Banjir bandang melanda sejumlah desa di Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Bencana ini menyebabkan akses darat terputus total dan melumpuhkan aktivitas warga.
Tak hanya itu, banjir juga merobohkan sejumlah tiang listrik di Desa Doitia, Kecamatan Loloda Utara, sehingga wilayah tersebut mengalami pemadaman listrik total selama hampir dua pekan.
Melihat kondisi darurat tersebut, Program Keluarga Harapan (PKH) bersama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Loloda Utara bergerak cepat dengan menginisiasi penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
“Banjir paling parah terjadi di Desa Doitia, meskipun ada juga di enam desa lainnya. Untuk bantuan ini, kami mengambil inisiatif sendiri menyalurkannya langsung ke lokasi terdampak,” ujar Koordinator PKH Kecamatan Loloda Utara, Nurlaili Lely, saat dikonfirmasi, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut berasal dari hasil penggalangan dana internal PKH dan TKSK yang kemudian dibelanjakan dalam bentuk sembako.
“Isinya antara lain mi instan, susu kotak, ikan julung, dan ngafi. Memang tidak banyak, tapi ini bentuk kepedulian kami. Apalagi di Desa Doitia, selama dua minggu warga sama sekali tidak mengonsumsi ikan,” ungkapnya.
Saat ini, dua desa terdampak banjir telah kembali normal. Namun, sejumlah rumah warga masih tertimbun material longsor, sehingga sebagian masyarakat masih mengungsi.
“Bantuan dari Kementerian Sosial juga sudah ada, tapi disalurkan melalui Dinas Sosial Halmahera Utara. Total ada 219 Kepala Keluarga yang terdampak banjir di wilayah ini,” jelas Lely.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara telah menurunkan personel TNI-Polri serta Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membantu proses evakuasi dan pembersihan sisa material pascabanjir.
Lely menambahkan, pada banjir pertama warga sempat membersihkan rumah mereka. Namun, banjir susulan terjadi hingga dua kali, sehingga memperparah kondisi.
“Bantuan yang kami salurkan salah satunya dipusatkan di rumah Kepala Desa. Ada juga bantuan lain yang masuk melalui BPBD,” katanya.
Proses penyaluran bantuan pun tidak mudah. Akses darat yang terputus memaksa tim menggunakan perahu bodi untuk mencapai lokasi.
“Kami harus naik bodi, singgah di satu desa, lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Doitia. Kondisinya benar-benar parah, tiang listrik roboh semua dan listrik padam hampir dua minggu. Karena itu, bantuan kami fokuskan ke Loloda Utara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.