Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tidore Kepulauan akan mengembangkan dua inovasi pelayanan setelah mengikuti sosialisasi inovasi daerah yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Tidore Kepulauan.

Dua inovasi tersebut bertujuan untuk memperkuat serta meningkatkan kemajuan daerah, dari yang bersifat inovatif menjadi lebih terinovatif.

Kasubid Pengembangan dan Layanan Pengaduan RSUD Tidore Kepulauan, Fahri Kadir, menjelaskan bahwa salah satu inovasi yang dikembangkan adalah inovasi untuk pasien rawat jalan, yaitu “Bacuci Rasa.” Inovasi ini akan mempermudah proses pendaftaran pasien yang datang ke RSUD.

“Memang, inovasi yang kami buat masih memiliki kekurangan, seperti pasien yang datang ke RSUD dari rumah akan lebih cepat dalam proses pendaftaran jika mereka membutuhkan layanan segera,” ujarnya pada Kamis, 22 Mei 2025.

Fahri menambahkan, tujuan dari inovasi ini adalah untuk mempercepat pelayanan kepada pasien. Salah satu langkah yang diambil adalah bekerjasama dengan BPJS, di mana pasien kini dapat melakukan absen wajah, menggantikan metode sidik jari yang sebelumnya digunakan. Meskipun pasien yang sudah terdaftar secara online tetap harus melakukan verifikasi wajah saat mengambil obat.

Selain kedua inovasi tersebut, Fahri menyebutkan bahwa masih ada beberapa inovasi lainnya yang sedang digagas. Namun, untuk memutuskannya, pihak RSUD akan mengadakan pertemuan untuk membahas dan memilih inovasi mana yang akan dipresentasikan kepada Wali Kota Tidore Kepulauan. “Kami sudah membentuk tim inovasi RSUD, dan nantinya akan diadakan pertemuan untuk memutuskan inovasi mana yang akan diangkat,” jelasnya.

Direktur RSUD Tidore Kepulauan, dr. Fajar Puji Wibowo, menambahkan bahwa kedua inovasi yang sedang dikembangkan berfokus pada peningkatan pelayanan pasien. Namun, dia juga membuka kemungkinan adanya inovasi baru yang dapat lahir di masa depan. Salah satu inovasi yang sedang dipertimbangkan adalah pengantaran obat ke rumah pasien.

“Kami sedang menjajaki kerjasama dengan layanan pengantaran, seperti ojek online, untuk mengantarkan obat kepada pasien rawat inap yang membutuhkan,” ujarnya.

Dengan adanya inovasi ini, pasien tidak perlu lagi khawatir tentang pengambilan obat yang tertunda atau habis. Sistem pengantaran obat ini akan menggunakan metode pembayaran COD (Cash on Delivery) untuk memastikan obat sampai ke tangan pasien dengan lancar, tanpa harus meninggalkan rumah.

“Pasien hanya tinggal menunggu obat di rumah, sementara proses pengiriman dilakukan oleh jasa yang kami sediakan,” pungkas dr. Fajar.