Forum Studi Perempuan (Fospar) Maluku Utara menyambut kampanye 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025 dengan menggelar diskusi interaktif multipihak bertajuk “Mewujudkan Ruang Aman: Perempuan dan Anak Perempuan di Kota Tidore Kepulauan”.
Kegiatan berlangsung di Aula SD Muhammadiyah Indonesiana dan melibatkan Polresta Tidore, Dinas P2KBP3A Kota Tidore, UPTD PPA Kota Tidore, Fatayat NU, Nasiyiatul Aisyiyah, Tim Penggerak PKK, serta siswa-siswi SMP dan SMA se-Kota Tidore Kepulauan.
Astrid Hasan, Direktur Fospar Maluku Utara menegaskan, kampanye 16 HAKTP bukan hanya agenda tahunan, tetapi sebuah pengingat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak harus ditangani dengan keseriusan di semua lini masyarakat.
“Tema ini memiliki makna strategis, baik dari sisi sosial-ilmiah maupun pembangunan jangka panjang,” ujarnya, Rabu, 26 November 2025.
Ia menyebutkan, data regional dan nasional menunjukkan tren kenaikan kasus kekerasan berbasis gender. Karena itu, Tidore Kepulauan yang memiliki karakter sosial dan geografis khas perlu memaksimalkan nilai gotong royong sebagai modal budaya untuk memperkuat ruang aman bagi perempuan dan anak.
Astrid juga menyoroti masih lemahnya pemerataan akses layanan di kelurahan dan desa. Ia menekankan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan yang disusun dengan pendekatan berbasis lokal, menggabungkan sistem modern dengan kekuatan komunitas adat, jaringan perempuan, dan lembaga pendidikan.
“Dalam dialog ini, semua pihak diberi ruang untuk menyampaikan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam merespons meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” katanya.
Sementara itu, perwakilan UPTD PPA Kota Tidore Kepulauan, Galing Kalam, mengungkapkan bahwa pihaknya belum memiliki pendamping spesialis dan masih mengandalkan tenaga psikolog. Ia juga menilai adanya kesenjangan data di Dinas P2KBP3A Maluku Utara yang menghambat proses pengawasan pascapenanganan kasus.
Usai diskusi, Fospar Maluku Utara mengajak seluruh pihak dan instansi terkait untuk turut mengampanyekan 16 HAKTP sebagai langkah kolektif membangun ruang aman yang layak bagi perempuan dan anak.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.