Lubang tambang dan perkebunan sawit di Maluku Utara terus meluas, dalam satu dekade terakhir. Melonjak hampir empat kali lipat, atau sekitar 16.201 hektare sejak tahun 2014. Ini setara dengan lebih dari setengah luas Pulau Ternate.
Data Mapbiomas Indonesia memperlihatkan, sawit dan lubang tambang masing-masing meluas 5.955 hektare dan 10.246 hektare. Secara keseluruhan, luas keduanya membesar dengan rata-rata 1.620,1 hektare/tahun. Dari 6.310 hektare pada 2014 menjadi 22.511 hektare pada 2024.
Luas areal bolongan tambang naik signifikan dalam dua tahun terakhir. Mencapai 73,12 persen sejak 2022. Dengan rata-rata 11.101 hektare/tahun. Itu empat kali lebih cepat ketimbang rata-rata perluasan 15 tahun sebelumnya. Padahal, sebelum tahun 2020 skor rata-ratanya cuma 231,2 hektare/tahun.
Dari 13.878 hektare bolongan itu, hampir setengah luasnya menggerogoti Kabupaten Halmahera Tengah. Sekitar 6.406 hektare. Ini meningkat delapan kali lipat atau 5.648 hektare, dari tahun 2014. Luas itu hampir mirip dengan area dua sampai empat desa yang ada di Kecamatan Weda, Halmahera Tengah.
Kemudian, Kabupaten Halmahera Selatan 2.989 hektare dan 1.397 hektare di Halmahera Timur. Keduanya mendampingi Halmahera Tengah sebagai tiga kabupaten/kota teratas pengoleksi area lubang tambang terbesar di Maluku Utara.
Perluasan tersebut memengaruhi formasi hutan di Maluku Utara. Pada saat luas lubang tambang berekspansi, sekitar 1.307 hektare hutan di daerah setempat hilang. Demikianpun dengan perkebunan sawit.
Sepanjang tahun 2014-2024 lahan sawit meluas hampir 230 persen. Tiga kali lebih banyak. Dengan laju rata-rata mencapai 1.620,1 hektare/tahun. Nilai ekspansi paling menonjol pada 2015-2016. Hanya dalam setahun, luas lahan sawit naik hampir 70 persen. Dan lebih dari 90 persen berada di Kabupaten Halmahera Selatan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.