“Jika kamu datang untuk menolongku, kamu hanya membuang waktumu. Tapi jika kamu datang karena kamu tahu bahwa kebebasanmu terikat dengan kebebasanku, maka mari kita bekerja bersama.”—Lilla Watson.
KALIMAT yang sering dipetik di ruang-ruang pemberdayaan itu terasa seperti sebuah pukulan pelan yang menyejukkan tapi juga menampar. Di sebuah ruang belajar-bersama yang saya ikuti baru-baru ini di Bogor, kutipan itu tercetak tebal di kaos yang dibagikan panitia. Di balik huruf-huruf hitamnya, saya membayangkan seorang perempuan Aborigin yang berdiri tegak dengan mata yang menyimpan amarah lembut—amarah yang lahir dari ratusan tahun penindasan, tetapi juga dari cinta yang membuatnya terus ingin dunia berubah.
Kita melihat di banyak ruang gerakan kita di Maluku Utara, nama ini justru jarang disebut. Kutipannya dikenal, dicetak, dibacakan; tetapi sosoknya seolah bersembunyi di balik kata-kata yang kita kagumi. Esai ini ingin membuka sedikit selubung itu: siapa perempuan ini, dari luka sejarah mana suaranya datang, dan mengapa kalimatnya relevan bagi kita yang hidup jauh dari benua Australia, tetapi tidak pernah jauh dari luka-luka kita sendiri.
Tidak sulit memahami kalimat itu, kita hanya perlu kembali pada sejarah yang lebih besar dari seorang Lilla Watson. Kita harus kembali pada Aboriginal Australia, yang telah hidup di benua itu lebih dari 60.000 tahun—salah satu peradaban tertua di muka bumi. Selama ribuan generasi, mereka merawat tanah, hutan, sungai, dan segala yang dianggap sebagai bagian dari “Dreaming”—tatanan kosmik yang menjaga hubungan manusia dengan semesta.
Lalu kolonialisme datang. Dan seperti yang sering terjadi di mana-mana, kolonialisme tidak hanya mengambil tanah; ia juga mengambil suara.
Kita tahu, tanah Aborigin dicap sebagai terra nullius—tanah kosong, tanah tak bertuan seolah tidak ada manusia yang tinggal di sana. Anak-anak Aborigin direnggut dari keluarga mereka, dimasukkan ke panti asuhan kolonial dalam apa yang kini disebut The Stolen Generations. Bahasa, adat, dan kisah-kisah mereka dianggap primitif. Ras mereka dipandang lebih rendah.
Lilla tumbuh sebagai bagian dari masyarakat yang selama berabad-abad dipaksa untuk diam. Dan mungkin karena itu, kata-katanya hari ini memiliki gema yang begitu kuat—gema dari sejarah panjang yang menolak dilupakan.
Lilla Watson lahir di Queensland pada 1940. Seorang seniman, pendidik, dan aktivis Aboriginal, salah satu tokoh penting dalam gerakan keadilan sosial bagi First Nations di Australia. Ia bukan hanya tokoh akademik yang bicara dari meja kampus; ia perempuan yang bekerja di tapak, membangun komunitas, memulihkan budaya Aborigin, dan mendidik generasi muda agar tidak tercerabut dari akar mereka.
Dan yang menarik, kutipan terkenalnya itu bukan ia klaim sebagai ciptaannya sendiri. Ia selalu menegaskan bahwa kalimat itu adalah hasil pemikiran bersama para aktivis Aborigin pada 1970-an: sebuah gagasan kolektif, lahir dari banyak mulut, banyak pengalaman, banyak derita. Lilla Watson hanya menjadi wajahnya.
Di dunia yang semakin terobsesi pada “aku”, Lilla Watson justru menyatakan, “ini bukan tentang aku, tapi tentang ‘kita’.” Dan justru di situlah letak kekuatan spiritual kutipannya. Kata-kata itu lahir tidak dari keinginan untuk didengar, tetapi dari kebutuhan untuk saling mendengar.
“Jika kamu datang untuk menolongku, kamu hanya membuang waktumu.” Maksudnya? Bukankah menolong itu baik? Namun kalimat itu tidak sedang menolak pertolongan. Ia sedang menolak relasi kuasa yang diam-diam hidup di balik banyak pekerjaan sosial. Kita tahu pola ini: “sang penolong” datang dengan kelebihan, rencana, program; sementara “yang ditolong” dijadikan objek yang harus diperbaiki.
Di titik inilah Lilla Watson mengingatkan kita: kerja sosial bukanlah tentang memberi, melainkan untuk menyadari keterhubungan. Kita bebas bukan karena kita kuat, tetapi karena ada yang menjaga kehidupan bersama. Kita kuat bukan karena kita berjaya, tetapi karena ada yang memegang bahu kita selama kita berjalan.
Di banyak desa di Maluku Utara, saya menyaksikan pola ini berulang. Aktivis datang dengan idealisme, program datang dengan indikator, dan masyarakat sering hanya menjadi angka dalam laporan.
Kutipan Watson mengguncang karena ia menggeser posisi: dari “aku yang menolong” menjadi “kita yang saling membutuhkan.” Kalimat itu seperti menatap mata kita dan bertanya: benarkah kamu datang untuk mendengarkan? Atau hanya ingin menanam jejak bahwa kamu pernah datang?
Gerakan sosial di Maluku Utara masih muda. Tampak rapuh, kadang marah, kadang letih. Tetapi ia hidup—dan itu yang paling penting. Ada yang bergerak di isu masyarakat adat, pendidikan, ekologi, pertambangan, perempuan, dan kerusakan wilayah pesisir. Dan seperti gerakan sosial di mana-mana, tantangan paling berat sebenarnya bukan hanya kekuasaan di luar sana, melainkan cara kita melihat satu sama lain.
Lilla Watson datang hari ini sebagai semacam guru jauh, yang mengingatkan: tanpa kesadaran atas keterhubungan, advokasi akan kembali menjadi kolonialisme, hanya dalam bentuk baru. Bahwa tanpa membongkar relasi kuasa, pemberdayaan hanya akan menjadi aktivitas kosmetik. Bahwa tanpa kerendahan hati, gerakan hanya menjadi panggung untuk ego yang ingin dikenang.
Mungkin bagian paling indah dari kutipan itu adalah kalimat keduanya: “Tetapi jika kamu datang karena kamu tahu bahwa kebebasanmu terikat dengan kebebasanku, maka mari kita bekerja bersama.” Di sini, Watson tidak sedang memohon bantuan. Ia mungkin menawarkan persekutuan.
Ini bukan hubungan vertikal yang hirarkis tetapi hubungan horizontal yang setara—hubungan yang membuka kesempatan bagi masing-masing untuk tumbuh. Dan bukankah ini inti dari pendidikan kritis yang kita pelajari dari Paulo Freire? Bahwa pembebasan adalah proses dua arah. Bahwa siapa pun yang hendak membebaskan harus bersedia terbebaskan juga dari bias dan ketidaktahuannya sendiri.
Mungkin sebagai “aktivis”, kita sering ingin mengubah yang lain; tetapi jarang bertanya bagaimana gerakan ini juga mengubah diri kita. Kita ingin mendidik masyarakat; tetapi jarang mengakui bahwa masyarakat juga sedang mendidik kita. Mungkin itulah yang dimaksud Watson: bahwa kebebasan adalah belajar bersama, bukan hadiah dari satu pihak kepada pihak lain.
Kita sering melihat orang datang dengan niat baik tetapi membawa ketakutan yang tersembunyi: ketakutan dianggap tidak berguna, ketakutan dianggap tidak memberi dampak, ketakutan kehilangan identitas sebagai “aktivis”. Watson mengajak kita melepaskan ketakutan itu. Ia berkata bahwa kerja sosial bukan soal heroisme, tetapi soal kerentanan yang diterima bersama. Bukan soal siapa yang lebih tahu, tetapi siapa yang bersedia belajar. Bukan soal siapa yang memimpin, tetapi siapa yang bersedia mendengarkan.
Kita tidak membutuhkan “penolong”. Kita membutuhkan teman seperjalanan. Mungkin kutipan itu akan terus dicetak di kaos-kaos pelatihan. Tidak apa. Tetapi akan lebih indah jika ia juga dicetak di dalam batin kita—di wilayah yang tidak mudah hilang, tidak mudah sobek, dan tidak mudah ditinggalkan di lemari. Dan ketika kita merasa lebih tinggi dari orang yang kita dampingi, ingatlah bahwa kutipan itu bukan sedang bicara tentang mereka. Ia sedang menegur kita.
Lilla Watson mungkin tidak pernah datang ke Halmahera, Tidore dan TernateTetapi kata-katanya berjalan ke sini—melintasi laut, sejarah, dan konteks—karena ia berbicara tentang sesuatu yang universal: martabat manusia. Dan martabat, seperti kebebasan, tidak pernah bisa diperjuangkan sendirian.
Jika kita datang hanya untuk menolong, kita akan pulang dengan tangan kosong. Tetapi jika kita datang untuk saling membebaskan, kita akan pulang dengan dunia yang sedikit berubah—dan diri yang ikut berubah bersamanya. Sebuah ajakan sederhana, tetapi cukup kuat menggerakkan sejarah.[]
Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.