Menjelang peringatan Hari Jadi Tidore (HJT) ke-917 yang jatuh pada 12 April 2025, masyarakat Kesultanan Tidore kembali menggelar prosesi ritual adat “Lufu Kie” atau keliling gunung. Ritual ini merupakan bentuk syukur yang dilaksanakan oleh setiap marga di kampung masing-masing.

Rabu pagi itu, 9 April 2025, suasana di Jembatan Kesultanan Tidore dipenuhi alunan tifa dan rabab yang menggema sebagai penanda dimulainya prosesi. Ritual diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sultan Tidore, H. Husain Alting Sjah, didampingi oleh Jou Boki, para Bobato adat, Gimalaha, imam syara, Wali Kota Tidore Muhammad Sinen, Wakil Wali Kota Ahmad Laiman, Kapolres Tidore, serta jajaran OPD.

Tepat pukul 17.00 WIT, perjalanan ritual dimulai dari arah kiri dan dipimpin oleh Gimalaha Marsaoly. Sultan Tidore bersama Jou Boki dan para Gimalaha turut mengikuti pelayaran dalam armada juanga (kagunga).

Pelayaran Lufu Kie dikemas dalam bentuk konvoi laut yang diawali oleh perahu Kagunga Kesultanan dan dikawal oleh 12 perahu kora-kora dari para Sangaji dan Gimalaha. Mereka adalah Sangaji Laisa, Sangaji Laho, Gimalaha Tuguiha, Gimalaha Tomalou, Mare, Tongwai, Banawa, Dokiri, Gamtohe, Tomanyili, Tahisa, dan Tomaidi.

Sepanjang pelayaran, rombongan menyambangi sejumlah lokasi keramat (jere) untuk menggelar doa dan tahlilan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Makna dan Tujuan Ritual Lufu Kie

Jojau Kesultanan Tidore, M. Amin Faruk, menjelaskan bahwa Lufu Kie merupakan bentuk upacara syukuran atas berkah yang diberikan oleh gunung Tidore. Ia menyebut, “Pulau Tidore telah dipagari oleh para keramat dan ulama besar, sehingga pelaksanaan Lufu Kie menjadi bagian dari wujud syukur masyarakat.”

Menurutnya, setiap lokasi yang disinggahi memiliki makna tersendiri. Beberapa tempat menjadi titik pelaksanaan tahlilan, sementara lainnya hanya untuk doa syukuran. “Ritual ini seperti tawaf di Ka’bah, dimulai dari arah kiri hingga masuk ke keramat Jawa Konora,” jelasnya.

Enam imam dari kawasan Jawa Konora memimpin doa tahlilan, meski salah satu imam—yakni dari Soasio—tidak turut serta karena menjalankan tugas di kampung untuk masyarakat yang tengah berduka atau memiliki hajatan.

“Kalau Sultan sudah ikut dalam pelayaran, maka saya (Jojau) tidak boleh ikut. Kapita Kie dan Sowohi seperti Ishak Naser yang akan bertugas menjaga di kamar puji,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa Kapita Kie memiliki tugas khusus terkait aspek perlindungan gunung selama ritual berlangsung.

Pelayaran dari Arah Kiri dan Doa Tolak Bala

Pelayaran yang dilakukan dari arah kiri disebut memiliki makna filosofis tersendiri. Setelah melewati Jawa Konora, prosesi dilanjutkan ke Jawa Turu di sekitar dermaga feri yang dikenal sebagai Modoro Kolano Ma Gurua Tagalaya, lalu menuju wilayah marga Togubu dan Gam Gau.

Untuk mempersingkat doa, Jojau menuliskan ayat khusus: “Al-Fatihah, summa ila arwah sultanumarhuminna wa ila arwah ulama’ulamilin wa ila arwah shuhada’i was shalihin” yang mewakili doa untuk para sultan, ulama, dan pejuang.

Doa-doa tersebut terus dipanjatkan hingga tiba di tanjung Eba Madoe, salah satu lokasi keramat. “Jere-jere itu diambil dari istilah ‘ziarah’ terhadap para kekasih Allah yang memiliki karomah tersendiri,” jelasnya.

Setiap marga yang memimpin tahlilan di lokasi-lokasi keramat saling menghormati satu sama lain. Jojau menuturkan bahwa Lufu Kie adalah warisan Sultan Saifuddin, dikenal sebagai Jou Kota, yang mulai dilaksanakan setelah pemindahan pusat Kesultanan dari Toloa ke Timore (kini Soasio) pada tahun 1660.

“Pemindahan itu karena alasan geografis dan kedekatannya dengan Ternate. Ulama saat itu berpendapat bahwa ibu kota yang menghadap matahari terbit lebih baik secara spiritual daripada yang menghadap matahari terbenam,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan, nama ‘Timore’ berasal dari seorang janda bernama Putri, yang menyumbangkan lahan seluas 37 hektare sebagai lokasi ibu kota. Dari sinilah ritual Lufu Kie dimulai dan menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Tidore.

Jojau menegaskan bahwa dalam ritual ini juga dibacakan doa tolak bala, sebagai permohonan kepada Tuhan agar dijauhkan dari bencana. “Intinya, Lufu Kie adalah bentuk syukur, penghormatan leluhur, dan harapan atas keselamatan seluruh negeri,” pungkasnya.