PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ternate mencatat beban puncak listrik di Kota Ternate saat ini mencapai sekitar 40 megawatt (MW), dengan total daya mampu pembangkit sebesar 66 MW.
Konsumsi listrik tertinggi, kata pihak PLN, biasanya terjadi menjelang dan selama bulan Ramadan. Karena itu, untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik tersebut, PLN melakukan pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) sebelum Ramadan 2026. Pemeliharaan ini berdampak pada pemadaman listrik terencana yang terjadi pada 17–18 Januari 2026.
Alnaz Zeini Abdillah, Humas PT PLN UP3 Ternate, menjelaskan pemadaman tersebut sudah diinformasikan sebelumnya kepada masyarakat melalui media sosial dan pemberitaan media massa. Namun, ia mengakui bahwa gangguan listrik akibat kejadian tak terduga, seperti tumbangnya jaringan pada 15 Januari 2026, tidak bisa disampaikan lebih awal karena berada di luar perencanaan.
“Pemadaman pada 17–18 Januari memang terencana karena ada pemeliharaan PLTMG. Kami melakukan instalasi dan pembaruan perangkat lunak agar tidak terjadi gangguan tarikan kabel seperti tahun lalu, yang bisa menyebabkan pemadaman hingga tujuh jam,” kata Alnaz saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menegaskan, pemeliharaan tersebut merupakan langkah antisipatif guna menjamin keandalan pasokan listrik selama Ramadan 2026, periode dengan konsumsi listrik tertinggi di Ternate.
“Daya mampu pembangkit kita saat ini 66 MW. Untuk hari ini, beban puncak diperkirakan 40,57 MW, sehingga masih ada cadangan sekitar 18,53 MW. Secara sistem, kondisi ini masih aman,” jelasnya.
Meski demikian, PLN berupaya meminimalkan pemadaman listrik karena selain berdampak pada aktivitas masyarakat, juga berpengaruh terhadap penjualan listrik. Terkait data gangguan listrik per kelurahan, Alnaz menyebut pihaknya belum dapat mempublikasikannya.
“Prinsipnya, setiap ada gangguan pasti kami sampaikan. Namun, untuk data detailnya belum bisa kami bagikan,” ujarnya.
Sementara itu, warga Kelurahan Kastela, Gunawan, menyayangkan pemadaman listrik yang berlangsung antara empat hingga tujuh jam dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, durasi pemadaman yang melebihi dua jam sangat berdampak pada sektor pertanian hidroponik di wilayah tersebut.
“Tanaman selada tidak bisa bertahan lama di pipa saat listrik padam karena aliran air terhenti. Kondisi ini bisa menyebabkan gagal panen dan memaksa petani mencari cara tambahan untuk menyiasatinya,” kata Gunawan.
Ia berharap pemadaman listrik berkepanjangan tidak kembali terjadi karena berisiko merugikan masyarakat, khususnya pelaku pertanian.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.