjadikan UUD 1945 memiliki perwujudan dan bermakna. Di sekolah, murid-murid memberi pembenaran bahwa presiden dan menteri menunaikan pekerjaan besar demi masa depan. Yang lelah dan merasa beruntung dalam belajar pelbagai ilmu memastikan Indonesia terlarang bodoh.
Kita tidak berharap penulisan kenangan-kenangan belajar di sekolah (SD, SMP, atau SMA) untuk mengetahui arus perkembangan pendidikan dan pasang-surut mutunya. Yang masih memiliki kenangan biasanya senyum-senyum seolah pernah merasakan bahagia. Ada yang menunduk dan mengumbar makian akibat merasa terhukum sebagai murid selama belasan tahun. Kenangan itu buram dan siksa. Jika ada yang menulis kenangan-kenangan pasti menghasilkan ribuan jilid, yang membuat pembacanya klenger.
Pengganti dari kenangan adalah bacaan yang tersaji dalam buku-buku (pelajaran) lama. Yang terbaca adalah buku berjudul Bahasa Kita 1A (1964) yang disusun Baidilah Halim. Buku dipelajari murid-murid SD saat Indonesia sedang genting sekaligus pening. Disuguhkanlah bacaan mengenai anak-anak yang mau ke sekolah. Kita membacanya realis: “Rina sudah siap. Ia bangun pagi-pagi benar. Ia akan ke sekolah. Toto kakak Rina. Rina adik Toto. Toto murid kelas tiga. Rina murid kelas satu. Toto belum siap. Ia sedang makan. Ia makan dimedja. Rina dan Toto sudah mandi. Rina dan Toto pergi kesekolah. Toto membawa tas. Didalam tas itu ada pinsil, kitab tulis dan kitab gambar.”
Konon, yang membahagiakan anak dalam masa pertumbuhannya adalah masuk sekolah. Berhasil menjadi murid SD menimbulkan kebanggaan bapak, ibu, kakek, nenek, dan para tetangga. Sosok kecil yang mengenakan seragam sekolah itu mau membentuk dirinya dan masa depan. Maka, kaum dewasa biasa memberi ribuan nasihat kepada anak-anak yang sebenarnya masih ingin terus bermain ketimbang dibikin mampus oleh banyak pelajaran di sekolah. Nasihat-nasihat yang biasanya “memaksa” dan disusul kutukan.
Belajar di sekolah memang urusan masa depan. Kita mengetahuinya dalam cerita berjudul Di Bawah Lindungan Kabah yang ditulis Hamka. Di situ, ada penceritaan si kecil dari keluarga yang miskin dibahagiakan oleh keluarga terhormat. Semula, si kecil itu berjualan keliling kampung. Namun, kebaikan dari orang terhormat menjadikannya berhasil berada di bangku sekolah. Cerita berlatar masa 1920-an. Yang belajar di sekolah teranggap menerima berkah Tuhan dan terjanjikan beruntung di dunia yang bergerak. Masa depan sempat terbayangkan cerah sebelum masalah-masalah berdatangan.
Kita pun mengingat puluhan novel terkenal masa 1920-an dipastikan mengisahkan tokoh-tokohnya yang belajar di sekolah. Marah Roesli menulis di halaman-halaman awal Sitti Nurbaya mengenai kaum remaja yang mendapat terang dari ilmu-ilmu modern di sekolah. Salah Asuhan yang digubah Abdoel Moeis menceritakan tokoh yang masuk ke sekolah bentukan pemerintah kolonial Belanda dan menikmati kehidupan di kota. Sekolah adalah kebenaran terbesar di zaman kemajuan.
Pada masa revolusi, Soekarno menghendaki jutaan anak dan remaja belajar di sekolah. Mereka terlarang bodoh dan membebani revolusi. Soekarno malu jika Indonesia dihuni orang-orang bodoh dan malas. Jadi, misi pendidikan dan pengajaran sangat dipentingkan dalam koar-koar revolusi belum selesai. Buku pelajaran yang berjudul Bahasa Kita 1A cukup mengingatkan gairah belajar di sekolah mendukung revolusi.
Di buku lain yang berjudul Bahasa Persatuan (1954) garapan Sutan Abdul Gani, Sutan Muhammad Said, Muhammad Ma’sud, Abdul Manan, dan Djalius Djalil, kita membayangkan mereka yang belajar di sekolah masa 1950-an. Hari-hari belajar di sekolah selama ratusan hari membuat anak-anak mengerti beragam ilmu. Namun, mereka berhak libur untuk bermain atau bertamasya. Sekolah memang menghendaki murid-murid rajin belajar tapi hak-hak untuk senang-senang dan berfaedah di rumah tidak boleh direcoki.
Di buku pelajaran lawas, kita membaca cerita: “Abdullah dan Aminah tidak sekolah. Mengapa mereka ada dirumah? Ja, hari ini hari Minggu. Abdullah membantu bapak dikebun. Bapak memanggul tjangkul dan Abdullah mentjabut rumput. Tiap hari Minggu mereka bekerdja dikebun. Aminah bermain dengan adik dihalaman rumah.” Libur itu membahagiakan? Anak-anak mungkin bahagia tapi pengisahan membantu bapak di kebun itu pernyataan berguna bagi keluarga. Hari-hari tidak harus membuka buku pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Minggu mungkin hari terindah ketimbang Senin.
Yang membaca cerita itu bisa tersenyum saat mengetahui Minggu telah berubah peristiwa. Pada abad XXI, anak-anak yang menikmati liburan terlupa dari cangkul, rumput, kebun, dan lain-lain. Banyak yang mengeluh gara-gara kesibukan baru membuat anak dan remaja yang melelahkan tangan dan matanya dengan ponsel. Mereka memang memiliki kehidupan yang baru, tidak harus memicu kaum tua mengeluarkan fatwa yang “mendustakan” dan “mengecewakan”.
Bagi orang-orang yang ingin mendapat kelucuan anak belajar di SD dianjurkan membaca buku cerita berjudul Lupus Kecil (1992) yang ditulis Hilman dan Boim. Pada masa Orde Baru, kaum remaja sudah terhibur dengan cerita-cerita Lupus sebagai murid di SMA. Di buku Lupus Kecil, ia dihadirkan sebagai murid kelas satu SD yang pintar, kocak, dan bandel.
Dampak belajar ilmu-ilmu yang diseleksi atas nama kurikulum atau perkembangan zaman mengakibatkan Lupus yang seru. Kita sajikan petikan cerita: “Dia yakin apa yang dikatakannya selalu benar. Pernah ditanya, binatang apa yang paling kecil di dunia? Jawabannya: gajah. Aneh! Tapi, dia tidak mau tahu. Pokoknya jawaban itu harus dianggap betul. Biar bagaimanapun juga Lupus tidak mau mengganti jawabannya. Kalau masih keberatan, kata Lupus, lebih baik pertanyaannya saja yang diganti, dicocokkan dengan jawabannya. Pasti nanti betul. Yah, itulah Lupus.”
Kita kagum dengan kepintaran dan keteguhan Lupus dalam jawaban. Kini, kita merindukan murid-murid yang “berani” dalam masalah pertanyaan dan jawaban. Keberanian itu diperlukan agar berita sedekah nilai guru kepada murid secara berlebihan, yang membuat kebodohan haram di Indonesia, bisa dibantah.
*Kabut merupakan seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.