Salah satu psikolog, Eldin Juliani Pris menanggapi kasus pencurian kotak amal masjid yang marak terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara.

Tanggapan ini muncul setelah kembali terjadi aksi pembobolan kotak amal di masjid Nurul Insan, Kelurahan Jati, Ternate Selatan, pada Selasa, 28 Januari 2025.

Sebab bukan yang pertama, peristiwa tersebut satu dari sekian masjid yang kerap menjadi sasaran pencurian. Bahkan di masjid Nurul Insan, diketahui, sudah berulang kali terjadi tapi baru kali ini warga berhasil menciduk terduga pelaku.

Eldin mengatakan, untuk menguak penyebab kasus kriminal, termasuk pencurian kotak amal, tergantung pendekatan mana yang digunakan.

“Itu bisa diketahui dari hasil assessment (observasi, wawancara, dan tes psikologi), lalu kita bisa tindak lanjut sesuai pendekatan yang kita gunakan,” jelas Eldin, kepada tuturfakta, Sabtu, 1 Februari 2025.

Meski begitu, sambung Eldin, ada lima pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab munculnya perilaku kriminal seperti pencurian kotak amal, pembegalan,  dan pembunuhan di masyarakat.

“Ada pendekatan tipologi fisik dalam kepribadian, menurut Sheldon. Tapi pendekatan ini sudah lama, tidak lagi digunakan karena masih perlu pengkajian ulang secara ilmiah,” katanya.

Aksi Bobol Kotak Amal Masjid di Kelurahan Jati Diciduk Imam

Selain itu, kata Eldin, perlu menghubungkan karakteristik kepribadian tertentu dengan kecenderungan perilaku seseorang untuk melakukan tindakan kriminal.

“Seperti pencurian kotak amal adalah kepribadian yang memiliki kontrol diri yang rendah. Orang yang cenderung pemberani, dominansi sangat kuat dan power yang lebih, extrovert, cenderung asertif dan macho. Ini pendekatan dari aspek kepribadian,” jelasnya.

Kepala Seksi Penunjang Medik RSUD kota Ternate ini mengatakan, pendekatan lainnya merupakan psikoanalisis. Kata ia, perilaku sekehendak hati dan menyenangkan muncul dalam diri seseorang karena super-ego lemah.

Selain itu, tindak kriminal boleh juga disebabkan karena rasa cemburu pada bapak atau hilangnya ikatan cinta dengan ibunya.

“Selanjutnya bisa juga diketahui penyebab tindak kriminal dengan pendekatan ‘belajar sosial’. Seperti belajar di rumah, media, dan subkultur tertentu. Dengan melakukan observasi [tidak langsung maupun langsung], imitasi dan identifikasi, bisa membentuk perilaku menyimpang tersebut,” katanya.

Kemudian, ia bilang, ada pula pendekatan kognitif. Ini merupakan pola pikir pelaku kriminal. Seseorang memiliki logika yang sifatnya internal dan konsisten, hanya saja logikanya salah dan tidak bertanggung jawab.

“Ketidaksesuaian pola ini sangat beda antara pandangan mengenai realitas,” ucapnya.

Ia menambahkan, melihat masalah tersebut, bisa saja lebih dari satu pendekatan, dan biasanya pendekatan belajar sosial serta kognitif lebih menjelaskan tindak kriminal pencurian.

“Perilaku kriminal dipelajari atau dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan buruk (destruktif). Lalu logika pikiran yang salah sehingga membentuk prilaku merusak, tidak bertanggung jawab,” paparnya.

“Berani mengambil resiko di luar nalar namun destruktif, impulsif dengan kontrol diri yang lemah,” sambungnya, mengakhiri.