SIAPA yang tak kenal Eduardo Agnelli.

Laki-laki asal Italia itu lahir di tengah gemerlap dunia industri Eropa—pewaris tunggal kekaisaran otomotif Fiat, simbol kekuatan ekonomi Italia. Di tangannya harusnya tersimpan masa depan kerajaan bisnis yang dibangun ayahnya, Gianni Agnelli, ikon kapitalisme modern. Tapi sejarah memilih arah lain, Eduardo berpaling.

Ketika dunia menyiapkannya untuk kekuasaan, ia justru mencari sesuatu yang tak bisa diwariskan: makna. Eduardo membaca Kierkegaard, menyelami Ibn ‘Arabi, mengutip Rumi, dan pernah menulis bahwa kemajuan tanpa keadilan hanyalah bentuk baru dari perbudakan. Dalam zaman yang menjadikan laba sebagai ukuran nilai, Eduardo menemukan dirinya asing—terlalu lembut untuk industri, terlalu jujur untuk politik.

Lalu datang tahun 1979. Revolusi Islam Iran mengguncang dunia. Dan kita tahu, Barat menganggap Revolusi itu sebagai ancaman, tapi Eduardo? Ia melihat sebagai getaran iman—suara nurani yang bangkit dari Timur. Lalu Ia ke Tehran, berdialog dengan para ulama. Menurut sejumlah catatan, ia bersyahadat. Namanya berubah, Mahdi Agnelli. Ia menemukan ketenangan yang tak pernah diberi dunia industri.

Namun nama itu tak pernah diakui oleh keluarganya. Ia kehilangan tempat, tidak memilih miskin, tetapi memilih fitrah. Dan dunia yang membesarkannya itu tak lagi mengerti dirinya. Pada 15 November 2000, tubuhnya ditemukan di bawah jembatan Savona. Beberapa media Barat menyebutnya bunuh diri. Tapi mungkin yang jatuh di situ bukan hanya seorang anak manusia, melainkan seluruh peradaban yang kehilangan arah.

***

Kita tahu, ‘fiat’ bukan hanya nama sebuah pabrikan, tapi juga untuk suatu zaman yang mencetak nilai tanpa ruh, tanpa makna. Di dunia uang fiat, manusia percaya pada kertas lebih dari nuraninya sendiri. Dan Eduardo Agnelli menolak keduanya. Mesin dan ilusi. Ia memilih fitrah.

“Fiat” tak hanya merek mobil. Ia lambang kapitalisme Eropa, mesin kekuasaan yang menggerakkan modernitas. Di tangan keluarga Agnelli, Fiat berarti puncak kendali atas ekonomi dan gaya hidup. Sedang fitrah adalah kebalikannya. Sesuatu yang tak bisa dimiliki, hanya dihayati. Asal mula nan suci—keadaan ketika manusia masih jujur pada dirinya.

Sehingga, “Fiat ke Fitrah” mungkin juga berarti perjalanan keluar dari kekuasaan menuju keheningan, dari puncak dunia menuju dasar hati, dasar batin. Itulah perjalanan Eduardo Agnelli sendiri—dari pewaris kekaisaran industri menjadi pengembara spiritual, mencari makna hidup.

Tengoklah. “Fiat” dan “Fitrah” hanya berbeda satu huruf, tapi perbedaan itu seperti garis antara kebisingan dan keheningan. Fiat ke Fitrah— dari huruf “a” menuju “rah”, dari industri ke rahmat. Dan di antara dua kata itu, ada satu doa tersembunyi: Semoga manusia tak lupa dari mana ia datang, dan ke mana ia akan kembali.

Fiat adalah besi, industri, kendaraan—sesuatu yang bergerak di luar manusia. Fitrah adalah hati, kesadaran, dan cahaya—sesuatu yang hidup di dalam manusia. Eduardo meninggalkan besi demi cahaya. Ia berpindah dari dunia mesin yang berderu ke jagat sunyi. Dan mungkin, itulah perjalanan paling revolusioner yang bisa ditempuh oleh siapa pun di abad ini.

Dan dua puluh tahun lebih sejak tubuh itu jatuh, wajah-wajah muda di Roma, London, dan New York meneriakkan nama yang sama tanpa menyebutnya kebenaran. Mereka berdiri di jalan, menolak bungkam di hadapan genosida. Mereka bukan keturunan Agnelli, tapi mewarisi nuraninya.

Baca Juga:Suara

Dalam diri mereka, revolusi moral yang dulu dilihat Eduardo mulai tumbuh: dari kemewahan menuju kesadaran, dari Fiat ke fitrah. Gaza menjadi cermin yang memantulkan wajah Barat yang retak antara idealisme dan realitas. Negara-negara yang berteriak soal hak asasi justru membungkam nuraninya di hadapan penderitaan. Di ruang-ruang kuliah universitas ternama, mahasiswa diintimidasi karena simpati terhadap Palestina. Bukankah di tengah kecanggihan teknologi, yang paling terancam bukanlah kebebasan berpikir, melainkan keberanian untuk merasa?

Dan Barat yang dahulu melahirkan ide-ide besar mengenai kemanusiaan kini berdiri di antara dua dunia: antara kemajuan yang menakjubkan dan kebisuan yang memalukan. Mereka menciptakan kecerdasan buatan, tetapi kehilangan kecerdasan batin. Mereka dapat menembus langit dengan roket, tapi gagal menembus batin sendiri.

Eduardo telah melihat jurang itu lebih awal. Ia tahu kemajuan tanpa keadilan adalah bentuk baru dari perbudakan. Ia juga tahu dunia yang menyanjung efisiensi dan keuntungan suatu hari akan menenggelamkan nuraninya sendiri. Maka ia berpaling. Dan dalam keberpalingannya itu, ia menemukan sesuatu yang tak dimiliki kekuasaan mana pun: kebebasan batin.

Mungkin di bawah jembatan Savona itu, sejarah modern berhenti sejenak—sebelum kembali berlari tanpa arah. Karena setelahnya, dunia tak lagi punya cukup ruang bagi jiwa-jiwa seperti Eduardo: dunia yang sibuk menjual mimpi, tapi tak punya waktu untuk menafsirkan makna.

Dunia yang lebih mudah memproduksi mobil daripada memeluk sesama.

Namun waktu berputar. Apa yang dulu dianggap kegilaan, kini menjadi kesadaran baru. Generasi muda yang berdiri di depan kampus, menolak tunduk pada kemunafikan moral global, adalah nak-anak zaman yang sedang belajar apa itu keberanian.

Mereka, dengan poster sederhana dan suara parau, sedang melanjutkan doa yang pernah dipanjatkan Eduardo—doa agar dunia kembali mengenal nurani. Dari Tehran ke Turin, dari Qom ke Cambridge, dari jalanan Gaza ke lorong-lorong kampus di New York, gema yang sama kini terdengar: Kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh kekuasaan.

Dan kita belajar dari Eduardo. Jalan sunyi adalah jalan menuju kejujuran; iman tentu bukan pelarian, tapi perlawanan pada dunia yang melelapkan nurani. Bahwa yang paling modern hari ini bukan teknologi, tapi keberanian untuk kembali menjadi manusia.[]

 

Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.