Pada mulanya, kita mengingat padi di sawah. Mata yang melihat dapat takjub, menimbulkan pujian atas kerja dan pengabaian kaum tani. Di sawah, imajinasi makmur terus bertumbuh tapi mudah patah oleh politik. Sawah itu pangan mungkin definisi yang lapuk. Kita tetap percaya Indonesia adalah sawah seperti dalam buku pelajaran, iklan komersial, dan bujukan pariwisata.

Dulu, ada yang mengawetkan imajinasi pangan dengan adanya lumbung. Tempat penyimpanan padi di dekat rumah atau berada di bagian belakang rumah itu menimbulkan harapan. Orang-orang tidak ingin tersiksa oleh kelaparan. Lumbung itulah yang menyatakan kebutuhan pangan masih bisa terpenuhi asal berpamrih cukup. Konon, orang-orang lama tidak berpikiran membeli pangan saat kerja di sawah dan lumbung adalah penghayatan pangan.

Di khazanah cerita rakyat, kita mendapat semaian imajinasi pangan. Yang diceritakan adalah usaha pangan, yang tidak lekas menjadikan orang adalah pembeli atau konsumen yang diombang-ambingkan oleh politik-licik dan kaum modal yang serakah. Pada tanah-tanah, mereka bercocok tanam dan merayakan makan. Mereka pun melakukan ritual untuk bersyukur. Mereka dalam tata cara hidup berbagi, yang membuat kaum miskin dijauhkan dari lapar dan hina.

Namun, dunia cepat berubah. Sawah itu acuan bisnis. Yang melakukan secara lincah bukan petani tapi orang-orang yang paham uang dan jejaring ekonomi. Kita mungkin tidak pernah lengkap belajar tentang pertanian. Pengertian tentang menanam dan panen seolah mengalihkan perhatian mengenai “pemasaran”, yang semestinya membuat kaum tani bahagia. Sejak lama, kaum tani justru murung dan kecewa akibat hasil sawah sulit mencipta sejahtera.Yang bikin nasib amburadul adalah “pasar”.

Kita iseng saja sedikit menengok masalah pertanian masa lalu. Kaslan A Tohir dalam buku berjudul Pengantar Ekonomi Pertanian (1965) menjelaskan: “Tanaman padi-sawah di Djawa/Madura biasanja dipanen dalam bulan-bulan Mei-Djuni-Djuli… “ Kita belajar waktu dan pangan. Selanjutnya: “… para petani itu mendapat sebagian (besar) dari hasil usahanja dekat sesudah panenan, maka terdapatlah biasanja suatu puntjak masa dalam peredaran, pendjualan, pengumpulan dan pembeajaan hasil pertanian dekat sesudahnja pertanian.” Kita agak mengerti babak-babak setelah tanam dan panen.

Yang menjadi persoalan besar adalah “perdagangan” dan “bisnis” yang tidak menjamin girangnya kaum tani. Pengetahuan tambahan situasi pasar: “… penjelidikan dari Biro Perantjang Negara mengenai sifat pengangkutan padi dengan kereta api di Djawa dalam tahun 1954 dan 1955. Dari djumlah padi jang diangkut dengan kereta api, sebagian besar jakni 80%, diangkut dalam bulan-bulan Mei, Djuni dan Djuli atau bulan-bulan panenan padi.” Pada akhirnya, orang-orang berpikiran beras dalam pasar, bukan lagi padi dari sawah-sawah.

Masalah yang rugi dan untung adalah perdagangan beras. Kaum tani tidak lagi harus sibuk. Nasib beras ada di tangan pihak-pihak yang melek politik, paham uang, dan sadar kemakmuran. Masalah beras bukan cuma babak lanjutan dari panen padi. Beras adalah permainan harga. Konon, gara-gara harga, pihak-pihak mau meraup laba besar melakukan kecurangan dan pembohongan. Beras jarang memberi cerita indah dan tulus. Di Indonesia, beras malah keseringan mencipta korupsi, kriminalitas, kebohongan publik, dan lain-lain.

Kita membaca berita (lama) saja agar yakin bahwa beras itu masalah yang tidak pernah selesai di Indonesia. Yang terjadi di Riau berdasarkan berita dimuat dalam majalah Tempo, 14 Juli 1973: “Harga (beras) yang tadinya sudah menanjak sampai Rp 95 per kilo melompat-lompat tidak keruan dalam hitungan dari jam ke jam.” Beras itu harga! Masalahnya kadang tidak masuk akal. Kutipan lagi: “… Riau termasuk yang paling lemah. Berpenduduk 1,6 juta, Riau menderita kekurangan beras sekitar 20-25.000 ton setahun. Di samping dropping Bulog untuk pegawai negeri dan ABRI, maka lebih dari sejuta perut di Riau itu praktis bergantung dari lumbung-lumbung beras di Sumatera Barat.” Ingatlah, berita beras dari masa 1970-an!

Apakah kita masih bermasalah beras setelah abad XX berlalu dan rezim-rezim berganti? Sekian hari lalu, Prabowo Subianto kecewa dan marah setelah mengetahui bisnis serakah bertajuk beras oplosan. Pemerintah mengaku terjadi kerugian triliunan setiap tahun akibat bisnis beras oplosan. Konon, ada tindakan-tindakan untuk pihak-pihak yang keterlaluan dalam rebutan duit besar dalam bisnis beras.

Kita mengingat yang lama saja ketimbang berlagak paham situasi mutakhir dalam perdagangan beras atau politik beras di Indonesia masa sekarang. Di majalah Tempo, 18 Mei 1985, kita membaca berita yang berjudul: “Panen Raya Ini Untuk Siapa Sebenarnya?” Para petani panen tapi tiada kabar mereka bakal bahagia dari pendapatan yang diperoleh. Masalah tidak mudah untuk mengerti padi, gabah, beras, nasi, dan lain-lain. Yang bikin sedih: “Berbagai usaha meningkatkan produksi pangan, khususnya beras, sangat berhasil. Tapi, tiba-tiba, tercetus sasaran lain: kualitan. Petani juga yang kena getahnya.”

Apakah buku dan berita lama cukup membuat kita ingat rumitnya masalah beras? Kita boleh menghindari berita-berita baru yang membuat hari-hari kita tidak cerah. Beras bukan mengajak berimajinasi pangan tapi pamrih besar mendapat untung oleh pelbagai pihak yang merayakan keserakahan.


*Kabut merupakan seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia