Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (FIB Unkhair) menggelar pemaparan visi, misi, dan program kerja bakal calon dekan periode 2026–2030. Kegiatan ini berlangsung di Aula FIB, Kampus II Unkhair, Ternate, Kamis, 5 Februari 2026.
Sebanyak tiga bakal calon dekan tampil memaparkan gagasan kepemimpinan mereka, yakni Nurain Jalaluddin, S.S., M.A., Ismail Maulud, S.S., M.Hum., dan Dr. Jusan Hi. Yusuf, M.Si.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Unkhair, Dr. Hasan Hamid, M.Si., mengatakan ketiga calon menyampaikan visi yang berorientasi pada penguatan mutu akademik, tata kelola fakultas, pengembangan riset dan pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan daya saing FIB Unkhair di tingkat nasional dan internasional berbasis kepulauan dan kemajemukan.
“Saya mengapresiasi panitia penjaringan calon dekan karena kegiatan ini terlaksana secara tertib, transparan, dan sesuai dengan statuta universitas,” ujar Hasan.
Ia menegaskan proses penjaringan dilaksanakan secara akuntabel dan demokratis. Menurutnya, pemaparan visi dan program kerja menjadi ruang strategis bagi calon dekan untuk menyelaraskan gagasan kepemimpinan dengan Rencana Strategis Unkhair serta kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), terutama dalam pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU).
Hasan juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap ketepatan waktu studi mahasiswa, peningkatan kualitas akademik, serta penguatan pendapatan non-UKT sebagai bagian dari kinerja kelembagaan.
Dekan FIB Unkhair, Dra. Nurprihatina Hasan, M.Hum., menilai pemaparan program kerja calon dekan merupakan forum akademik penting bagi sivitas fakultas untuk mencermati arah pengembangan FIB ke depan.
Ia menyebutkan, FIB Unkhair mengelola lima program studi dengan karakteristik keilmuan yang berbeda dan berada di bawah tiga lembaga akreditasi mandiri. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut kepemimpinan yang memahami regulasi nasional serta sistem penjaminan mutu berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Nurain Jalaluddin mengusung visi menjadikan FIB Unkhair unggul dan berdampak dalam pengembangan kebudayaan kawasan Timur Indonesia berbasis kepulauan dan kemajemukan. Ia menilai lima program studi, yakni Bahasa, Sastra, Sejarah, Antropologi, dan Kepariwisataan, merupakan representasi kekuatan kebudayaan daerah yang harus dikelola secara strategis dan berkelanjutan.
Menurutnya, keunggulan fakultas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga kualitas sumber daya manusia, tata kelola kelembagaan, serta kontribusi lulusan bagi masyarakat melalui riset dan pengabdian yang relevan dengan kebutuhan sosial budaya Maluku Utara.
Sementara itu, Ismail Maulud mengusung visi membangun FIB yang unggul, mandiri, dan berdaya saing global dalam pengembangan kebudayaan berbasis kepulauan serta menjadi mitra strategis industri. Untuk mewujudkan visi tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan sumber daya dosen, percepatan pengusulan guru besar, peningkatan publikasi ilmiah bereputasi, serta pengembangan riset kolaboratif dan penguatan branding fakultas.
“Saya juga mendorong penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran, termasuk laboratorium seni pertunjukan,” ujarnya.
Ketua Panitia Penjaringan Calon Dekan FIB Unkhair, Jainul Yusup, menambahkan bahwa proses penjaringan telah berlangsung hampir dua bulan sesuai surat keputusan rektor dan statuta universitas.
“Dari lima pendaftar yang lolos seleksi administrasi, panitia menetapkan tiga calon untuk mengikuti tahap pemaparan visi dan misi,” jelasnya.
Selanjutnya, hasil pemaparan akan dilaporkan kepada Senat FIB untuk dibuatkan berita acara, kemudian diteruskan kepada Rektor Unkhair sebagai bahan pertimbangan penetapan dekan terpilih.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.