Jumlah angkutan kota di Kota Ternate terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ternate mencatat, dari lebih 500 unit yang beroperasi sebelumnya, kini hanya tersisa 343 unit angkot aktif. Para supir cemas kehilangan pekerjaan karena pendapatan terus merosot tajam.

Tamrin Gani, Kepala Bidang Angkutan Darat dan Terminal Dishub Ternate, mengatakan penurunan jumlah angkot dipengaruhi oleh beralihnya masyarakat pada kendaraan pribadi dan maraknya angkutan berbasis aplikasi daring. Sementara itu, sektor angkot konvensional belum bertransformasi.

“Angkot yang masih aktif 343 unit untuk di tahun 2024-2025. Tahun-tahun sebelumnya di atas 500 unit. Tapi perkembangan waktu kemarin angkanya semakin menyusut,” kata Tamrin kepada Kadera di ruang kerjanya, Selasa, 9 Desember 2025.

Tamrin menilai tanpa inovasi, angkot angkot akan sulit bersaing dengan layanan transportasi aplikasi. Padahal, angkot turut menyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Hingga kini belum ada terobosan nyata antara pemerintah dan penyedia jasa angkot.

“Kalau tara inovasi mau tidak mau harus ada inovasi. Dan kalau [angkot] tidak beroperasi, PAD [dari sektor ini] juga akan hilang,” ungkapnya.

Keluhan juga datang dari para sopir. Muhammad Ely, Ketua Ikatan Sopir Angkutan Penumpang (ISSAP) Ternate, mengatakan para sopir berencana mogok membayar retribusi terminal di Gamalama. Mereka kecewa karena pemerintah dianggap mengabaikan tuntutan mereka.

Ely menyebut dua faktor utama penyusutan angkot, yakni menjamurnya transportasi berbasis aplikasi dan tidak adanya penataan dari pemerintah kota.

“Sekarang torang [kami] punya profesi ini kategori terancam. Ini paling utama karena faktor pendapatan berdampak pada torang [kami] punya aktivitas,” ungkapnya.

Ia berharap Pemkot Ternate tidak membiarkan sopir angkot menghadapi tekanan ekonomi sendirian.

“Pemerintah harus hadir. Tidak boleh mengabaikan itu,” jelas Ely.