Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, kembali dilanda banjir pada Selasa, 3 Juni 2025, setelah tanggul Sungai Toduku–yang dibangun perusahaan Harita Nickel–di belakang pemukiman jebol akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Maluku Utara selama dua hari terakhir.

Seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan air sungai mulai meluap sejak malam hari, sebelum akhirnya menjebol tanggul yang hanya terbuat dari tanah. “Jadi hujan deras ini sejak kemarin hingga tadi malam (Selasa) membuat tanggul bocor [jebol] karena air sungai Toduku meluap,” ujarnya saat dihubungi Kadera melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Juni 2025.

Luapan air merendam sekitar 30 rumah dan sejumlah indekos, dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter–atau setinggi lutut orang dewasa. Sejauh ini, tidak ada laporan korban jiwa.

Warga Kawasi berkumpul menyaksikan luapan banjir dari Sungai Toduku yang jebol akibat hujan deras selama dua hari, Selasa, 3 Juni 2025. Foto: Warga

Menurut warga, banjir serupa bukan kali pertama terjadi. Namun, penanganan dari pemerintah maupun perusahaan Harita Nickel–entitas kawasan industri pengolahan dan pemurnian bijih nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik dikenal Harita Group–yang beroperasi di belakang desa dinilai belum maksimal.

“Sudah berulang kali terjadi, sekarang terjadi lagi karena penangananya kurang baiklah,” ujarnya.

Warga Kawasi sudah mendesak pemerintah daerah dan pihak perusahaan untuk menangani masalah tersebut dan meminta untuk membuat tanggul secara permanen supaya saat hujan deras tanggul tidak jebol dan air sungai menerjang desa.

Sementara, Hijrah Ibrahim, Humas Harita Group, membenarkan curah hujan tinggi terjadi pada 3 Juni 2025 di wilayah operasi Harita Nickel di Pulau Obi. Ia menyebut fenomena ini sejalan dengan peringatan dini dari BMKH Ternate mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah Halmahera Selatan.

“Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai penurunan jarak pandang akibat cuaca buruk. Imbauan ini berlaku untuk sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Selatan yang memang tergolong rawan bencana hidrometeorologi,” kata Hijrah saat dikonfirmasi Kadera, Rabu, 4 Juni 2025.

Hijrah menyebut pihak perusahaan telah melakukan sejumlah langkah mitigasi, termasuk pengerukan sungai dan pembangunan 50 kolam sedimen untuk mengelola limpasan air hujan di sekitar wilayah operasi.

“Perusahaan telah melakukan berbagai upaya mitigasi dan antisipasi terhadap curah hujan yang tinggi ini, antara lain melakukan pengerukan dan memastikan tanggul-tanggul di area operasi berfungsi secara optimal, termasuk dengan membangun 50 kolam sedimen untuk menjaga kelestarian di wilayah perairan Obi.” ungkapnya

Saat ditanya mengenai tuntutan warga terkait pembangunan tanggul permanen, Hijrah menegaskan bahwa hal itu perlu dikoordinasikan dengan pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. “Silahkan kordinasi ke Pemdes atau Pemda Halmahera Selatan,” ucapnya.

Rabul Sawal
Editor
La Ode Zulmin
Reporter