Indeks Pembangunan Manusia atau IPM Maluku Utara meningkat 2,33 poin sejak tahun 2019. Lonjakannya rata-rata 0,47 poin per tahun. Hingga 2024, nilai IPM Maluku Utara sebesar 71,03 yang berkategori tinggi.
Walaupun tinggi, namun nilai itu masih di bawah nasional 74,2. Dan tergolong ke dalam 10 provinsi nilai indeks terbawah. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan dua dari tiga dimensi IPM tidak lebih baik daripada daerah dengan level IPM di bawahnya.
Papua Barat dan Sulawesi Barat, misalnya, punya IPM masing-masing 67,02 dan 68,20 yang berkategori sedang. Meskipun begitu, perkembangan dimensi kesehatan dan pendidikan keduanya lebih tinggi ketimbang Maluku Utara.
Menurut Badan Pusat Statistik, IPM merupakan gambaran yang menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Untuk menentukannya, ada tiga dimensi, diantaranya indeks kesehatan, pendidikan dan pengeluaran.
Untuk menghitungnya, Kadera.id mendulang data indikator setiap dimensi di laman BPS. Data yang diambil mencakup level kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia, dari tahun 2019 hingga 2024. Kumpulan data tersebut kemudian dibersihkan, diorganisasikan membentuk database yang dapat dianalisa menggunakan Pivot table, di dalam Spreadsheet.
Kami membandingkan data Provinsi Maluku Utara dengan Sulawesi Barat dan Papua Barat. Alasannya, kedua wilayah tersebut merupakan daerah teratas dan terbawah IPM kategori sedang, satu level di bawah Maluku Utara.
Memang, sebelum Sulawesi Barat, masih ada Papua Barat Daya di atasnya. Akan tetapi, datanya baru tersedia pada 2024. Mirip dengan wilayah terindeks rendah, seperti Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Barangkali, ini adalah daerah otonom baru sehingga data tahun-tahun sebelumnya tidak tersedia.
Kami memulainya dari dimensi kesehatan. Dimensi ini dihitung berdasarkan indikator angka harapan hidup atau AHH. Ia merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang ditempuh seseorang sejak lahir, sekaligus mencermikan derajat kesehatan suatu masyarakat.
AHH Maluku Utara tumbuh gradual, dari 62,8 tahun pada 2019 menjadi 69,3 tahun pada 2024. Atau, naik sekitar 1,63 persen. Kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Papua Barat (1,83 persen) dan Sulawesi Barat (2,24 persen).
Rata-rata AHH Maluku Utara meningkat 0,2 per tahun, setara dengan 80 hari/tahun. Sederhananya, secara statistik, harapan orang Maluku Utara punya umur panjang bertambah rata-rata 80 hari/tahun. Itu masih kurang sepekan dibandingkan Papua Barat (87 hari/tahun) dan jauh dari Sulawesi Barat, 104 hari/tahun.
Selanjutnya, dimensi pendidikan. Penghitungannya berdasarkan indikator Harapan lama sekolah (HLS) dan Rata-rata lama sekolah (RLS). Di mana RLS merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk, khususnya berusia 25 tahun ke atas, dalam menjalani pendidikan formal.
Sedangkan, HLS ialah lama sekolah yang diharapkan dapat dirasakan di masa mendatang oleh anak berusia 7 tahun ke atas. RLS dan HLS dipakai untuk mengetahui pembangunan sistem pendidikan berbagai jenjang, yang diharapkan setiap anak dapat mencapainya.
Di sini, HLS Maluku Utara meningkat 0,88 persen dalam lima tahun terakhir. Dari 13,63 tahun pada 2019 menjadi 13,75 tahun pada 2024, dengan rata-rata 0,02 per tahun. Sebanding dengan delapan hari per tahun. Sedangkan, persentase kenaikan HLS Papua Barat dan Sulawesi Barat lebih tinggi, yaitu 3,54 persen dan 2,14 persen.
Situasi ini tak berbeda jauh dengan RLS. Maluku Utara punya tumbuh 4,08 persen. Sedangkan, Sulawesi Barat 4,14 persen. Akan tetapi, Papua Barat anjlok 0,50 persen.
Dimensi selanjutnya adalah indeks pengeluaran. Ia ditentukan berdasarkan Pengeluaran per Kapita Disesuaikan, yang diperoleh dari nilai pengeluaran per kapita dan persamaan daya beli 66 jenis kebutuhan makanan dan 30 non-makanan. Maluku Utara sedikit lebih baik dalam aspek ini.
Indeks pengeluaran Maluku Utara melonjak 12,18 persen sejak 2019. Dari Rp8.308 pada 2019 menjadi Rp9.320 pada 2024. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan 8,37 persen punya Papua Barat dan 10,54 persen Sulawesi Barat.
Data-data tersebut memberikan gambaran bahwa meskipun IPM Maluku Utara tinggi, namun nilainya masih tergolong rendah. Bahkan, dalam lima tahun terakhir perkembangannya pun lebih lambat daripada daerah berindeks sedang.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.