“Suatu pagi di musim semi tahun 2023, di sebuah ruang kuliah Universitas Szeged, Zoltán Etzsebet memproyeksikan dua gambar di layar. Di sisi kiri, grafik pertumbuhan ekonomi Norwegia selama dua dekade terakhir; di sisi kanan, potret seorang ibu muda bernama Sigrid yang berjualan roti di sudut kota. “Yang mana kalian ingat lebih lama?” tanya sang profesor. Hampir semua mahasiswa menunjuk gambar perempuan itu. Laki-laki jelang lima puluh tahun itu tersenyum dan berkata lembut, “Kita mengingat cerita, bukan angka.”
Kisah itu saya pungut dari tulisan Benny Arnas. Tapi entah kenapa, kalimatnya terasa seperti mengetuk sesuatu yang lebih dalam, lebih dari sekadar anjuran menulis. Mungkin karena di zaman yang penuh angka ini—angka pertumbuhan ekonomi, penjualan, angka followers—kita justru mulai kehilangan sesuatu yang pernah membuat kita manusia: kemampuan untuk bercerita.
Cerita, tak hanya hiburan, tapi cara manusia memahami dirinya. Bukankah kita mengenal kebaikan tidak dari definisinya, melainkan dari seseorang yang memilihnya di tengah godaan. Kita memahami kasih bukan dari teori, tapi dari wajah yang menahan lelah dan tetap tersenyum. Demikian, manusia tak hidup di tengah data, tapi di tengah kisah. Di tengah cerita.
Dan kita tahu, Al-Qur’an, kitab yang sering dibaca tapi jarang direnungkan secara naratif, sejak awal seolah tahu hal itu. Tuhan bisa saja berbicara dalam hukum, dalam sistem, atau perintah yang kaku. Tapi Ia memilih bercerita. Kitab itu menuturkan kisah Yusuf yang dijatuhkan ke sumur, Musa yang gemetar di tepi laut, Maryam yang menanggung sepi di bawah pohon kurma. Bahkan satu surah diberi nama pengakuan itu sendiri: Al-Qashash, cerita.
“Kami ceritakan kepadamu kisah mereka dengan benar, agar hatimu teguh karenanya.”
Begitu kata Qur’an dalam surat Hud. Tuhan rupanya tahu, manusia tak bisa hidup dari perintah saja. Ia membutuhkan kisah untuk meneguhkan hati—sebab yang sejati tak hanya konsep, tapi juga perjalanan batin yang dialami setiap orang, siapa saja.
Mungkin itu sebabnya, Al-Qur’an menempatkan Al-Qashash dan Asy-Syu‘ara berdampingan: yang satu mengajarkan bagaimana kata meneguhkan iman, yang lain memperingatkan agar keindahan tak kehilangan arah.
Dalam Injil, kita tahu, Yesus mengajar tidak dengan teori, tapi dengan cerita tentang biji sesawi, domba yang hilang, dan orang Samaria yang murah hati. Begitu pula dalam Mahabharata dan Ramayana, kebaikan tak didefinisikan—ia diuji di medan laga dan pengorbanan. Dalam kisah-kisah Jataka, Sang Buddha menyalakan kebajikan tidak dengan dalil, tapi dengan ingatan atas kehidupan yang lampau.
Kita memang hidup di masa ketika kata lebih sering menjadi gema. Kita menulis cepat, berbicara cepat, berpikir cepat—seolah takut pada keheningan yang membuat kata harus lahir dengan tanggung jawab. Padahal, mungkin justru di dalam menulis itulah, cerita menemukan nadinya kembali.
Rumi menulis di tengah riuh pasar Konya, Mahfouz menulis di kafe yang ramai di Kairo. Tapi di hati mereka ada ruang yang hening, tempat kata tumbuh dan mencari arah. Begitu pula Tan Malaka yang menulis Madilog di pengasingan, Pramoedya menulis di pembuangan, Cak Nun yang merayakan kata di tengah rakyat. Semua mereka hidup di tengah keramaian, tapi di dalam diri mereka selalu ada ruang yang tenang—tempat kata-kata disucikan dari ambisi. Cerita lahir dari ruang semacam itu.
Dan barangkali, menulis cerita adalah salah satu cara manusia berzikir. Sebab setiap kali ia menuturkan hidup, ia sesungguhnya sedang mengingat asalnya. Kata-kata menjadi butiran tasbih yang berpindah dari jari ke hati. Dan di ujung kalimat, ia sadar: tak ada cerita yang benar-benar miliknya—semua hanya pinjaman dari Yang Maha Bercerita.
Mungkin itu juga yang hendak dikatakan profesor Zoltán di ruang kuliah itu—bahwa manusia hanya akan mengingat apa yang mengandung jiwa. Bukan data, tapi perjalanan; tak hanya angka, tapi wajah. Dan mungkin itu pula sebabnya Tuhan bercerita. Sebab hanya lewat kisah, manusia bisa mengenali kembali dirinya: yang rapuh, yang berharap, yang terus berjalan di antara ayat dan kata.
Di akhir segala pengetahuan, barangkali hanya cerita yang tetap tinggal tentang seorang ibu yang berjualan roti, tentang seorang nabi yang tidak putus asa, tentang kita yang masih menulis, agar hidup ini, betapa pun bisingnya, tak kehilangan makna.[]
Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.