RAMADAN adalah ingatan-ingatan. Bagi yang telah mengalami beberapa Ramadan, ingatan-ingatan itu membuatnya memiliki bentangan cerita, yang kelak bisa menjadi perbandingan.

Kini, Ramadan mengingatkan Joko Pinurbo. Ia telah pamitan dari dunia tapi anehnya selalu teringat saat Ramadan tiba. Ia bukan ulama kondang atau pejabat yang pamer kekuasaan. Sejak remaja, ia hadir sebagai pembaca sastra, yang selanjutnya tekun menggubah puisi.

Kita merasa memiliki Joko Pinurbo dalam pemaknaan Ramadan. Ia memang tak menunaikan ibadah-ibadah dalam Islam. Sosok yang beragama Katolik. Namun, ia mengerti dan mengisahkan Ramadan. Sajian puisi-puisinya justru membuat kita bergairah mengartikan (ulang) segala hal berkaitan puasa.

Di puisi berjudul “Ramadan di Rantau”, kita diajak bernostalgia. Jarak dan suasana yang berbeda menguak masa lalu: Terkenang tarawih dan amin/ yang mengalun merdu// Terkenang sandal yang, sialan,/ tertukar sebelah// Terkenang lapar yang patuh/ dididik waktu// Terkenang senja digulung azan/ di atas lembah.

Kita mengingat pengalaman orang yang berpuasa. Pastinya lapar dirasakan atas nama ibadah. Pada saat perut sudah terisi, orang menunaikan ibadah yang berlatar malam: memberi kegembiraan dan ketenteraman meski mengalami peristiwa-peristiwa yang menggelikan.

Maka, puisi bertugas mengawetkan kenangan. Kita terkesan dengan pembahasaan “lapar yang patuh dididik waktu.” Ramadan memang khas dengan lapar, sejak pagi sampai senja.

Pembaca dibikin terharu saat menikmati puisi yang berjudul “Lebaran Ibu”. Pembaca masih menemukan kesan-kesan Ramadan. Joko Pinurbo menulis: Pada bulan Ramadan, ibuku berada/ di dapur sejak siang. Bertanya kepada seisi/ rumah ingin berbuka dengan apa hari itu./ Sibuk sekali hingga sore hari. Sejam sebelum/ azan magrib berkumandang, meja telah penuh/ dengan nasi, sayur, lauk dan minuman segar/ serta kudapan. Ketika bedug datang, ia/ sibuk memastikan kami semua bersantap,/ memandangi kami satu per satu hingga lupa/ mengambil piringnya, 10% memikirkan/ dirinya sendiri, 90% memikirkan diri kami.

Insaflah bahwa kita diingatkan tentang usaha mengadakan makanan dalam berbuka puasa. Ibu sebagai sosok yang terpenting. Ia bertanggung jawab atas “kelaparan” dan pemaknaan makanan bagi keluarga.

Yang pernah menjadi bocah memiliki pengalaman yang hampir sama. Berpuasa sambil bermain banyak imajinasi makan dan minum. Kita sadar bahwa Ramadan berarti hari-hari yang digoda lapar dan haus. Pada saat berpuasa, kita dalam jeratan imajinasi yang memunculkan makanan dan minuman. Di luar Ramadan, makan dan minum bisa dilakukan pagi, siang, sore, dan malam. Namun, kemauan melaksanakan ibadah membuat bocah mengartikan lapar dan haus demi iman.

Ia memang berpikiran makan dan minum tapi mengerti kaidah-kaidah yang berlaku. Di pergaulan, anak-anak justru terbiasa berbagi cerita atau berdebat tema makan dan minum saat berpuasa. Konon, tema itu menjadi ujian sekaligus hiburan.

Kini, Ramadan pun mengingatkan Emha Ainun Nadjib. Mengapa? Ia bukan penulis “kitab puasa” tapi memiliki perhatian yang besar dalam menilik peradaban manusia melalui makan dan minum. Pada bulan Ramadan, makan dan minum dimengerti dalam pengendalian dan “pembatasan”. Ia memang tak sedang berkhotbah mengenai Ramadan tapi mengisahkan makan dan minum, yang patut terbaca (lagi) mumpung kita mengalami hari-hari berpuasa.

Pada 1984, ia menggubah tujuh puisi yang bersifat serial. Semua dijuduli “Makan dan Minum”, pembedanya adalah penomoran. Puisi yang bukan dimaksudkan pemaknaan Ramadan tapi bakal mengusik kesadaran tentang manusia, agama, peradaban, dan lain-lain.

Emha Ainun Nadjib seolah bermonolog: Selalu jiwa saya bertanya kenapa tiap hari/ orang mesti makan dan minum// Saya bilang itu merupakan syarat agar mereka/ bisa berak dan kencing. Kita tersentak membaca tujuan dari kebiasaan harian. Makan dan minum itu rutin, hasilnya berak dan kencing. Emha Ainun Nadjib sedang berkelakar tapi memberi kritik yang keras.

Kita menganggap keharusan orang untuk makan dan minum. Kebiasaan yang diledek saat terjadi perlakuan berlebihan. Emha Ainun Nadjib menulis: Kenapa makanan dan minuman dibikin bermacam-macam,/ bertingkat-tingkat, serta berhias-hias/ Saya bilang karena mereka tak bisa tentukan/ kualitas berak, hiasan tinja, atau bau harum kencing.

Kita mengerti atas permainan kata. Emha Ainun Nadjib tampak “menghina” bila orang-orang makan dan minum tapi memiliki tujuan hidup yang terpenting adalah berak dan kencing. Padahal, makan dan minum untuk kemuliaan manusia, bukan untuk menjadi hina, bebal, dan buruk.

Di hadapan puisi-puisi, kita merasa sedang diajak berfilsafat. Kita yang membaca saat Ramadan menyadari puisi menjadi selingan renungan sambil menanggungkan lapar dan jeda dari pengajian-pengajian.

Emha Ainun Nadjib mengungkapkan: Kenapa orang (disangkanya bisa) membuang/ tetangga, sahabat, Tuhan – demi membela/ ketakutanya akan tak makan dan minum// Baiklah, baiklah, kata saya, saya tahu/ sebenarnya pertanyaanmu itu lahir justru/ dari jawaban yang sejak semula sudah engkau punyai/ Tapi katakanlah terus terang sesungguhnya/ apa yang memaksamu demikian meluap bertanya/ tentang hal yang begitu sepele. Artinya, makan dan minum itu penting sekaligus sepele. Kita diajak insaf mengenai tindakan-tindakan kebablasan demi mendapatkan makan dan minum tapi dampaknya abai iman, etika, dan hukum. Makan dan minum justru membuat biadab.

Pada hari-hari berpuasa, kita mengendalikan diri agar tidak serakah. Kita menilai (ulang) diri saat telah terjerat selera dan selalu berpikiran mengonsumi beragam makanan dan minuman seperti yang diumbar di media sosial. Makan dan minum tetap penting tapi lapar dan haus mengajarkan kebaikan, keikhlasan, kebajikan, dan lain-lain.

Kita mendapat seruan lagi dari Emha Ainun Nadjib: Ia memprotes kenapa makan dan minum dijadikan tema utama dari sejarah manusia/ Untuk mengisi piring dan cangkir diselenggarakan perang/ perebutan dog-a-dog, penjajahan, kolonialisme/ imperialisme, kerja paksa, penindasan, perbudakan/ baik yang berangasan maupun yang sopan.

Di sejarah peradaban manusia, makan dan minum sering bercerita keburukan dan kebiadaban. Sejarah biasa terbaca hitam jika dipicu besarnya nafsu makan dan minum. Di Indonesia, sejarah kolonialisme itu merujuk makan dan minum, yang mengandung kesengsaraan. Orang-orang asing berdatangan untuk menuntaskan lapar dan haus. Kemenangan mereka mencipta pesta. Namun, kekalahan kaum bumiputra bercerita kemiskinan dan penderitaan.

Kita menanggungkan lapar dan haus selama berpuasa tapi mendapat ajakan renungan-renungan merujuk puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo dan Emha Ainun Nadjib. Hari-hari bersama puisi kadang menjadi penggenapan dari pengalaman yang religius dan amal kemanusiaan.

Kita pun terpicu membuka lembaran sejarah. Pada situasi mutakhir, kita melihat dunia masih dijerat tema yang sama sejak ribuan tahun lalu: makan dan minum. Dunia tampak berantakan demi sengketa pemaknaan makan dan minum. Kita pun sadar, makan dan minum adalah tema yang abadi.


*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais dan kritikus sastra Indonesia