BANJIR rob yang menghantam Kusubibi, desa di pesisir barat Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, dua pekan lalu belum sepenuhnya menghilang dari ingatan warganya.
Sore itu, Sabtu, 6 Desember 2025, Masita dikejutkan oleh air laut yang meluap dan merambat ke semua sisi rumahnya. Fandasi rumah bagian depan nyaris sejajar dengan air pasang.
“Untungnya belum sampai masuk ke dalam rumah,” kata Masita kepada Kadera.id, 17 Desember 2025.
“Kalau air so nae ful, keluar rumah so tara bisa. Kalaupun dipaksa, ya, harus angkat kaki celana sampai lutut,” tambahnya.

Perempuan 25 tahun itu mengatakan, banjir rob yang menghantam desanya 6 Desember lalu sampai memenuhi jalan utama hingga membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Saking besarnya air pasang, anak-anak ada yang berenang di jalan dan ikan-ikan mengitari halaman rumah.
Di seberang jalan dari rumah Masita, warga lain pun mengalami nasib serupa. Fatma Sangaji salah satunya. Ia bilang, saat itu, banjir rob sampai menenggelamkan fondasi rumah mereka. Air masuk ikut celah lubang dan menggenangi bagian dapur dan ruang tengah. Bahkan kamar ikut terdampak.
“Alat-alat dapur me anyor. Dalam kamar me basah, ruang tengah me air ful,” kata Fatma.
Setelah dua pekan berlalu, banjir rob masih menyisakan bekasnya. Mau tidak mau, alat tidur seperti tikar dan belasan bantal tidak bisa diturunkan, hanya berdiam di atas kursi atau tergantung di tali.

Perempuan 26 tahun itu mengungkapkan, banjir rob kerap datang tergantung musim– hitungannya bulan di langit. “Setiap bulan baru, itu tong so tahu, air pasti nae. Jadi barang-barang kayak tikar deng bantal tong so kase nae di kursi atau ikat dengan tali baru gantung,” katanya.
“Pokoknya setiap bulan di langit 14-17 malam, itu air nae ful. Tidor dalam kamar tara bisa karena samua basah total,” katanya.
Menurutnya, setiap tahun, mereka bisa dua sampai tiga kali berlangganan banjir rob. Sepanjang tahun ini, banjir rob sudah menimpa desanya sebanyak tiga kali, terhitung sejak November dan Desember 2025.
Jarak pantai dengan rumah Fatma dan Masita berkisar 100-200 meter. Meski begitu, selama satu dekade lebih, mereka tidak pernah merasakan air pasang sampai separah ini. Dan baru terasa dalam 5 tahun terakhir. Mereka tidak pernah tahu musabab dari datangnya banjir rob ini.
Berkaca dari banyak kasus di tanah air, banjir rob yang menimpa desa-desa di pesisir Indonesia tidak lain adalah dampak dari krisis iklim. Dan kalau sungguh pada tahun 2050 mendatang ada sekitar 23 juta orang di pesisir Indonesia harus menghadapi ancaman banjir laut, maka Desa Kusubibi termasuk satu dari jutaan daftar desa yang terancam.

Merespons banjir rob yang kian mengkhawatirkan, pihak desa bersama masyarakat berencana membangun talut di pesisir hingga menimbun bagian barat kampung. Namun mereka keterbatasan anggaran. Harapan terbesar mereka duduk pada hasil tambang emas tapi sekarang sedang diberhentikan sementara oleh pihak aparat.
Adapun dana desa, Kadera.id mendapat informasi dari warga kalau tahun 2026 mendatang, ada anggaran yang disiapkan pemerintah desa untuk pembangunan badan jalan hingga tanggul dengan panjang sekitar 200 meter.
Untuk memastikan informasi tersebut, Kadera.id berupaya mengirimkan pesan konfirmasi via Whatsapp pada Pejabat Kepala Desa Kusubibi, Irmayanti Kamarullah pada Kamis malam, 18 Desember 2025. Namun sampai artikel ini terbit, tak kunjung mendapatkan respons.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.