Pada suatu masa, Lebaran berarti hiburan untuk jutaan orang di seantero Indonesia. Hiburan itu film. Kita mengingat televisi yang menjadi pusat keluarga atau kebersamaan. Di depan televisi, mereka terbiasa mendapat tontonan rutin saat Lebaran: film-film yang bertokohkan Dono-Kasino-Indro dan Rhoma Irama.
Yang ingin tertawa mengaku terhibur oleh kelucuan Dono-Kasino-Indro, yang selalu disempurnakan dengan kehadiran para perempuan seksi. Yang ingin mengerti lelaki ampuh biasanya kagum dengan Rhoma Irama yang tampil dalam beberapa film. Sosok yang sering ditampilkan beriman, baik, berani, bertanggung jawab, dan gagah.
Ingatlah, Lebaran adalah film-film lama yang diumbar televisi untuk pengawetan hiburan yang mengandung masalah asmara, dakwah, perkotaan, keluarga, dan lain-lain.
Semua bisa terabaikan saat duduk di kursi yang berjajar di gedung bioskop untuk menonton film baru berjudul Na Willa. Pada 19 Maret 2026, keramaian terjadi di rumah-rumah dan pelbagai tempat wisata. Pilihan menonton film bermaksud mendapat hiburan yang ringan ketimbang lelah dan bingung mengartikan Lebaran.
Aneh, jumlah penonton sedikit. Di dua studio sebelah, yang ramai adalah film-film horor. Bayangkan orang-orang mengaku merayakan Lebaran tapi menonton film Indonesia, yang masih dikuasai jenis horor. Apakah hubungan Lebaran dan horor? Kita maklum selama bertahun-tahun bahwa film laris Indonesia sering horor. Yang menonton Na Willa sedikit. Mereka pun belum tentu sudah membaca buku yang digubah Reda Gaudiamo. Film memang bersumber dari buku.
Yang tampak adalah beberapa anak yang duduk sambil menikmati makanan dan minuman. Apakah film berjudul Na Willa itu film untuk anak-anak? Ada yang malah bercanda bahwa Na Willa adalah film untuk ibu-ibu. Candaan yang boleh mendapat anggukan kepala. Para penonton memang diarahkan memberi perhatian kepada tokoh bocah bernama Na Willa dan teman-temannya.
Namun, penonton sadar bila terjadi pengistimewaan dalam pengisahan ibunya Na Willa. Yang dimaksud adalah ibu yang berperan dalam pengasuhan anak. Maka, yang lumrah, kita menyebutnya “film keluarga”.
Penonton tidak perlu terlalu ingat isi buku mendingan menikmati film sebagai garapan yang “berbeda”. Yang terpenting tokohnya tetap Na Willa. Bocah yang suka bermain tapi “terjebak” dalam gandrung buku. Film yang tampaknya sengaja menebar propaganda buku kepada anak-anak. Artinya, film itu sepatutnya mendapat dukungan besar dari beberapa kementerian, Perpustakaan Nasional, atau penerbit.
Sejak mula, buku sangat diperhatikan dalam hari-hari Na Willa. Bocah yang beruntung mendapat anugerah berupa buku-buku, yang paling banyak buku berbahasa Inggris. Konon, Na Willa hidup di Surabaya, masa 1960-an.
Kita sedikit mengutip dari buku yang berjudul Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), yang membenarkan Na Willa “terjebak” buku: “Biasanya Pak pergi tiga sampai empat hari. Paling lama seminggu. Pulangnya, Pak membawa oleh-oleh. Buatku, Pak masih membawa buku cerita yang gambarnya bagus-bagus, tapi tulisannya tidak aku mengerti karena dalam bahasa Inggris.
Jadi harus tunggu Mak dan Pak membacakannya. Sebetulnya, aku lebih suka Pak pulang membawa mainan. Tapi, Pak selalu bawa buku, buku, dan buku. Jangan-jangan, di Jakarta cuma ada toko buku. Tidak ada toko mainan.” Bocah wajar suka mainan. Namun, buku sudah sengaja “berkuasa” di rumah yang dihuni keluarga Na Willa.
Na Willa menjadi istimewa gara-gara buku. Ia bergairah belajar membaca untuk mengetahui beragam hal. Bocah yang memiliki bapak dan ibu yang bertanggung jawab dalam pengasuhan. Para penonton mulai menyadari bahwa film condong memasalahkan ibu. Kita bisa mengusulkan film itu menjadi tontonan untuk PKK dan Dharma Wanita.
Yang bisa mendapat perhatian lagi adalah minuman. Anak-anak dalam film sangat suka menikmati minuman dalam kemasan botol. Kesegaran yang diperoleh dari minuman yang berwarna kuning dalam kondisi dingin. Kita tidak ingin protes jika adegan menikmati minuman bermerek itu menonjol ketimbang anak-anak minum air putih (bening). Kita belum berurusan pola konsumsi makan-minum bagi anak-anak masa 1960-an. Penonton yang suka mencibir mungkin menuduh anak-anak dalam film digunakan sebagai aktor iklan, yang mengajarkan kenikmatan-kenikmatan ilusif.
Apakah salah pamer minuman dalam botol di tangan anak-anak? Kita sedang menikmati film, belum saatnya berdebat. Yang pasti film itu memuliakan buku-buku, tidak lupa menyajikan yang komersial. Di rumah, ada buku-buku. Di sekolah yang disebut TK Djuwita, ada buku-buku. Na Willa yang kadang iku ke pasar, menemukan adanya toko buku yang bernama Kedjora. Yang tidak boleh tercecer minta perhatian adalah cara anak-anak bergaul. Kita diajak kembali ke masa anak-anak main bareng di jalan dan tanah lapang. Anak-anak yang bergembira, merayakan imajinasi dan menikmati hari-hari persahabatan.
Kita merenung sejenak mengenai Na Willa dan buku-buku. Bocah yang disituasikan agar cepat menjadi pembaca. Para penonton meyaksikan keluarga buku. Di kamar Na Willa, ada banyak buku. Ibunya berperan membacakan buku, berharap Na Willa segera dapat membaca buku-buku yang sering dibelikan bapaknya. Buku yang mula-mula mampu dibacanya berbahasa Inggris atau Indonesia?
Keluarga Na Willa berada dalam peta Indonesia tapi mengesankan keluarga yang sadar arus keaksaraan global. Kita mengutip dari buku susunan Mortimer Adler dan Charles van Doren (2011) mengenai situasi Amerika Serikat masa 1970-an: “Yang pertama adalah upaya terus-menerus pemerintah untuk mendidik semua warganya. Artinya, tentu saja, membuat mereka semua paling sedikit menjadi melek huruf.
Upaya ini, yang didukung warga Amerika Serikat hampir sejak awal berdirinya negara dan yang merupakan dasar kehidupan yang demokratis, telah membuahkan hasil yang mengagumkan. Hampir seluruh warga Amerika Serikat menjadi melek huruf, lebih dulu dibandingkan dengan warga negara-negara mana pun di dunia…”
Kebijakan itu menyasar peran keluarga dan sekolah. Yang diingatkan:
“Melakukan sesuatu yang terlaly cepat biasanya merugikan diri sendiri. Seorang anak yang belum siap untuk membaca akan merasa frustrasi jika ada upaya-upaya untuk mengajarinya, dan ia mungkin membawa pengalaman yang tidak menyenangkan ke masa sekolahnya, bahkan dalam kehidupan dewasanya.” Namun, yang menonton film Na Willa mengetahui bahwa bocah itu sudah hidup bersama buku-buku sebelum menjadi murid di TK. Jadi, ia dalam keinginan dan kegembiraan, bukan dikutuk frustrasi.
Di situ, bapak berperan sebagai pihak yang mendatangkan buku-buku dalam rumah. Anggaran untuk membeli tentu banyak. Ibunya berperan sebagai yang membacakan buku dan mengajari Na Willa agar lancer membaca. Kita berhak mengecap itu keluarga teladan di Indonesia pada babak awal Soeharto berkuasa. Padahal, keluarga Soeharto tidak menetapkan diri sebagai “keluarga buku”.
Di studio yang kursi-kursinya diduduki anak-anak, kita jarang mendengar mereka teriak atau tertawa heboh. Anak-anak memerlukan kesabaran untuk sanggup menonton film, sejak menit awal sampai akhir. Yang gagal mengikuti cerita yang cukup lambat bakal mudah tertidur. Kita masih meragu bila model garapan film Na Willa mengistimewakan anak-anak sebagai penonton. Film memang tepat bila dihayati oleh ibu-ibu.
Kesan yang diperoleh dari film adalah gagasan anak-anak. Yang rampung menonton film bisa membuka buku berjudul Selamatkan Anak-Anak garapan Neil Postman. Di buku, kita bertualang gagasan anak dari beberapa abad di Barat. Yang menjadi peringatan adalah pembentukan gagasan anak-anak melalui bacaan, sebelum hadirnya pesona televisi. Beruntungnya hari-hari Na Willa bersama buku dan radio, belum televisi. Neil Postman mengungkapkan tentang biografi anak yang ditentukan tatakrama bahasa, kemampuan menikmati bacaan, dan menanggapi kebijakan-kebijakan kaum dewasa.
Di film, para penonton menyadari bahwa Na Willa adalah anak yang cakap dalam memasuki alam kebahasaan kaum dewasa meski gampang salah tafsir dan membuat kejutan. Na Willa memang condong bergembira saat bergaul bersama teman-teman yang beda kelas sosial, agama, dan kecerdasan. Namun, Na Willa terduga bakal duluan menyadari batas-batas kehidupan anak dan dewasa.
*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.