Warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, memberikan ultimatum satu pekan kepada perusahaan penambangan dan pengolahan bijih nikel Harita Nickel untuk memenuhi tuntutan terkait penyediaan listrik 24 jam dan penyaluran air bersih. Tenggat itu terhitung sejak Ahad, 16 November 2025, setelah proses mediasi antara warga dan perusahaan kembali berujung buntu.

Sanusi, salah satu warga Kawasi, mengatakan warga telah menyampaikan langsung tuntutan tersebut kepada perwakilan Harita Nickel. Namun, hingga Selasa, 18 November, belum ada respons.

Torang kase waktu satu minggu karena dorang [perusahaan] bilang harus komunikasi dulu dengan pusat di Jakarta. Kalau tarada [tidak ada] jawaban baik, torang akan tambah aksi,” jelas Sanusi kepada Kadera lewat sambungan telepon, Selasa, 18 November 2025.

Menurut Sanusi, penerangan listrik memang sudah menyala di malam hari, tetapi belum 24 jam seperti yang dijanjikan perusahaan. Padahal, kata dia, sekitar enam bulan lalu Hasan Ali Bassam Kasuba, Bupati Halmahera Selatan telah menyepakati pembangunan sarana air bersih bersama perusahaan, namun hingga kini belum ada realisasi.

“Itu sudah ada kesepakatan untuk air bersih namun realisasinya sampai hari ini belum ada biar satu jengkal,” terang Sanusi.

Manajer Advokasi Tambang Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Maluku Utara, menilai Harita Nickel tidak menunjukkan keseriusan. Dalam mediasi yang turut melibatkan aparat keamanan dan tokoh masyarakat pada 16 November, perwakilan perusahaan disebut tidak memberikan tidak memberikan kepastian apa pun.

“Tapi diproses mediasi kemarin, perusahaan hanya menjelaskan dan langsung pulang. Tidak ada respons lagi,” kata Mubalik.

Mubalik menduga persoalan ini sengaja dibiarkan berlarut karena perusahaan ingin mendorong rencana relokasi warga Kawasi. Karena itu, warga memberikan ultimatum tegas agar pertemuan berikutnya menghasilkan nota kesepakatan hitam di atas putih.

“Satu minggu waktu untuk perusahaan komunikasi dengan manajemen pusat. Pekan depan sudah harus tandatangan bahwa air dan listrik wajib dijawab,” ujar Mubalik.

Jika perusahaan tidak memberi tanggapan, warga berencana memblokade aktivitas industri Harita Nickel. Mubalik menyebut warga siap menyasar area vital perusahaan.

“Warga akan memboikot power plant karena itu menjadi titik vital di perusahaan. Kalau itu mati, industri akan mati. Saat ini masyarakat bilang kasih waktu di perusahaan,” ungkapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Humas Harita Nickel belum merespons permintaan konfirmasi.