Puluhan calon penumpang mulai mengantre untuk membeli tiket subsidi kapal KM Al Sudais 21, Barcelona 1, Permata Obi, dan Uky Raya 04. Tiket subsidi ini dialihkan dari loket Kelurahan Mangga Dua ke Kedai Buyun, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah.

Program subsidi mudik Idulfitri ini menawarkan diskon hingga 50 persen dari harga tiket umum dan berlaku sejak Rabu, 19 Maret hingga 29 Maret 2025. Layanan pembelian tiket dibuka dari pagi hingga sore hari.

Tiket subsidi ini berlaku untuk semua kapal yang melayani rute lintas kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara, termasuk tujuan Sasana, Kupal, Taliabu, Babang, Obi, Daruba, dan Jailolo. Selain itu, layanan feri dan bus digratiskan.

Penumpang Keluhkan Pelayanan yang Lambat

Pantauan tuturfakta.com pada Rabu, 19 Maret 2025, sekitar pukul 13.54 WIT, menunjukkan antrean panjang calon penumpang yang hendak mudik ke Kepulauan Sula dan Pulau Taliabu. Mereka datang silih berganti, membawa persyaratan seperti fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Namun, sejumlah calon penumpang mengeluhkan proses pelayanan yang lambat. Zulfadli Lidamona, calon penumpang tujuan Kepulauan Sula, mengatakan bahwa antrean lama membuat mereka harus menunggu berjam-jam.

Para calon penumpang saat antre membeli tiket di kedai Buyen, Kecamatan Ternate Tengah. Foto: La Ode Zulmin

“Pelayanannya agak ribet. Kami menunggu dari pukul 09.30 hingga lewat pukul 11.00, tetapi belum juga mendapat tiket,” ujarnya kepada tuturfakta.com.

Ia menambahkan bahwa proses pencatatan identitas penumpang menjadi salah satu penyebab lambatnya pelayanan. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi adanya program tiket subsidi ini.

Hal serupa diungkapkan Kardiman (20), calon penumpang lainnya. Ia menyebut bahwa meskipun tiket subsidi sangat membantu, tetapi waktu tunggu yang lama cukup menyulitkan.

“Pelayanannya lama, mungkin karena banyaknya calon penumpang yang membeli tiket subsidi,” katanya.

Dishub Akui Sistem Masih Kaku

Kepala Bidang Kepelabuhanan Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara, Ongen Duhumona, mengakui bahwa program tiket subsidi masih dalam tahap penyesuaian sehingga sistem pelayanan terlihat belum optimal.

“Misalnya, KM Al Sudais 21 hari ini melayani rute Ternate-Bobong, tetapi juga singgah di Sasana, Falabisahaya, Tikong, dan Lede. Jika hanya dibatasi sampai Bobong, pemudik akan mengeluh. Karena itu, mereka tetap membayar setengah dari tarif rute Sasana,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa semua kapal lintas kabupaten/kota di Malut mendapatkan potongan 50 persen dari harga tiket umum. Untuk feri dan bus, tarifnya digratiskan.

“Misalnya, tiket dari Ternate ke Sasana yang semula Rp370 ribu, kini menjadi Rp185 ribu. Sedangkan tiket dari Ternate ke Taliabu yang awalnya Rp550 ribu, turun menjadi Rp275 ribu,” tambahnya.

Pada hari tersebut, seluruh tiket KM Al Sudais 21 bersubsidi. Hal yang sama berlaku untuk KM Uky Raya 04 pada Jumat dan Barcelona 1 pada Sabtu.

Harga Tiket Naik Sebelum Subsidi Diterapkan

Namun, ada perbedaan antara kebijakan subsidi pemerintah dengan harga tiket di lapangan. Berdasarkan keputusan Pemprov Malut, tiket subsidi untuk rute Ternate-Kepulauan Sula seharusnya hanya Rp180 ribu dari harga awal Rp360 ribu. Namun, kenyataannya, harga tiket sudah naik menjadi Rp370 ribu pada awal 2025, sehingga diskon 50 persen tetap membuat tarifnya lebih tinggi dari yang diputuskan pemprov.

“Kami tidak mengacu pada SK Pemprov karena jika mengikuti SK, kami bisa mendapat komplain dari pengusaha kapal,” pungkas Ongen.