DI poster dan buku lawas, kita melihat gambar makanan di piring atau tersaji di atas meja. Gambar-gambar yang kurang indah tapi mengabarkan jutaan orang Indonesia butuh makan. Yang sering tergambar selain nasi dan sayur adalah tempe. Konon, tempe itu makanan mengakar di Indonesia. Tempe menjadi lauk atau campuran sayur. Sejak lama, tempe ikut membentuk Indonesia. Pada masa revolusi yang diserukan Soekarno, tempe ikut menjelaskan politik, ekonomi, pangan, keluarga, dan lain-lain.

Yang makan tempe menjadi revolusioner? Kita tidak mudah menjawabnya secara cepat dan lengkap. Soekarno dan para tokoh politik biasa makan tempe. Mereka kadang tampil sebagai revolusioner meski mudah dikecam dan dibantah. Tempe ikut agenda revolusi belum selesai. Dulu, derajatnya tidak harus merakyat. Di warung dan rumah, tempe yang tersedia belum diwajibkan memiliki cap revolusioner atau malah “musuh revolusi”.

Adanya gambar tempe dalam masa revolusi berlanjut pada masa pembangunan nasional. Soeharto tidak mengisahkan dirinya sebagai penguasa yang suka menyantap makanan-makanan mewah atau bertaraf internasional. Ia justru suka sayuran (desa) dan sambal, yang sempurna dengan adanya tempe, tahu, telur, atau daging ayam. Soeharto tidak mau dikritik sebagai penikmat kuliner yang menjauh dari selera rakyat. Tempe tentu sah menjadi bagian cerita akbar bertajuk pembangunan nasional.

Tempe dan Indonesia pernah bikin penasaran. Yang ingat 1965, ingat studi dikeluarkan oleh Cornell. Para pembaca buku-buku kajian Indonesia mengerti nama-nama tenar di Cornell. Kini, kita tidak sedang mengingatnya dalam babak-babak sejarah terpenting dan tergenting di Indonesia. Di majalah Intisari edisi Juni 1985, tercetak artikel berjudul “Cornell Menyelidiki Tempe”. Apa tempe teramat penting dalam pembesaran studi Indonesia di Amerika Serikat?

Pembuka yang mengejutkan: “Tempe sudah diangkat derajatnya dalam dunia ilmiah internasional. Di Amerika Serikat saja ada dua pusat penelitian tempe. Salah satunya ialah Cornell University.” Cornell diakrabi para peminat kajian-kajian Indonesia dan Asia Tenggara. Pada suatu masa, mereka kepincut tempe dari Indonesia.

Keterangan yang menjadikan itu penting: “Pada tahun 1984 di Eropa tercatat 18 perusahaan tempe dan di Amerika Serikat ada 53. Bisa diduga yang mengomersialkan tempe di dua benua itu ialah pendatang dari Indonesia.” Kita tidak mengetahui nama-nama orangnya. Yang terpenting tempe sudah tiba dan disantap di benua-benua berbeda, tidak hanya menjadi cerita campur-aduk di Indonesia. Cornell menjadikannya kajian, yang tidak harus ada kaitannya dengan 1965 atau pesona rezim Orde Baru.

Akhirnya, kita agak mengerti tempe tidak sekadar makanan untuk celotehan mengandung olok-olok, keminderan, dan keluguan. Riset-riset ilmiah menjadikannya memiliki bobot penting dalam kebijakan pangan, industri kuliner, dan pengajaran sains di sekolah. Tempe tidak lagi tempe seperti dalam ocehan keseharian atau pidato-pidato yang pernah disampaikan Soekarno dan Soeharto.

Pada 1996, saat Soeharto (merasa) makin berkuasa tapi tak mampu menebak nasibnya, terbit buku berjudul Bunga Rampai Tempe Indonesia dieditori oleh Sapuan dan Noer Soetrisno. Buku melulu tempe, yang memastikan ada pemuliaan tanpa bisa menghapus cibiran-cibiran yang telanjur berkembang sejak lama.

Tempe dianggap makanan khas Indonesia, terutama bagi orang-orang di Jawa. Anggapan itu memerlukan lacakan sejarah. Kita belum pernah diyakinkan dengan adanya sejarah tempe. Yang terbaca adalah penggalan-penggalan atau keterangan yang masih meragukan. Di situ, terbaca ingatan mengenai tempe yang terbuat dari kedelai. Kita ikut menyimak tanpa kepastian: “Kata kedelai, yang ditulis sebagai kedele dalam bahasa Jawa, ditemukan dalam pustaka Serat Sri Tanjung, yang diperkirakan terjadi pada abad XII dan XIII…”

Selanjutnya, M Astuti menerangkan: “Kata tempe bila dikaji lebih lanjut tampaknya berasal dari bahasa Jawa Kuno, bukan berasal dari bahasa China…” Kita sekadar membaca tapi berhak menuntut pembuktian dan argumentasi, yang menjadikan sejarah tempe itu membenarkan sebagai makanan khas di Jawa (Indonesia). Masalah bahasa saja belum menemukan penjelasan yang sahih, ditambah masalah pertanian atau tradisi kuliner yang bertumbuh di Jawa.

Yang meragukan sejarah memilih mengetahui tempe dalam zaman mutakhir. Pada abad XXI, jutaan orang di Indonesia dan pelbagai negara masih menyantap tempe. Penamaan dalam beragam olahan makin “mengekalkan” tempe meski nama atau sebutan membedakan status sosial bagi yang menyantapnya. Tempe terjanjikan tidak punah. Indonesia tetap makan tempe tapi biasa bingung bila harga kedelai yang (rutin) diimpor naik. Artinya, tempe itu makanan khas, yang mengharuskan datangnya kedelai dari negara-negara lain.

Di buku berjudul Tempe: Kumpulan Fakta Menarik Berdasarkan Penelitian (2017) susunan FG Winarno, Wida Winarno, dan A Driando Ahnan Winarno, kita diajak bergembira dengan keunggulan tempe setelah diteliti secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan dongeng.

Penjelasan yang agak memukau: “Tahun 2015 dapat dianggap sebagai tahun tempe yang mengawali pergerakan tempe nasional di Indonesia. Sejak tahun itu pergerakan tempe terasa mulai merangkak setapak demi setapak… Tahun 2015 menjadi tahun dilaksanakannya konferensi internasional tentang tempe di Jogjakarta. Konferensi ini bukan hanya dihadiri oleh para pakar dari seluruh dunia, tetapi juga melibatkan para calon ilmuwan muda yang sangat antusias melibatkan diri dalam peningkatan peran tempe bagai generasi muda mendatang.” Bayangkan tempe yang mendapat pengakuan nasional dan menginginkan terperhatikan secara internasional. Jadi, riset tempe di Cornel masa 1980-an turut menjadikan tempe itu masalah besar belum selesai terjelaskan.

Tempe dan penjelasan ilmiah mungkin membanggakan. Namun, kita kadang memerlukan cerita-cerita bersahaja mengenai tempe, yang menjadikan Indonesia bergerak dengan beragam imajinasi. Artinya, yang ilmiah menjadikan tempe bukan lagi disepelekan untuk mengulangi babak revolusi dan pembangunan nasional. Pada abad XXI, tempe mulia dalam kuliner yang terbenarkan melalui kajian-kajian ilmiah.


*Kabut merupakan nama pena dan seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia