Matahari siang itu bersinar tanpa ampun. Cahayanya jatuh bebas ke tubuh Opo (38), membakar kulitnya yang telah lama akrab dengan laut dan garam. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.

Tanpa pelindung kepala, lelaki itu sibuk membolak-balik ikan garam jemur yang tersusun rapi di atas para-para dari anyaman bambu—lapuk dimakan usia, namun setia menemani hidupnya.

Rokok Surya terselip di tangan kirinya. Asap tipis mengepul, sementara tangan kanannya yang menggelap oleh matahari menjulur ke deretan ikan bolobe—ikan julung—yang tengah dijemur. Ia memastikan setiap sisi ikan mengenal panas matahari.

Dari wajahnya, terpancar harapan hidup yang dititipkan pada ikan-ikan itu, di tengah pilihan pencarian lain yang menurut warga sekitar lebih menjanjikan: mencari gurita, memancing ikan dasar, dan tangkapan laut lainnya.

“Memang gurita dan ikan dasar per kilonya mahal,” kata Opo pelan, saat ditemuinya, Minggu 28 Desember 2025. “Tapi saya tetap fokus ke ikan bolobe. Walaupun hasilnya kecil, tapi lancar.”

Ikan julung yang dibikin ikan garam lalu dijemur hingga kering. Foto: Risto/Kadera.id

Di pekarangan rumahnya—rumah yang berdiri dari hasil jualan ikan bolobe—sekitar dua meter dari tempat menjemur ikan, Opo merebahkan tubuh sejenak dari terik matahari. Di sela istirahat itu, ia bercerita tentang hidup dan pilihan.

Baginya, fokus adalah kunci dalam menjalani pekerjaan apa pun: bertani, menjadi buruh bangunan, pengusaha, atau nelayan. Prinsip itu ia pegang teguh selama bertahun-tahun hidup di Desa Pencuran, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara.

Aktivitas menjaring ikan bukan sekadar untuk mengisi perut keluarga. Dari laut, ia membangun rumah, dan dari laut pula ia menyekolahkan anaknya yang kini duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Selain untuk kebutuhan makan sehari-hari, hasil melaut juga untuk bangun rumah dan sekolah anak,” tuturnya.

Lelaki yang bermukim di Dusun Haganina itu menggantungkan hasil tangkapannya pada kerja keras. Setiap hari, ia menyisir pesisir pantai kampung-kampung tetangga—Pantai Desa Bota, Desa Talo, hingga Pulau Sehu.

Sejak pagi hingga matahari beranjak pulang, laut menjadi ruang penghidupan. Namun tak selalu ramah. Ada hari-hari ketika ikan yang diharapkan tak kunjung muncul ke permukaan, dan Opo pulang hanya membawa lelah yang menempel di tubuhnya.

“Kalau bolobe naik bagus, satu hari bisa dapat enam sampai sepuluh kilo untuk ikan garam. Tapi kadang sedikit sekali, bahkan kosong. Semua tergantung rezeki,” katanya.

Cuaca menjadi penentu. Jika langit tak bersahabat, ikan hasil tangkapan langsung dijual segar. Namun jika matahari bersinar cerah, semua diolah menjadi ikan garam. Harga ikan garam bolobe biasanya dijual Rp60.000 per kilogram. Ketika hasil melimpah namun pembeli tak kunjung datang, Opo tak tinggal diam. Ia menyalakan perahu ketinting miliknya, menyeberang ke desa tetangga hingga ke ibu kota kabupaten, Bobong.

“Kalau di kampung tidak laku, saya harus jual ke kampung sebelah atau ke Bobong,” ujarnya.

Warisan Melaut 

Pengalaman melaut Opo bukan datang tiba-tiba. Ia diwariskan. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, sang ayah kerap mengajaknya menjaring ikan sepulang sekolah. Pelajaran dari laut itu terus ia tekuni hingga kini—lebih dari dua puluh tahun lamanya.

“Dari orang tua saya belajar. Saya jalani sampai sekarang. Tidak kenal lelah, setiap hari pergi melaut, walaupun sendirian,” tuturnya.

Perahu kayu milik Opo yang sering digunakan melaut, menjaring ikan julung. Foto: Risto/Kadera.id

Siang itu, di bawah balutan cahaya matahari, wajah Opo memantulkan tekad yang keras. Hidup di laut menuntut kekuatan—lahir dan batin. Di tengah gelombang yang kadang bersahabat, kadang ganas, ia terus menaruh harapan dan doa: semoga laut, seperti hari ini, selalu memberi jalan bagi hidup yang lebih baik.