SIAPA yang dapat menduga. Pada 4 November 2025, kota New York akhirnya mengumumkan Zohran Kwame Mamdani sebagai wali kota terpilih. Orang-orang mungkin tak segera memahami apa yang baru saja terjadi. Namun sejarah, dengan caranya sendiri, mencatat malam itu sebagai sebuah retakan—atau mungkin sebuah keutuhan: untuk pertama kalinya dalam seabad, kota ini memilih seorang anak muda berusia 34 tahun, seorang Muslim, seorang keturunan Asia Selatan—yang perjalanannya tidak dimulai di Manhattan, tetapi di Kampala, di Durban, di sebuah rumah yang selalu berpindah.
Kita tahu, New York termasuk kota yang tak pernah tidur. Tapi mungkin, pada malam itu, kota itu seperti mendengarkan dirinya sendiri. Seolah menyadari bahwa masa depannya harus dibayangkan kembali—bukan dengan wajah-wajah lama, melainkan seseorang yang datang dari peta lain.
Zohran lahir di Uganda, dari keluarga yang masih menyisakan aroma India dan kenangan Afrika Timur. Sebagian masa kecilnya hilir-mudik di Afrika Selatan sebelum ia tiba di New York pada umur tujuh tahun. Sejak itu, ia seperti berdiam di antara tiga dunia yang tak pernah benar-benar saling mengenali. Tetapi barangkali justru dari persilangan itulah ia belajar sesuatu yang berharga: bahwa siapa pun bisa membawa beberapa rumah dalam dirinya tanpa harus memiliki salah satunya secara utuh.
Dan di tengah peta yang retak-retak itu, ada muasal lain yang turut membentuknya: ibunya, Mira Nair, sutradara dengan karya-karya yang telah melintasi festival dunia. Dari sekian filmnya, ada satu yang seperti gema bagi kisah diaspora keluarga ini—Mississippi Masala (1991). Sebuah film mengenai keluarga India–Uganda yang terusir, tentang cinta yang melintasi batas ras, dan tentang dunia yang selalu meminta seseorang memilih salah satu identitas sambil menolak sisanya. Film itu bergerak dengan warna-warna hangat, tetapi juga dengan kesedihan yang tak pernah diucapkan. Seperti otobiografi yang ditulis tanpa perlu menyebut nama keluarga Mamdani.
Dalam dunianya yang begitu rupa—yang separuh sejarah, separuh pencarian—Mamdani tumbuh. Dari ayahnya, Mahmood, ia mungkin belajar melihat dunia melalui jejak panjang kolonialisme dan bayang-bayang yang ditinggalkannya. Dari ibunya, ia belajar bahwa jejak itu dapat dilembutkan menjadi cerita. Maka ketika ia berbicara tentang krisis perumahan, transportasi publik, atau Palestina, suaranya tidak terdengar seperti politisi yang ingin menang debat, tapi lebih mirip seseorang yang pernah menyaksikan bagaimana sebuah rumah bisa hilang hanya karena seseorang tidak dianggap layak memilikinya.
Kita ingat, Mamdani pernah menjadi relawan mencegah penyitaan rumah di Queens. Di situ ia bertemu para imigran yang kehilangan kehangatan ruang keluarga hanya dalam sehari. Dan barangkali dari sanalah ia belajar bahwa “rumah” tak hanya tempat tinggal, tetapi keadaan hati. Seorang imigran tidak hanya pindah kota, tetapi juga berpindah rasa aman.
Ada pula kisah lain yang menarik: ia makan dengan tangan. Di tengah jas dan dasi, ia menyentuh makanan seperti di rumah-rumah Asia yang jauh. Serangan politik pun datang dari hal remeh itu. Tetapi ia menjawabnya dengan diam yang tegas: identitas bukan kostum yang dipakai untuk debat; identitas baginya adalah kebiasaan kecil yang menempel begitu lama hingga menjadi tubuh.
Namun sejarah tidak hanya membentuk Mamdani; sejarah juga berusaha menolaknya. Ia diserang sebagai radikal, sebagai ancaman. Karena ia vokal membela Palestina, ia dituduh antisemit. Tetapi sejumlah rabi Yahudi membelanya. Mereka tahu kemarahan itu bukan pada Yahudi, tetapi pada kekerasan yang dilakukan negara. Dunia sering menggambar garis tebal; namun manusia selalu hidup di ruang-ruang yang tidak bisa disederhanakan.
Tetapi pada akhirnya, kemenangan itu datang. Mamdani mengalahkan Cuomo—nama besar yang didukung Trump, para miliarder, dan politisi lama. Namun, bukankah sejarah bergerak tidak selalu oleh mereka yang punya modal besar? Seorang sukarelawan 17 tahun berkata, “Sebelum ini saya tak tahu apa itu politik.” Dalam kalimat itulah mungkin kita memahami sesuatu: bahwa Mamdani menang bukan semata oleh program, tetapi oleh kesediaan orang-orang kecil untuk mempercayai kemungkinan.
Dan malam itu, lampu kota berpendar seperti adegan terakhir Mississippi Masala: dunia yang keras, tetapi sesekali memberi ruang bagi keberanian. Mina dan Demetrius dalam filim itu memilih cinta meski dunia meminta mereka takut. Dan Mamdani, mungkin tanpa sadar, mewarisi keberanian serupa—keberanian untuk berdiri di ruang-ruang yang tak pernah disediakan untuknya.
New York memilihnya. Dan barangkali, untuk pertama kali dalam waktu lama, kota itu memilih seseorang yang tahu bahwa rumah tidak selalu ditemukan; kadang ia harus dibangun dari patahan-patahan sejarah, dari perpindahan yang panjang, dari warna-warna hangat yang entah datang dari mana.
Pada malam 4 November itu, sejarah tak hanya mencatat seorang wali kota baru tapi juga sesuatu yang lebih halus: seorang anak diaspora akhirnya pulang. Bukan ke Uganda, tidak ke India, juga bukan ke Afrika Selatan—melainkan ke sebuah kota yang akhirnya mengenali dirinya dalam wajah seseorang yang membawa banyak dunia dalam satu tubuh.[]
Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.