Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Wilayah I Ternate tengah merawat 19 ekor burung paruh bengkok hasil sitaan dan penyerahan masyarakat. Dari jumlah itu, 15 ekor merupakan Kasturi ternate (Lorius garrulus), dua ekor Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), serta masing-masing satu ekor Kakatua putih (Cacatua alba) dan Nuri bayan (Eclectus roratus).

Hasrian Fajar A. Naim, dokter hewan sekaligus pengendali ekosistem hutan BKSDA Maluku Wilayah I mengatakan sebagian besar burung ini merupakan hasil sitaan dari upaya penyelundupan, diserahkan warga, dan yang dikirim dari Manado, Sulawesi Utara.

Burung-burung tersebut, kata Hasrian, melalui beberapa tahan perawatan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, karantina, hingga pemulihan sayap yang patah atau bulu yang dicabut.Proses rehabilitasi bisa memakan waktu 6 bulan hingga lebih dari setahun sebelum dipindahkan ke kandang habituasi untuk belajar terbang dan mengembalikan insting liarnya.

“Sayapnya ada yang dipotong, ada yang dicabut. Itu kalau yang dipotong bisa sampe 6 bulan hingga satu tahun. Kalau dicabut itu lama. Kadang ada yang tumbuh atau ada tidak tumbuh. Kalau sudah liarnya, sudah ada sayapnya, sudah tumbuh baru bisa dilepasliarkan,” jelas Hasrian kepada Kadera, Kamis, 4 September 2025.

Salah satu jenis paruh bengkok Nuri bayan (Eclectus roratus) yang menjalani perawatan di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Wilayah I Ternate sebelum dilepasliarkan. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Jika kondisi membaik, burung-burung itu akan dilepasliarkan sesuai habitatnya masing-masing. Sebelumnya, BKSDA telah melepas 22 ekor Kasturi ternate di Pulau Morotai. Kasturi ternate punya tiga sebaran: Morotai, Obi-Bacan, dan Halmahera-Ternate. Kakatua putih biasanya dilepas di Halmahera dan Bacan, sedangkan Kakatua jambul kuning akan dikirim ke Ambon.

Ia memperingatkan masyarakat agar tidak lagi memelihara atau memperdagangkan burung paruh bengkok, yang kini populasinya terus menurun akibat perburuan dan penyelundupan. Kalau dibiarkan, katanya, burung-burung endemik Maluku Utara ini bisa benar-benar punah.

“Ke depannya mudah-mudahan yang punya satwa liar itu dikembalikan ke kami biar kami rawat agar bisa dilepasliarkan. Kalau satwa liar di Maluku Utara sudah habis ada cucu kita mau lihat bagaimana lagi. Ini populasinya sudah menurun,” terang Hasrian.

Rabul Sawal
Editor
La Ode Zulmin
Reporter