YANG suka membaca buku-buku biografi atau autobiografi mengetahui masa anak dan pengalaman keagamaan. Cerita yang disampaikan biasanya menakjubkan. Anak dengan kepekaan dan penasaran ingin mengetahui arti dari peristiwa, benda, dan suasana. Maka, anak bisa percaya agama dan membuktikan kekuasaan Tuhan.
Kita menyimak pengisahan anak yang lahir dan bertumbuh pada abad XIX. Yang teringat: “Beberapa lamanja kemoedian dari pada itoe, pada hari Djoemat 30 hari boelan November tahoen 1864, dipeanakkanlaah akoe pada tempat jang adjaib itoe. Sepandjang adat, berdjaga-djagalah orang pada malam hari sampai loeroeh tali poesat. Dinamakan dakoe Amiroeddin.” Anak yang lahir memiliki nama yang dipengaruhi Islam. Ia dalam keluarga yang mengerti Islam.
Yang diceritakan bukan hanya dirinya: “Pada malam hari tatkala hendak menamakan dakoe itoe, datanglah beberapa orang dari pada kaoem keloearga dan sahabat kenalan bapakoe itoe doedoek berdjaga-djaga, diperdjamoenja makan dan minoem. Saudara bapakoe itoepoen empat orang ada hadir serta berganti-ganti membatja kitab Ambia.” Peristiwa itu diingat dengan sorotan adat (Nusantara) dan agama. Amiroeddin berada dalam zaman masih menganut paham-paham kuno meski pengaruh Islan mulai meresap di Nusantara.
Pada masa bertumbuh, bocah itu belajar agama (Islam). Belajar melalui pengalaman-pengalaman selama di rumah dan mengikuti pembicaraan yang menyibukkan kaum dewasa. Ia mulai curiga ada perselisihan paham bagi orang-orang yang tradisionalis dan kaum yang ingin menegakkan iman. Pada pertengahan abad XIX, sumber belajar bocah itu terbatas tapi mulai membuat tanda dan catatan dalam menentukan sikap.
Amiroeddin perlahan mengerti belajar agama di masjid atau pondok pesantren. Pelajaran agama pun bisa diselenggarakan ke rumah. Yang terjadi: guru dipanggil ke rumah. Amiroeddin lahir dan tumbuh di keluarga mapan, memberi kemudahan dalam pelajaran agama di rumah. Kita sedang mengenang anak yang mengenali islamisasi di Nusantara. Keinginan belajar kuat tapi keberadaan guru-guru dan kitab-kitab masih terbatas. Amiroeddin berkepentingan paham sebagai orang yang beragama Islam.
Jadi, masa lalu adalah pertaruhan akal, iman, dan paham kuno. Amiroeddin dalam gejolak-gejolak mencari kebenaran. Ia bercerita: “Pada soeatoe malam toeroen angin riboet oetara, gemoeroeh boenjinja memberi dahsjat. Genting atap mesdjid itoepoen bergoegoeran keboemi, dan segala pelita dalam roemah itoepoen habis padam. Pada esok harinja datang seorang perempoean toea diroemah bapakoe, memberi tahoe, angin riboet itoe alamat akan datang bandjir besr serta gempa boemi terlaloe hebat, didalam toedjoeh hari djoega datang bahaja itoe. Mendengar perkataan demikian itoe, ketakoetanlah segala isi roemah. Djikalau soenggoeh datang bahaja itoe, kemana gerangan hendk lari berlepas diri?”
Hari demi hari ditunggu, bencana yang diramalkan tidak terjadi. Amiroeddin mulai mengerti jika ramalan itu mengandung dusta. Ia berpendapat meski melawan alam-pikir umum yang dianut keluarga: “Adapoen menenoeng bahaja itoe, djika boekan perboeatan doekoen sekalipoen, boleh mendatangkan ketakoetan kepada orang-orang tachajoel lagi bodoh.” Ia ingin berpedoman iman dan menggerakkan akal untuk mengetahui gejala-gejala alam.
Pada hari yang berbeda, Amiroeddin dipusingkan lagi masalah nama dan kematian. Ia memiliki adik yang dinamakan Selamat Mohammad Ramdan Baginda Ali Hasan Hoesen. Nama yang panjang dari bahasa Arab dianggap bermasalah setelah duka. Nama mengingatkan usaha pemaknaan anak dan Islam. Anak itu tak lama di dunia. Amiroeddin mengingat: “… saudarakoe itoe mati sebab sakit batoek, tetapi setengah orang mengatakan matinja itoe sebab terlalu besar namanja.” Ia berada dalam tegangan pemahaman mengenai kematian. Di pengalaman keseharian, Amiroeddin menganggap adiknya sakit parah tanpa terobati. Kematian bukan gara-gara nama.
Segala kenangan itu terbaca orang-orang setelah terjadi perubahan-perubahan besar di tanah jajahan. Ilmu kedokteran berkembang, pendakwah agama Islam mulai bertambah, sekolah-sekolah memberi kesadaran baru, dan perkumpulan atau sarekat bermunculan mengakibatkan cara tafsir masa anak itu mengalami pergeseran dan ralat. Amiroeddin menulis autobiografi yang diterbitkan pada 1919 seperti memberi tanda seru yang bertajuk agama, akal, “kemadjoean”, dan identitas.
Sekarang, kita beralih ke fiksi. Pada masa 1920-an, jumlah kaum terpelajar di tanah jajahan bertambah. Kemunculan kaum santri pun mendapat tempat di arus politik, pendidikan, sastra, dan intelektual. Mereka memang tidak lekas ambil peran yang besar saat pembentukan sejarah, yang berpusat di kota-kota. Pada masa lalu, kaum remaja atau muda belajar di sekolah modern mendapat sebutan “student”. Sebutan yang mentereng, mengandung pemaknaan keilmuan, sikap keagamaan, garis ideologi, dan geliat etnisitas.
Kita menemukan babak lanjutan setelah Amiroedin mengalami gejolak beragama pada akhir abad XIX. Berganti kita menemukan tokoh yang bernama Soelaiman. Tokoh itu dihadirkan Muhammad Dimjati dalam novel yang berjudul Student Soelaiman, berlatar masa 1920-an.
Kita bertemu tokoh-tokoh tekun belajar ilmu-ilmu agama. Sebutan “student” agak membingungkan bagi pembaca yang merasa berhadapan dengan santri. M Dimjati bercerita: “Soelaiman sedang doedoek bertopang dagoe diberanda moeka pondok dengan malasnja, tak tahoe apa jang akaan dikerdjakan sehari ini. Lain matjam halnja Aziz, ia sedang berbaring moeta’alah kitab dengan asjiknja.” Mereka dalam keseharian belajar agama saat remaja, berharap mencapai masa depan terhormat.
Soelaiman belajar ilmu-ilmu agama tapi suka membuat karangan (cerita). Ia mengerti dunia memiliki ribuan halaman cerita. Kesanggupan menulis cerita memberinya kekuatan merancang masa depan. Ia mau sibuk dengan imajinasi, berbeda dari babak-babak hidup Amiroeddin, yang memerlukan akal dalam mengetahui kebenaran.
Bertumbuh sebagai pemuda, Soelaiman merasakan getar-getar asmara. Ia memberi pengakuan: “Sebab tak hendak ia dimaboek oleh gelombang pertjintaan. Ia insjaf soedah bahwa bagi seorang student jang sedang menempoeh peladjaran dan akan meneroeskan kesekolah jang lebih tinggi, tak baik menaroeh pertjintaan dendam berahi dalam soekma. Akan sia-sialah baginja kalau ia meniroe apa jang kebanjakan kaoem moeda telah perboeat, apa jang kerap bersoea loekisan dipanggoeng toneel dan diboekoe-boekoe roman tentang pertjintaan. Soelaiman merasa bangga, jang pertjintaannja dengan Alimah tidak sebagai kebanjakan pertjintaan anak-anak muda zaman sekarang, ja’ni tidak melanggar garis kesopanan Islam.”
Ia memilih beriman dan bertakwa ketimbang terjerat asmara yang penuh berahi. Ia memihak ilmu agar meraih masa depan yang gemilang. Soelaiman ingin suci dalam asmara, bukan manusia bergelimang dosa. Agama menjadi pijakan.
Kita membuka dua buku lama yang terbit pada masa kolonial agar mengingat kehidupan anak dan pemuda saat belajar ilmu-ilmu dan menegakkan iman. Mereka yang berakal dan berimajinasi tapi mengerti ajaran-ajaran agama berkaitan pelbagai lakon hidup keseharian di tanah jajahan. Buku berjudul Amiroeddin dan Student Soelaiman sekadar bacaan yang mengenang silam bagi kita, yang masih ingin memberi makna peringatan Hari Santri, 22 Oktober 2025. Buku dan masa lalu justru memberi referensi kepada pembaca untuk mengetahui keilmuan dan keislaman saat Nusantara dalam laju kepentingan-kepentingan kolonialisme dan modernitas.
Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.