DI DPR, 20 Januari 2026, rambut menjadi tema. Yang mengetahui beritaya tak perlu kaget saat orang-orang penting terlibat dalam pembicaraan yang serius. Rambut telah menjadi masalah yang pelik di Indonesia! Sumber kejadian di Jambi. Guru yang ingin mengutamakan peraturan mengenai rambut menghadapi masalah. Murid yang melakukan pelanggaran. Guru bertindak tapi murid melawan menggunakan kata-kata. Akhirnya. rambut memicu gegeran! Pada situasi tersulit setelah menjadi tersangka, guru mendatangi gedung parlemen di Jakarta, berbagi cerita dan derita merujuk rambut.

Kejadian yang telah berlalu. Guru itu mengalami hari-hari yang buruk, berpuncak sebagai tersangka gara-gara masalah rambut dan penertiban murid. Akibatnya, ia dibawa ke pihak polisi. Debat-debat terjadi berkepentingan mengurai perkara, tokoh, hukum, dan pendidikan. Kita mungkin tak pernah meramalkan rambut menimbulkan pergolakan yang “tragis” dalam pendidikan. Jadi, rambut tak sekadar rambut saat terjadi adu pengisahan dan tuntutan yang kebablasan. Kita bukan lagi memasalahkan rambut yang indah atau berkemilau. Rambut justru mencipta kerumitan tafsir, bermula dari sekolah dan berakhir di DPR.

Kita gampang abai rambut saat Indonesia bergolak gara-gara politik dan korupsi. Rambut senantiasa adalah iklan dengan segala imajinasi kecantikan, kerapian, kelembutan, dan keanggunan. Di luar iklan, rambut adalah bisnis besar menggunakan istilah asing: barber shop. Rambut pun politis saat kita melihat elite dalam beragam tampilan rambut saat acara-acara resmi dan santai. Pada suatu masa, kita yang terbiasa melihat rambut Joko Widodo. Kini, keseringan melihat tokoh itu bertopi, yang mengubah kebiasaan mata-publik melihat rambut, selama sepuluh tahun.

Rambut memiliki beragam referensi sebelum kita prihatin atas perkara rambut di DPR. Kita mulai dengan menghadirkan Pablo Neruda. Yang mahir dalam menggubah sastra, mendapat pemuliaan dalam arus revolusi di Amerika Latin. Pada hasrat yang berbeda, Pablo Neruda pun mempersembahkan puisi-puisi bergelimang asmara.

Godaan yang diungkapkan Pablo Neruda: Tak pernah cukup waktu aku merayakan rambutmu/ mesti kuhitung dan kusanjung sehelai demi sehelai/ Jika pecinta lain mengangankan dua mata indahmu/ aku cuma ingin jadi penata rambutmu yang tak lalai. Ia moncer dengan raihan Nobel Sastra (1971). Di suguhan puisi, ia tak sungkan mengajak pembaca terpikat kecantikan dan keindahan yang ditentukan rambut.

Pecayalah, ia tulus memuja. Pembaca diajak bermufakat: Jika kau lupa jalan atau pintu masuk ke rambutmu/ ingatlah aku, jangan lupa bahwa aku mencintaimu/ Jangan biarkan aku tersesat sendiri di rimbunan itu. Kita terjebak asmara. Di hadapan buku yang berjudul 100 Soneta Cinta (2022) milik Pablo Neruda, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Aan Mansyur, kita memilih sekadar pembaca tanpa ingin bergerak jauh dalam pergolakan asmara. Maka, kita memastikan rambut adalah tema yang besar bagi Pablo Neruda saat memuja perempuan.

Di khasanah sastra Prancis, rambut pun perkara yang penting. Kita mengetahuinya saat membaca novel yang berjudul The Lover (2004) gubahan Marguerite Duras. Ia mencipta tokoh gadis yang gandrung bertopi dan mengartikan rambut. Gadis itu mengerti adab Eropa tapi kebiasaannya mengurusi rambut dan topi terjadi di Asia, yang berbarengan Prancis membesarkan kolonialisme.

Pengisahan biografis si gadis: “Sejak aku punya topi, aku berhenti menata rambutku, sehingga aku bisa memakai topi. Beberapa waktu lamanya kusisir rambutku ke belakang untuk membuatnya terlihat datar agar orang-orang tak bisa melihatnya. Setiap malam kusisir dan kukepang rambut itu sebelum aku tidur seperti yang diajarkan ibu. Rambutku lebat, halus, agak susah ditata, lembaran-lembaran berwarna tembaga yang terjulur hingga ke pinggangku. Orang-orang sering berkata rambutku adalah bagian yang paling menarik. Bagiku itu sama saja mengatakan bahwa aku tidak menarik. Kupotong rambutku ketika usiaku dua puluh tiga tahun di Paris.

Begitu dramatis.” Tokoh yang melakukan perlawanan atas tatapan dan penilaian orang lain. Ia mengerti rambut tanpa mau dijadikan sasaran ilusi atas nama kecantikan. Pada rambut, ia menilik diri dan “membantah” definisi yang diciptakan publik.

Kita sudah memungut teks sastra dari Amerika Latin dan Prancis. Rambut yang disajikan mengisahkan asmara, kecantikan, adab, opini, dan lain-lain. Kita beralih membaca rambut melalui puisi yang gubahan orang-orang Indonesia.

Pada 1980, Zawawi Imron menggubah puisi yang berjudul “Rambut”. Pembaca tak usah terlalu mengarahkan rambut ke sosok. Ia sedang memberi pengertian-pengertian yang sebenarnya melampaui rambut di kepala. Pengarang asal Madura itu mengungkapkan: Seutas rambut dalam sajak, kata orang, jangan diartikan seutas/ rambut. Tapi seluruh rambutku yang tumbuh subur di sabana/ tiba-tiba mati setelah diserbu sekawanan kuda jalang. Sabana itu/ telah jadi rawa sekarang. Tinggal seutas rambut yang tumbuh/ membesar menjadi sebatang pohon dengan buah-buahnya yang/ kuning ranum. Buah itu ingin sekali aku menikmatinya, tapi ngeri/ aku memakannya.

Ia mengingatkan kita atas nasib alam. Rambut itu ibarat dari kesuburan. Alam yang telah berubah oleh penghancuran dan penggundulan. Rambut menjadi peringatan atas aib-aib peradaban modern. Zawawi Imron mengalihkan imajinasi pembaca, dari rambut di kepala manusia menjadi “rambut” dalam (kodrat) alam.

Kita berganti menikmati puisi berjudul “Pertanyaan Tentang Rambut yang Tak Ingin Lagi Diajukan” gubahan Hasan Aspahani. Ia menulis belasan puisi mengenai rambut.

Kita memilih satu saja. Puisi yang agak menggelitik: Kepada angin, matahari berkata, “aku kini/ sudah tidak bertanya lagi tentang rambut.”// Angin menduga mungkin sebabnya/ matahari memperhatikan setiap pagi ada/ perempuan yang suka mengeringkan rambutnya di/ sebuah beranda sambil membaca entah buku apa. Kita mengandaikan melihat peristiwa: mengesankan hasrat perempuan yang merawat rambut dan menikmati bacaan. Kejadian itu puitis.

Kita cukup terkesima mengikuti alur buatan Hasan Aspahani: Kepada pohon bunga yang ia tak tahu namanya/ angin berkata, “seperti matahari tadinya aku pernah/ ingin bertanya, apakah gunanya rambut bagi manusia.

Puisi yang menghasilkan perkara-perkara “sepele” tapi meminta pengakuan dan pembuktian. Rambut penting bagi manusia meski tak lekas memberi penjelasan dan pengisahan.
Penulisan rambut dalam puisi dan novel berbeda dengan berita-berita yang berdatangan mengenai rambut, murid, guru, polisi, dan DPR. Kita menghadapi tema yang hampir absurd. Urusan rambut dalam pendidikan mengacu peraturan telah diamburadulkan oleh kemarahan dan pelaporan ke polisi.

Berita itu terbaca “imajinatif” ketimbang kita terlena dalam bujukan teks sastra.
Kita paham berita itu berdasarkan fakta, bukan racikan imajinasi. Yang membingungkan kita justru gara-gara rambut menimbulkan kerepotan dan keributan. Rambut itu menempatkan guru sebagai “terhukum”. Kita sulit mengelak dari opini-opini yang belum selesai dan mudah terjebak perbantahan. Rambut sudah melampaui siasat kita menikmati gubahan sastra. Rambut itu akhirnya petaka.


*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia