Buku lama, buku yang menanti panggilan dihidupkan lagi. Terbuktilah buku itu hidup lagi setelah terjadi kerumunan orang berkaos putih dan bergambar gajah di pinggiran Solo, 20 Juli 2025! Acara akbar yang diadakan PSI mengundang ribuan orang, yang berdatangan ke gedung megah di sebelah barat Solo. Yang tampak adalah ribuan manusia tapi yang menggoda pandangan adalah gajah. Kaus bergambar gajah di ribuan raga menggenapi ribuan bendera dan spanduk yang pamer gambar gajah.
Pada 1982, terbit buku berjudul 700 Peribahasa Indonesia yang disusun RH Maskar Gandasudirja. Yang menerbitkan adalah Toko Buku Ekonomi (Bandung). Pembaca jangan terkejut jika mengetahui buku itu telah cetak ulang ke-22. Artinya, buku laris dan dibaca ribuan orang. Buku memang digunakan di sekolah-sekolah, menunjang pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Yang mempelajarinya adalah murid dan guru, bisa juga pembaca umum yang berjanji melestarikan peribahasa, yang pernah bertumbuh di seantero Indonesia.
Buku lama hidup lagi gara-gara gajah. Kita membaca peribahasa bernomor 240: “Gajah berjuang sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”. Pengertian yang diberikan diharapkan menjadi renungan murid dan guru: “Tiap kali raja-raja atau orang-orang besar berselisih, akhirnya peperangan timbul dan rakyatlah yang menderita kesukarannya.” Pembaca mudah berimajinasi bahwa gajah yang besar itu ibarat penguasa atau raja. Gajah yang menuruti kemauannya berdalil kekuasaan justru merugikan dan menghancurkan rakyat.
Ada lagi peribahasa yang bertokoh gajah di nomor 243: “Gajah terdorong karena gadingnya, harimau terdorong karena belangnya.” Apa artinya? Dua hewan yang gagah dan menakutkan bagi hewan-hewan lainnya. Ingatlah bahwa itu peribahasa, bukan kalimat untuk kebenaran ilmiah! Maskar Gandasurdirja memberi penjelasan: “Karena kekuasaan atau kekayaan yang ada padanya, orang besar atau kaya itu seringkali terdorong perkataannya, menyampaikan kata-kata yang bukan-bukan, yang tidak sepatutnya.” Dulu, murid dan guru memilih mengangguk, tandanya setuju dengan arti peribahasa, yang tidak diketahui asal-usulnya.
Yang membuat kita tergoda dari peribahasa yang mengandung peringatan dan nasihat dari masa silam: orang besar biasa mengucapkan yang bukan-bukan. Jadi, omongannya diinginkan berpengaruh tapi yang disampaikan kadang tidak penting atau kebablasan. Omongan yang tidak sepatutnya dianggap penting meski bisa merusak kenyataan.
Kita berhasil mendapatkan gajah dalam buku lama. Peribahasa-peribahasa yang cukup mengena untuk renungan di Indonesia abad XXI. Padahal, murid-murid hanya sering mengingat: “Gajah mati meninggalkan gading…” Namun, ingatan itu pantas mendapat tepuk tangan ketimbang lupa semua peribahasa yang turut membentuk peradaban Nusantara, sejak ratusan tahun yang lalu. Kita sedang kepikiran peribahasa gajah, yang belum tentu berkaitan dengan (logo) gajah yang digunakan dalam ruang kekuasaan menuju hajatan demokrasi 2029.
Ada lagi renungan gajah tapi tidak mudah dimengerti jika hanya membacanya selusin detik. Yang menyajikannya Anthony de Mello dalam buku berjudul Burung Berkicau (1984). Ia adalah pendakwah Jesuit di India yang rajin mengumpulkan ribuan cerita berhikmah untuk disampaikan kepada para pembaca di dunia. Ia mengikutkan cerita gajah dalam bukunya.
Kita menyimak cerita singkat yang diakhiri renungan: “Seekor gajah berkubang dengan santainya di sebuah kolam di tengah hutan. Tiba-tiba seekor tikus mendekatinya. Ia menyuruh gajah itu supaya segera keluar dari kolam.” Gajah itu tidak mau. Ia tidak ingin diganggu. Bersantai di kolam itu kenikmatan. Namun, tikus punya bahasa yang mengancam dan memerintah: “Detik ini juga engkau harus keluar!” Gajah yang mengaku binatang bertubuh besar dan berkuasa itu heran: “Lho, mengapa?” Tikus mengeluarkan jurus cerdik: “Alasannya hanya akan aku katakan bila engkau sudah keluar dari kolam.”
Semula, gajah tetap ogah meninggalkan kolam. Namun, kalimat yang digunakan tikus menimbulkan penasaran. Akhirnya, ia mengalah dan meninggalkan kolam dengan kesal. Berdirilah gajah di depan tikus, bertanya: “Nah, katakanlah sekarang, mengapa engkau mendesakku supaya keluar dari kolam?” Pembaca yang serius agak berdebar-debar menunggu jawaban tikus dan reaksi gajah. Pembaca mulai membayangkan keganasan gajah dan kepintaran tikus.
Di akhir, perkataan tikus kepada gajah tanpa rasa bersalah: “Aku ingin tahu, apakah engkau memakai celana renangku atau tidak.” Kalimat yang menutup kisah, yang bisa memicu tawa atau kebingungan bagi pembacanya. Tikus hanya ingin mengetahui celana renangnya tapi berhasil memaksa gajah keluar dari kolam saat sedang bersantai dan bermalas-malasan. Pembaca tidak mudah paham maksud cerita meski sempat tersenyum membayangkan gajah yang sebal, kecewa, atau marah gara-gara perkataan tikus.
Anthony de Mello tidak membiarkan cerita tanpa hikmah. Ia sudah memilih dan menyajikannya berarti bertanggung jawab ikut menafsirkan atau membuatkan konklusi. Yang terbaca: “Seribu kali lebih mudah mengenakan celana renang tikus kepada seekor gajah daripada memakai istilah-istilah keilmuan dengan tepat untuk mengungkapkan Tuhan.” Pembaca diam lama, mencari kaitan antara cerita agak lucu dan renungan yang disuguhkan. Cerita yang tiba-tiba berat dan filosofis.
Bermula dari peribahasa dan cerita filosofis, kita belajar lagi tentang gajah. Yang tepat adalah belajar mengenai segala hal, yang terpicu oleh peran atau ketokohan gajah. Apa yang kita renungkan itu mengandung kebenaran yang berlaku untuk masa sekarang? Kita menunda jawabannya.
Di Indonesia, orang-orang sedang mendapat kejutan dan menerka arti-arti saat PSI mengenalkan logo baru: gajah. PSI yang dipimpin Kaesang itu partai politik kecil tapi mengesankan besar gara-gara gajah. Yang aneh lagi, Prabowo Subianto mengaku bahwa gajah termasuk hewan kesayangan. Padahal, jutaan orang mengetahui ia memiliki kucing yang mendapat perlakuan istimewa di istana. Kini, gajah mulai berada di ruang kekuasaan, tak cuma berada di hutan, kebun binatang, buku dongeng, atau film fantasi.
Kita meyakini itu gajah yang memerlukan cerita dan hikmah mengikuti gejolak-gejolak politik di Indonesia. Yang jelas Kaesang sudah memberi pernyataan, belum cerita: “Gajah adalah simbol kekuatan, kecerdasan, keteguhan, dan solidaritas.” Sosok ketua umum berpenampilan gagah itu melanjutkan: “Dia (gajah) tidak mudah terpancing, tidak gegabah, tetapi ketika bergerak, langkahnya membawa dampak yang besar.” Kita boleh percaya atau menanti adanya cerita singkat agar gajah bukan sekadar logo dan gosip politik.
*Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.