Kolaborasi lintas komunitas antara Pulau Tidore dan Ternate dalam tajuk “Legendiary Chapter 01” sukses memperkuat peran anak muda di Kota Tidore Kepulauan. Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 Maret 2026 di Caffe Legend Hause ini menjadi ruang temu antara komunitas kreatif, pemerintah, dan para pelaku ekonomi kreatif.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Ketua Gekrafs Kota Tidore Kepulauan, Nurul Asnawia, bersama Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly. Keduanya menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.
Nurul Asnawia mengungkapkan, geliat komunitas di Tidore saat ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor ekonomi kreatif.
“Komunitas di Tidore telah menunjukkan tren positif. Ini terlihat dari peningkatan kualitas SDM yang menjadi pintu masuk dalam memahami arah pembangunan, termasuk penguatan sektor ekonomi kreatif,” ujarnya, Senin, 23 Maret 2026 malam.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif lintas sektor atau hexa-helix di Tidore berjalan cukup baik. Sinergi antara pemerintah, komunitas, media, akademisi, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
“Kolaborasi lintas sektor terus menjadi perhatian pemerintah daerah. Ini adalah kekuatan utama dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa visi pembangunan Wali Kota Tidore telah memasukkan ekonomi kreatif sebagai bagian penting dari kebijakan daerah yang harus terus dijaga implementasinya.
“Ekonomi kreatif sudah menjadi bagian dari visi besar pemerintah daerah. Ini yang terus kami kawal,” tegasnya.
Ia juga menyebut berbagai program seperti Lilin Gekrafs, rembuk komunitas, hingga penyelenggaraan event kreatif menjadi wadah strategis dalam pemberdayaan masyarakat. Tujuannya tidak lain untuk memperkuat ekonomi lokal dan memberikan dampak nyata bagi pelaku ekonomi kreatif di Tidore.
Sementara itu, Sekot Rizal Marsaoly menekankan pentingnya identitas lokal dalam pengembangan ekonomi kreatif di setiap daerah di Maluku Utara.
“Setiap daerah harus memulai dari karakter. Hari ini, Legend Dairy sudah berani menampilkan performa khas. Di Ternate ada Kamalaka. Identitas seperti ini tidak boleh dilupakan,” ujarnya.
Ia berharap komunitas di Tidore dapat memperkuat pembekalan terkait identitas lokal agar setiap penampilan dan konsep yang dihadirkan tidak terkesan campur aduk.
“Identitas harus ditonjolkan. Misalnya, orang yang ingin menikmati menu khas Tidore bisa datang ke satu kafe tertentu, sementara yang ingin menikmati musik tradisional bisa ke tempat lain. Ini harus jelas,” tambahnya.
Menurutnya, kolaborasi bukan sekadar istilah, tetapi sebuah konsep yang harus dihidupkan melalui peran bersama antara pemerintah, komunitas, media, dan akademisi.
“Kolaborasi adalah cerita tentang konsep. Sekarang bagaimana kita menghidupkan konsep hexa-helix itu dalam praktik nyata,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.