Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesoirie, Kota Ternate, Maluku Utara, masih menanggung beban utang sekitar Rp40 miliar. Utang tersebut merupakan akumulasi sejak 2022 hingga 2025, termasuk utang berjalan.

dr. Alwiya Assagaf, Direktur RSUD Chasan Boesoirie, mengatakan sebagian kewajiban pada tahun-tahun sebelumnya dibayar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun, pada 2026, manajemen tidak lagi mengandalkan APBD dan berencana melunasi utang melalui dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Dan kita rencanakan [penyelesaian] itu berjalan dalam tiga tahun, mulai 2026 sampai 2028. Itu bisa diselesaikan lewat dana BLUD, termasuk dengan utang berjalan 2024 dan 2025,” kata Alwiya kepada Kadera di ruang kerjanya, Kamis, 19 Februari 2026.

Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya memang tersedia anggaran, tetapi tidak seluruhnya dapat digunakan untuk kebutuhan operasional karena sebagian dialihkan untuk membayar utang lama. Anggaran perbekalan farmasi yang mencapai Rp30 miliar, misalnya, turut terserap untuk kewajiban tersebut.

“Anggaran untuk pos perbekalan farmasi Rp30 miliar itu bisa kita selesaikan untuk menyelesaikan anggaran satu tahun perbekalan. Tapi karena ada pembayaran utang tahun sebelumnya, maka anggaran ini dipakai,” ungkapnya.

Meski menghadapi tekanan keuangan, manajemen rumah sakit menyatakan tetap berupaya meningkatkan pelayanan. Tahun ini, RSUD Chasan Boesoirie juga menargetkan pengoperasian gedung spesialis jantung.

Alwiya berharap layanan rumah sakit daerah tersebut dapat menjangkau kebutuhan masyarakat Maluku Utara tanpa harus dirujuk ke luar daerah. “Kita berharap juga bisa menjangkau masyarakat Maluku Utara yang punya kebutuhan terkait dengan sakitnya. Kita bisa selesaikan di RSUD ini,” ujarnya.