Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore Kepulauan menyerahkan bantuan tiga unit motor sampah roda tiga kepada satu kelurahan dan dua dusun di Kecamatan Oba Tengah.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat penanganan dan pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga hingga tempat pengolahan akhir.

Tiga unit motor sampah roda tiga berkapasitas 300 CC tersebut akan dimanfaatkan oleh kelompok pengelola sampah setempat. Selain mendukung pengelolaan sampah, kendaraan ini juga diharapkan menunjang program Makanan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di wilayah yang memiliki potensi pengembangan program tersebut.

Kepala DLH Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sjarif, mengatakan bantuan ini merupakan implementasi program pemerintah daerah dalam rangka menekan volume sampah di Tidore Kepulauan.

“Pengurangan sampah harus dituntaskan sesuai RPJMN, dengan target pengelolaan sampah 50 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 100 persen pada 2029,” ujarnya, Selasa, 16 Desember 2025.

Ia menjelaskan, dalam program jangka pendek tahun 2025, DLH fokus mengurai persoalan sampah mulai dari sumbernya di rumah tangga hingga ke tempat pengolahan. Untuk itu, diperlukan sejumlah instrumen pendukung, terutama regulasi serta kolaborasi lintas sektor.

“Pengelolaan sampah tidak bisa dikerjakan sendiri oleh DLH. Diperlukan kerja sama dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, ditunjang sarana dan prasarana, salah satunya mobil sampah yang hari ini kami serahkan,” jelasnya.

Bantuan motor sampah roda tiga ini merupakan hasil kerja sama DLH dengan Komisi I DPRD Kota Tidore Kepulauan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRD, yakni Vina dan Mobon. Kendaraan tersebut disalurkan kepada kelompok pengelola sampah di Kelurahan Dokiri serta Dusun Loleo dan Dusun Roy.

Menurut Sjarif, dua dusun tersebut diprioritaskan karena memiliki potensi pengembangan program MBG dan jarak pengangkutan sampah yang cukup jauh dari desa ke lokasi pengolahan.

“Untuk wilayah Pulau Tidore, kami sudah bekerja sama dengan beberapa MBG seperti di Tuguwiha dan Ome, serta direncanakan di wilayah Tidore lainnya. Target 100 persen tentu tidak mudah, karena tantangan terberat adalah kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ke depan, DLH menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah yang dibuang ke TPA nantinya hanya residu, sementara sampah lainnya dikelola di tingkat rumah tangga, bank sampah induk, maupun TPS3R.

“Tantangan pengelolaan sampah saat ini bukan lagi sekadar mengangkut dan membuang ke TPA, tetapi memastikan sampah dikelola tuntas sejak dari sumbernya,” pungkasnya.