Sore turun perlahan di Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate, Maluku Utara. Di atas tanah sewaan milik RRI, Nursan, seorang petani perempuan disabilitas, berdiri sembari membungkukkan badan di antara empat bedengan kecil.
Tangan perempuan 53 tahun ini tampak menggerakkan congkrang maju mundur, mencabut rumput liar yang tumbuh rapat di sela-sela kangkung muda. Daun-daun hijau itu baru setinggi lima sentimeter—agak rapuh, namun menjanjikan.
Di samping Nursan, sebuah ember kecil menampung gulma yang disingkirkan satu per satu. Geraknya pelan, terukur, seolah setiap tarikan napas ikut merawat harapan yang tumbuh dari tanah.
Kaki kanan Nursan telah lama tiada, namun langkah hidupnya tak pernah benar-benar berhenti. Tongkat kayu buatan sang suami menopang tubuhnya, membantu kaki kiri yang berdiri tenang menopang keseimbangan saat ia berkebun.
“Bagi saya, fase awal pertumbuhan kangkung adalah masa-masa bahagia, karena panen mungkin datang, walau masih perlu dirawat dengan sabar,” kata Nursan, saat ditemui, Kamis, 25 Desember 2025.

Sebelum kecelakaan mengubah hidupnya, Nursan adalah petani sayur seperti kebanyakan perempuan di Ternate. Dua puluh lima tahun lalu, pada 2000, dini hari pukul satu, ia berangkat ke Pasar Gamalama membawa kangkung dan bayam. Malam itu dagangannya habis hanya dalam satu jam—rezeki yang jarang datang. Dengan hati ringan, ia pulang menjelang fajar.
Namun perjalanan pulang menjadi awal tragedi. Mobil angkutan yang ditumpanginya melaju ke arah yang membuatnya cemas. Dalam kepanikan, Nursan meloncat dari kendaraan yang masih bergerak. Tubuhnya terhempas. Kaki kanan rusak parah dan tak dapat diselamatkan. Amputasi menjadi satu-satunya pilihan.
“Lima bulan pertama setelah kejadian itu, masa paling berat bagi saya,” kenang Nursan.
Ia merasa seperti belajar hidup dari awal, dengan tubuh yang asing. Berjalan dengan satu kaki, bertopang tongkat, jatuh dan bangkit berulang kali. Pergelangan tangan sering nyeri, namun perlahan keberanian untuk melangkah kembali tumbuh. Selama lima tahun, Nursan berhenti bertani, bertanya-tanya pekerjaan apa lagi yang bisa ia lakukan.
Kerinduan pada tanah akhirnya membawanya kembali. Ia mulai menanam di lahan kosong Kelurahan Kayu Merah, sebelum area itu dibangun menjadi waterboom. Saat pembangunan dimulai, ia kembali berhenti setahun dan mencoba menjahit pakaian. Namun pekerjaan yang bergantung pada pesanan tak mampu menggantikan denyut hidup yang ia rasakan di lahan. Bagi dia, menanam bukan sekadar mata pencaharian—ia adalah identitas.
“Mungkin orang-orang melihat saya akan merasa sulit menanam karena gerak terbatas,” ujar Nursan. “Tapi saya sudah terbiasa. Setiap hari di lahan ada keringat, itu yang bikin badan saya tenang.”
Bersama suaminya, Nyong, ia kemudian menyewa tanah kosong milik RRI dengan biaya dua juta rupiah per tahun. Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama. Suaminya terserang stroke. Sejak saat itu, seluruh proses bertani—membuat bedengan, menanam, merawat, hingga panen—ditanggung sendiri oleh Nursan. Dari lahan kecil itulah ia menghidupi keluarga, membiayai terapi suami, dan menyekolahkan anaknya.
Lahan yang ia kelola berukuran sekitar 20 x 49 meter. Dengan alat seadanya dan tenaga yang terbatas, Nursan menanam kangkung. Untuk membuat bedengan, ia duduk bertopang tongkat, memacul tanah sedikit demi sedikit.
“Dalam satu musim tanam, saya hanya mampu membuat empat bedengan kecil. Tak banyak, namun cukup untuk bertahan,” katanya.
Sebagai petani perempuan disabilitas, Nursan mengaku tantangan yang ia hadapi berlapis. Program pelatihan pertanian belum ramah disabilitas dan jarang mengidentifikasi keberadaan petani disabilitas secara serius. Di kelompok tani, suara perempuan kerap tenggelam. Meski begitu, Nursan tak berhenti belajar. Ia menyerap pengetahuan dari cerita sesama petani perempuan.

Nursan bilang, ia makin optimis ketika suatu waktu ia dapat kesempatan belajar dari Wahana Visi Indonesia tentang teknik biokonversi.
“Teknik ini mampu membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan tanah lebih gembur,” jelasnya.
Setalah dari situ, dua bedengan ia mulai rawat dengan kombinasi biokonversi dan pupuk kimia, dua lainnya hanya dengan pupuk kimia. Dalam satu minggu, perbedaannya nyata. Tanaman dengan biokonversi tumbuh lebih baik.
Setiap panen, ibu satu anak ini membagi hasilnya dengan cermat: uang sekolah anak, biaya berobat suami, bibit, pupuk. Semua diprioritaskan. Berkat pelatihan literasi keuangan dari WVI, ia mampu mengelola hasil panen tanpa berutang.
“Setiap panen, saya beli dulu keperluan menanam. Jadi saya tidak pernah utang. Bahkan bisa sisihkan uang untuk tabungan darurat,” katanya.
Di lahan kecil itu, Nursan terus menyemai doa—bukan untuk meminta iba, melainkan mempertahankan kehidupan. Ia memahami bahwa menanam masa depan, seperti menanam sayur, memiliki cara tumbuh yang berbeda-beda.
Sore kian merunduk, bayangannya memanjang di antara bedengan. Tongkat menuntun tubuhnya kembali ke gubuk kecil di tepi lahan, dengan harapan sederhana: esok hari tanaman tumbuh lebih tinggi, dan hidup tetap berlanjut.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.