Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate mencatat adanya peningkatan angka stunting pada balita sepanjang tahun 2024.

Berdasarkan data dari aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), jumlah balita yang mengalami stunting mencapai 412 anak atau 4,1 persen. Angka ini naik dibandingkan tahun 2023 yang mencatat 303 balita atau 3,02 persen.

Meski secara keseluruhan terjadi peningkatan, Dinkes mencatat adanya fluktuasi kasus stunting di masing-masing puskesmas. Beberapa wilayah mengalami penurunan, seperti Puskesmas Sulamadaha dari 33 menjadi 28 kasus. Sementara itu, di Puskesmas Siko meningkat dari 39 menjadi 41 kasus, Bahari Berkesan dari 9 menjadi 34, dan Kalumpang dari 40 menjadi 41.

Peningkatan signifikan juga terlihat di beberapa puskesmas lain, seperti Puskesmas Kota, dari 40 menjadi 69 kasus. Kalumata, dari 38 menjadi 42. Gambesi, dari 7 menjadi 27. Perawatan Moti, dari 21 menjadi 47. Mayau, dari 6 menjadi 8. Perawatan Pulau Hiri, dari 32 menjadi 34. Jambula, dari 38 menjadi 41

Staf Gizi Dinas Kesehatan Kota Ternate, Rully Pratama Agung, menjelaskan, penanganan stunting di Ternate telah mengikuti petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan kebijakan dari Wali Kota Ternate.

“Memang ada peningkatan pada 2023–2024. Namun kami terus melakukan evaluasi dan tindak lanjut secara rutin, baik di tingkat puskesmas maupun di dinas,” ujar Rully saat ditemui di Kantor Dinkes Kota Ternate, Senin, 21 Juli 2025.

Ia mengakui bahwa terdapat tantangan dalam pengendalian stunting, terutama karena faktor geografis dan sosial ekonomi. Sebagai pusat aktivitas di Maluku Utara, Kota Ternate kerap menjadi tempat rujukan berobat dari luar daerah, yang turut memengaruhi validitas data. Selain itu, tingginya biaya hidup juga menjadi kendala bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

“Contohnya di Pulau Hiri, ada kasus bayi yang saat masih sehat berada di pulau, lalu dibawa bepergian. Ketika kembali, kondisi kesehatannya sudah berbeda. Ini yang kadang membuat kami kesulitan melakukan pemantauan secara konsisten,” jelas Rully.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua, khususnya ibu, dalam pemenuhan gizi bayi. Pemberian ASI eksklusif setiap dua jam untuk bayi usia 0–6 bulan sangat penting, disusul dengan pemberian makanan pendamping (MP-ASI) yang sesuai umur: makanan pure untuk bayi usia 6–7 bulan, dan makanan keluarga yang rendah garam, gula, dan lemak untuk usia 7–9 bulan.

Stunting, lanjutnya, dapat dimulai sejak masa kehamilan. Ibu hamil yang kekurangan gizi kerap mengalami anemia, pusing, mual, hingga melahirkan bayi dengan berat badan di bawah standar.

“Masih banyak ibu yang mengutamakan kenyang daripada gizi. Padahal pola makan yang tidak sehat bisa memengaruhi perkembangan janin dan menyebabkan stunting,” ungkapnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes Kota Ternate mengambil beberapa langkah strategis. Dalam jangka pendek, dilakukan edukasi tentang pemberian makanan tambahan sebelum kehamilan, imunisasi, serta pemberian vitamin A untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Sementara dalam jangka panjang, fokusnya adalah pada perubahan perilaku, melalui konseling gizi, pendampingan remaja dan calon pengantin, serta penguatan peran posyandu.

“Yang paling penting adalah pola asuh. Bayi harus mendapatkan perhatian penuh dari ibunya, termasuk dalam asupan makanannya yang harus bergizi dan kaya serat,” pungkas Rully.