SAYA pertama kali mengenal Indonesia O’Galelano sekitar lima belas tahun lalu, ketika saya sibuk mengkliping puisi-puisi Indonesia bernuansa laut dari antologi Angkatan ’66: Prosa dan Puisi terbitan Gunung Agung, 1982. Dari halaman-halaman yang mulai menguning itu, saya menemukan sebuah puisi yang seketika membuat saya takjub: “Epos Laut”. Ada sesuatu dalam puisi itu—suara laut, amarah sejarah, keberanian yang nyaris ritual, bahkan mantra—yang membuat saya merasa seperti menemukan kembali sebagian dari tanah kelahiran saya sendiri.

Judul ini, saya ambil langsung dari judul puisi O’Galelano yang begitu membekas itu. Puisi tersebut bukan hanya karya yang memperkenalkan saya pada dunia batin penyair dari Galela ini, tetapi juga teks yang membuka kembali ingatan maritim Maluku Utara—sebuah epos yang ditulis tidak dalam kitab besar, tapi dalam deru ombak, mantra, dan sejarah yang ia rekam dalam larik-lariknya.

Indonesia O’Galelano, kita tahu, lahir sebagai Muhammad Idrus Djoge pada 17 November 1940 di Galela, Halmahera Utara, adalah salah satu suara penyair yang datang dari pinggir, dari timur peta sastra Indonesia. Ia merantau ke Jawa, aktif menulis di majalah dan koran, menjadi bagian dari atmosfer Angkatan ’66. Namun dari semua jejak yang tercecer itu, saya tertarik mengudar “Epos Laut”.

Baca Juga:Suara

Puisi ini tak hanya berkisah mengenai pelaut, peperangan, atau masa silam; buat saya, ia adalah pintu masuk menuju kosmologi maritim Maluku—dunia di mana laut bukan hanya lanskap, tapi juga ingatan, sekaligus kekuatan membentuk keberanian dan sejarah. Dari sana, kita dapat melihat O’Galelano bukan hanya sebagai penyair yang nyaris terlupakan, tetapi sebagai perawi yang membawa suaranya dari tepian Nusantara untuk memasuki jantung kesadaran kita hari ini.

“Epos Laut” berdiri di atas fondasi sejarah panjang Maluku Utara, wilayah yang sejak abad ke-16 menjadi pusat perebutan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan lokal, Portugis, Spanyol, hingga VOC. Laut sudah menjelma jadi panggung tempat sejarah bergerak. Armada korakora yang membelah ombak, peperangan melawan meriam Portugis, dan nama para sultan yang berdiri tegak di antara kepulan asap adalah bagian dari ingatan kolektif yang masih hidup dalam masyarakat.

Ketika O’Galelano menuliskan “kami anak laut, mati di laut”, ia sesungguhnya sedang membangkitkan kembali tradisi maritim yang membentuk identitas dan harga diri Maluku. Laut bukan latar, melainkan ruang tempat bangsa-bangsa dibentuk dan dipatahkan.

Baca Juga:Dekolonial

Selain sejarah, “Epos Laut” juga berdiri di dalam kosmologi yang khas: dunia di mana laut memiliki jiwa, gunung adalah penjaga, dan angin buritan dapat dipanggil melalui mantra. Penyebutan Gamalama dan Dukono bukan hanya nama gunung; tapi poros alam yang menaungi kehidupan. Ketika sang kapita mengucap “bismillah”, kita melihat bagaimana Islam, adat, dan kepercayaan maritim melebur menjadi satu sistem keyakinan yang utuh. Dunia O’Galelano bukan dunia yang terpisah antara profan dan sakral; laut, angin, arus, dan doa berada dalam satu garis napas.

Puisi ini dibuka dengan suasana natural yang tenang: “busa dan buih putih / menuntun gulungan ombak / mengendap pasir putih pantai.” Laut tampil lembut, seakan menata panggung sebelum sejarah memasuki ruangnya. Manusia belum hadir; yang bicara adalah lanskap. Setelah itu, tempo puisi meningkat. Arus memelatuki perahu canga; pelaut lokal berhadapan dengan meriam Portugis dan artileri Kompeni. Ini adalah inti naratif puisi: pergulatan sejarah, keberanian, dan kekuatan maritim yang lama membentuk identitas Maluku Utara.

Titik puncaknya muncul melalui mantra: “bismillah / kukunci hatimu / kuhempaskan pikiranmu.” Mantra menjadi jembatan antara dunia sejarah dan dunia kosmos. Dari sana, ruang geografis meluas ke Papua, Banggai, Tomini, Sangihe, Mindanao, hingga Sabah. Puisi mencapai klimaks epik sebelum menutup dengan deklarasi moral: “ini bumi kami… datu moyang ‘kan murka / dan kami ‘kan bangkit.”

Dalam puisi ini, laut tidak hadir sebagai dekorasi tapi sebagai tokoh utama—subjek yang menuntun, mengarahkan, menelan, dan mengadili. Laut adalah leluhur: pelindung sekaligus penyimpan memori. Ketika penyair menyeru “demi laut halmahera, anak laut pasifik”, ia hendak menegaskan, laut memiliki legitimasi moral yang lebih tinggi dari manusia.

Laut juga bertindak sebagai arsip kosmologi. Di dalamnya hidup hubungan manusia dengan angin, arus, mitos, dan sejarah. Laut memihak dalam pertarungan; ia adalah ruang moral yang merespons ketidakadilan. “Epos Laut” memotret laut bukan sebagai batas, tetapi sebagai pusat kehidupan.

Baca Juga:Caracas

“Epos Laut” juga tampak unsur maskulinitas. Puisi ini tidak berakar pada dominasi, tapi pada etos menjaga tanah leluhur. “Kami anak laut, mati di laut” bukan pernyataan keberingasan, tetapi komitmen pada kehormatan kolektif. Heroisme adalah ritus, bukan ketangkasan individual.

Saat mantra diucapkan, kita melihat ada keberanian yang bukan hanya fisik tetapi juga spiritual. Dan kita tahu para pelaut Maluku berdiri bersama angin, gelombang, dan leluhur. Inilah bentuk maskulinitas maritim: keberanian yang lahir dari harmoni, bukan dari kekuasaan.

Bahasa mantra adalah inti kekuatan puisi. Repetisi “bismillah” menciptakan ritme sakral, mengubah kata menjadi energi. Transformasi kata—“kabal jadi palias, palias jadi besi”—menunjukkan logika magis yang bekerja dalam imajinasi masyarakat Maluku. Sebagai epos, puisi ini memperluas ruang dan waktu, menjangkau pulau-pulau dan wilayah yang pernah berada dalam orbit sejarah maritim Maluku. Semua elemen—manusia, laut, gunung, angin—bergerak seperti satu tubuh. Itulah ciri epik: perkawinan antara sejarah dan kosmos.

Kita juga menemukan kolonialisme dalam puisi ini tidak diletakkan sebagai latar Sejarah. Tetapi perih yang terus berulang. Seruan “jangan coba-coba lagi tebang pala cengkeh” bekerja sebagai kritik pada bentuk-bentuk baru penguasaan sumber daya. “Epos Laut” mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap tanah leluhur tidak pernah benar-benar hilang.

Perhatikan bagaimana laut juga hadir sebagai hakim. Ketika penyair memanggil gelombang untuk menelan armada musuh, ia menegaskan bahwa alam memiliki moralitasnya. Pembacaan ekologis membuat puisi ini terasa sangat relevan hari ini, di tengah kerusakan lingkungan dan eksploitasi yang meluas oleh ekstraktivisme.

Kita tahu, dalam kanon sastra Indonesia, suara dari wilayah timur sering terabaikan. “Epos Laut” mengisi kekosongan itu. Ia menunjukkan bahwa sastra modern dari Maluku Utara mampu memadukan sejarah, kosmos, dan kritik sosial dengan kekuatan yang setara dengan karya dari pusat-pusat budaya lain.

Masuknya puisi ini dalam antologi HB Jassin menandai bahwa ia pernah memiliki tempat di mata kritikus. Namun ketiadaan buku tunggal dan arsip yang tercerai membuat O’Galelano nyaris hilang dari ingatan. Inilah paradoks posisinya: penting tetapi terlupakan.

“Epos Laut” mengingatkan bahwa sastra Indonesia lahir dari banyak suara, banyak pantai. Di tengah dunia yang bergerak di luar batas, puisi ini mengajak kita kembali pada hubungan manusia dengan laut dan sejarah. Ia membuka kembali arsip yang selama ini berada di pinggir.

Bagi gerakan literasi anak muda Maluku Utara, puisi ini adalah penanda bahwa kita memiliki tradisi sastra yang kaya. Jika hari ini kita mengenal Nukila Amal sebagai salah satu penulis besar Indonesia, itu menunjukkan bahwa daya penciptaan sastra dari Maluku Utara tidak pernah padam—yang kurang adalah ekosistem yang merawatnya.

Maka tugas generasi baru adalah mengarsipkan karya-karya lama, mendiskusikannya secara aktif, dan menumbuhkan tradisi kritik sastra yang kuat. Dengan cara itu, sastra Maluku Utara tidak lagi menjadi catatan pinggir, tetapi bagian hidup dari percakapan sastra Indonesia hari ini.[]

Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.