Pernahkah kita renungkan, bagaimana ikan yang liar di tengah laut bisa sampai jinak di atas meja makan? Mungkin jawabannya terasa sangat simpel, yakni ditangkap nelayan. Namun, semuanya tak semudah itu ferguso.
Jawaban ini ibarat masuk ke kamar kecil dan mengeluarkan semua sampah dari dalam perut begitu saja, ketika hendak beol. Kenapa? Karena sebelum ikan menjadi menu hidangan, ada nelayan yang pontang-panting dihantam badai dan gelombang laut, menahan dingin yang menggigil menusuk tulang, lalu lalang mencari BBM, hingga putar otak bagaimana memasarkannya.
Nah, karena itu, mari kita tengok bagaimana pengorbanan tersebut berdampak terhadap pemenuhan gizi.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP, mencatat ikan tuna, kembung dan teri merupakan tiga komoditas teratas yang ditangkap nelayan Maluku Utara pada tahun 2023. Secara kumulatif, produksi ketiga ikan ini melonjak sebanyak 62,24 persen, sejak tahun 2019. Dari 45.970,98 ton pada 2019, menjadi 74.584,95 ton pada 2023.
Produksi tuna menjadi yang terbanyak, yaitu sebesar 25.534,12 ton, selanjutnya kembung 25.224,9 ton dan teri 23.825,88 ton. Akan tetapi, ini bukan sekedar angka produksi, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap tubuh. Beberapa riset menyatakan, mengonsumsi ikan-ikan ini dapat meredakan stress, meningkatkan fungsi otak, hingga mengurangi risiko stroke.
Menurut Chamorro, dkk. (2024), memakan tuna dapat mengurangi risiko stroke total, stroke iskemik, dan diabetes, masing-masing sebesar 16,37, dan 39 persen. Ini karena, setiap 100 gram daging tuna mengandung 22,6 hingga 26,2 gram protein, tulis Utami, dkk. (2020) dalam penelitiannya. Temuan penelitian inipun menyatakan, tuna juga mengandung mineral, vitamin A dan vitamin B.
Sementara, kandungan protein di ikan kembung sebesar 21,30 persen. Selain itu, kembung juga mengandung asam lemak, omega 3 dan omega 6 yang dapat menambah fungsi otak anak usia sekolah, dan mencegah penyakit.
Begitupun dengan ikan teri. Ikan yang seluruh bagian tubuhnya dapat dikonsumsi ini, banyak mengadung kalsium dan protein. Setiap 100 gram teri segar mengandung 77 kkal energi, 16 gram protein, 1,0 gram lemak, 500 mg kalsium, 500 mg phospor, 1,0 mg besi, vitamin A dan 0,1 mg vitamin B.
Hasil Riset Endah dan Dharmayati (2014) mengemukakan, kalsium pada teri baik untuk tulang dan gigi, serta mempunyai calming effek atau efek menenangkan. Kalsium akan melancarkan hubungan antar sel, yang menurun saat seseorang menderita stress dan depresi, serta mengendalikan tekanan darah.
Tiga kelompok ikan ini dihasilkan di seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara. KKP menyebutkan, ketiganya paling banyak didaratkan di Kota Ternate 38.421,9 ton, Halmahera Selatan 35.495,53 ton dan Halmahera Barat 31.364,9 ton.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.