AKU dikenal, tapi jarang dipahami. Namaku disebut, wajah diingat, langkah mungkin dikenali, namun keberadaanku lebih sering ditafsir daripada didengar. Orang ramai bicara, menempatkan aku sebagai teks yang bebas dibaca tanpa pernah bertanya kepadanya. Dan aku, yang berada di tengah sorot itu, memilih diam.

Diamku bukan kebisuan. Ia adalah keputusan. Ruang yang kupilih untuk menyelamatkan sesuatu. Ketika luka datang, aku tidak berteriak. Aku menahannya. Dan kalaupun suatu hari ada subjek yang benar-benar mengerti–yang tidak memaksa, tidak menghakimi, tidak butuh validasi. Lalu, tangis itu tidak terdengar, namun mengguncang. Seperti bendungan yang lama menahan air, lalu retak oleh sentuhan kecil yang jujur.

Ini bukan perkara sepele. Cara aku diam, memahami kerja kehidupan, adalah hasil dari bagaimana aku terlempar ke dalam dunia.

Sejak kecil, aku dididik dengan politik kehidupan yang keras. Kuat, tahan, dan bertanggung jawab. Tidak boleh mengeluh. Darah boleh keluar dari tubuh, tetapi air mata tidak. Dunia digambarkan sebagai medan tempur; yang lemah akan diinjak, yang ragu akan ditinggal. Maka aku belajar menegakkan tubuh bahkan ketika batinku gemetar.

Pelan-pelan aku menyimpulkan sesuatu yang kini kutahu tidak sepenuhnya benar; mengeluh itu tanda lemah. Bercerita ialah aib. Dan itu aku menyimpan. Lebih dalam. Lebih sunyi. Kepada diriku sendiri aku berkata, “Kau kuat, kau sanggup.” Kata-kata itu menjadi mantra sekaligus penjara.

Ketika tekanan datang, itulah yang aku suka. Berpikir dan merumuskan masalah penyelesaian. Di samping itu, kadang aku pergi. Dengan sebungkus rokok, satu sudut sepi, satu lagu yang akrab dengan penderitaan. Atau ke puncak gunung yang memandang dunia dari jauh, atau ke pantai yang membiarkan ombak menampar batu. Asap rokok itu bukan gaya. Ia merupakan bahasa yang tidak sempat menjadi kata. Setiap hembusan itu keluhan yang gagal diucapkan. Setiap tarikan napas panjang adalah upaya menenangkan badai yang tak terlihat.

“Tidak apa-apa.” Kalimat itu paling sering diucapkan manusia untuk menyembunyikan sesuatu. Dan aku kerap menggunakannya. Ia seperti selimut tipis yang menutupi luka agar tidak dilihat orang. Keluarga, teman, bahkan mereka yang merasa dekat – tidak semua tahu apa yang kusimpan. Bukan karena mereka tidak layak tahu, tetapi karena aku telah terbiasa menjadi ruang dunia memilih dan memilah.

Di dalam diriku ada keterbelahan. Aku adalah subjek yang hidup, tetapi juga objek yang terus-menerus dibaca–oleh orang lain, bahkan oleh diriku sendiri. Cerita-cerita tentang perjuangan, heroisme, moral dan amoral, seringkali menjadi panggung yang melelahkan. Ia epik, tapi membosankan. Ia memuliakan, namun menyembunyikan ego. Yang menjadi selingan di tengah gencarnya serbuan hasrat, pengetahuan, dan kuasa. Yang sedemikian itu aku belajar pada dunia manusia yang terjebak dalam narasi demikian.

Hasrat bukan sekadar keinginan mengejar sesuatu yang hilang. Ia justru menciptakan realitas. Ia membentuk dunia yang kita huni. Dan aku, sebagai subjek, bukanlah sumber tunggal dari hasrat itu. Aku diketahui hasil sementara dari arus-arus yang melintas itu sendiri. Dari sini, Aku–lahir gambaran subjek yang tidak final. Aku selalu dalam proses menjadi.

Ketika Aku ingin bercerita, sering kali aku berhenti di tengah jalan. Untuk apa? Bukankah manusia juga sumber masalah? Namun jauh di dasar batinku, aku tahu bahwa aku membutuhkan satu orang. Satu saja. Yang memahami keberadaanku di dunia ini. Yang memandangku bukan sebagai peran, bukan sebagai simbol, melainkan sebagai anak dari seorang ibu yang semakin tua. Pada saat itulah, mungkin aku akan melihat ibuku pada dirinya.

Aku “yang berelasi” itu merupakan perjumpaan dengan subjek-subjek yang lain, berdasar pada kesetiaan, harapan dan cinta. Perjumpaan yang sadar dan berdialog menekankan relasi aku dan kamu yang akan membentuk kebermaknaan kita sebenarnya.

Namun tidak semua orang mampu memahami. Bukan karena kurang, tetapi manusia berjalan dengan dua kaki yang berbeda arah: satu ke kiri, satu ke kanan. Kita bergerak sambil menyeimbangkan kontradiksi. Dan setiap subjek memiliki kemampuan untuk menyembunyikan banyak hal. Aku membaca itu bukan hanya dari buku, melainkan dari pengalaman yang berulang kali membuatku terbentur.

Terbentur adalah kata yang kucintai. Dalam benturan, sesuatu terungkap. Seperti batu yang dipukul hingga memperlihatkan percikan api, hidup yang membenturku justru memperlihatkan apa yang tersembunyi. Sebaliknya pula aku “yang hadir”, dimaksudkan sebagai Aku yang sadar dan terlibat dalam dunia dan kehidupan. Aku jatuh, bangkit, kecewa, belajar. Dan keterlibatan itu, menemukan kehidupan yang tidak pernah netral.

Ia hidup seperti kopi. Kadang manis, kadang pahit. Tetapi ia tetap diminum sampai habis. Putus cinta. Drop out dari kampus. Pengkhianatan. Ayah yang tidak ada. Beban ekonomi yang menekan dada. Semua itu bukan teori. Ia nyata, berdenyut, kadang menyakitkan. Namun di sisi lain, ia melakukan riset lapangan, mengisi kegiatan seminar, berbicara di forum diskusi, berdialog lintas organisasi dan komunitas. Orang mungkin heran. Bagaimana mungkin seseorang yang memikul beban sedemikian rupa bisa terlihat tenang?

Aku bukan batu. Aku hanya memilih jalan sunyi sebagai cara berada di dunia. Aku tahu kapan harus berbicara dan kapan tidak. Jika suatu hari berbicara kepadamu, itu bukan karena terpaksa. Itu aku percaya. Tetapi jika kepercayaan itu dipatahkan oleh drama, aku akan pergi. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk menjaga sisa energi yang kumiliki.

Energi lain yang aku miliki adalah menelusuri orang-orang yang dipinggirkan oleh kekuasaan. Aku membaca perempuan dan pasar yang menghidupkan ruang kota Ternate. Aku melihat perempuan-perempuan desa di Halmahera Tengah yang kehilangan lahan, sungai tak lagi jernih, laut Teluk Weda yang tercemar dan nelayan kehilangan pekerjaan.

Juga debu jalan raya, sampah yang menumpuk, tanaman yang enggan tumbuh karena tambang nikel, hingga Desa Kulo Jaya yang kini perkebunan mereka ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, dan hasil panen di kebun sawah terakhir sejak 2019. Tak berhenti di situ, warga di Desa Kulo Jaya, Woejerana, Waleh, yang memiliki sertifikat dirampas tanpa suara. Hak milik menjelma dagangan di bawah meja, dijual ke perusahaan tambang tanpa sepengetahuan pemiliknya. Semua itu bukan sekadar data. Ia adalah wajah-wajah yang kutemui.

Dan setiap kali pulang, dalam kesendirian; aku merenung, menganalisis, dan bertanya. Bahkan di tengah keramaian, aku tetap sendirian dalam pikiranku. Menyesuaikan diri, tanpa sepenuhnya memutus relasi.

Bahwa aku bukan seperti yang kebanyakan orang kira. Aku mungkin gelap bagi sebagian orang, tetapi justru dari gelap itulah aku belajar melihat terang. Aku dan “yang lain” adalah pengetahuan tentang relasi. Dan aku menyebut “yang belum penuh”. Bukan malam dan bukan siang. Bukan langit dan bukan bumi. Aku bisa ditafsirkan, dan tafsir itu kadang meleset. Setiap hari aku kembali terbentur dengan kenyataan bahwa apa yang kita sebut diri ternyata sebagai hasil dari banyak bentukan sosial.

Namun mengetahui bahwa diri ini bagian dari bentukan sosial tidaklah cukup. Ia harus diperiksa. Cara kita berada di dunia harus dipertanyakan. Mengapa aku memilih diam? Mengapa aku takut mengeluh? Mengapa aku merasa harus selalu kuat? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan masa lalu, melainkan untuk memahami cara aku mengada.

Aku hanyalah seorang diri yang berdialog dengan penumpang-penumpang hidup di antara hitam dan putih. Jalan yang kutempuh bukan semata-mata pilihan bebas, tetapi juga respons terhadap keadaan. Kesunyian yang kupeluk bukan untuk membunuh sepi, melainkan untuk memikirkan hari-hari yang terus datang. Agar hidup tidak sekadar dijalani, sebaliknya dimengerti.

Aku adalah cinta, yang mengenal suka dan tidak suka. Dari pengalaman dan ingatan, aku belajar menjadikan luka sebagai pengetahuan. Aku mengambil ceritaku sendiri, bukan untuk dipamerkan, kebalikannya untuk menguatkan diriku. Bahwa kadang sunyi bukan berarti tenang. Ia merupakan cara tubuh bertahan. Cara jiwa mengatur ulang dirinya agar tidak hancur. Dalam sunyi itu, aku tidak benar-benar sendiri. Justru bersama dengan masalah-masalah, ia tetap bersamaku, sekaligus memaksaku berpikir dan bertanya.

Mungkin inilah aku: bukan pahlawan. Hanya subjek yang sedang mencari, tanpa perlu dipahami. Aku yang terus terbentur itu agar tidak membeku. Yang itu mengandung keadaan, juga atas dasar kesadaran membaca di tengah dunia kehidupan aku yang tak selesai; luka, tafir, dan pergulatan menjadi.

Dan di antara segala cerita yang tak terucap, sunyi menjadi saksi bahwa aku masih hidup.[]


*Yoesran Sangaji adalah seorang yang suka membaca dan minum kopi, asal Pulau Bacan.