Nelayan di Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, menilai bantuan 10 unit perahu dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku Utara tidak tepat sasaran. Bantuan itu diberikan kepada nelayan yang terdampak cuaca ekstrem pada Oktober 2025.

Irman Rakib, salah satu nelayan yang perahunya rusak parah akibat cuaca ekstrem, mengatakan hingga kini belum menerima bantuan apa pun. Padahal, bantuan telah disalurkan sejak Desember 2025.

“Smpai sekarang belum dapat bantuan. Padahal perahu dan mesin saya rusak parah. Total kerugian hampir Rp10 juta. Mesin dua rusak, bodi perahu rusak,” kata Imran kepada Kadera saat saat ditemui di pangkalan nelayan Jambula, Kamis, 5 Februari 2026.

Menurut Irman, berdasarkan pendataan awal terdapat enam unit perahu yang rusak berat akibat bencana. Namun, Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengganti 10 unit perahu, dengan empat unit disebut sebagai tambahan. Ia menilai penyaluran bantuan tidak sesuai dengan data korban di lapangan.

“Awalnya rusak enam, lalu diganti sepuluh. Artinya enam diganti, empat bonus. Tapi faktanya, saya sebagai korban justru tidak dapat. Ini yang kami rasa tidak adil,” ujarnya.

Selain bantuan dari provinsi, Irman juga menyinggung janji Pemerintah Kota Ternate yang disebut akan menyalurkan 20 unit perahu tambahan pada Februari 2026.

“Kami dengar ada bantuan 20 unit dari Pemkot Ternate. Itu disampaikan Pak Sekda dan dijanjikan Februari. Tapi sampai sekarang belum jelas,” ucapnya.

Ia meminta pemerintah melakukan pendataan ulang secara objektif dan transparan agar bantuan benar-benar diterima oleh nelayan yang terdampak langsung.

“Ini musibah, bukan bantuan proposal. Seharusnya warga terdampak yang wajib dapat. Harapan kami, data disesuaikan dengan fakta di lapangan supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” ujar Irman.

Keluhan serupa disampaikan Yayan, nelayan Jambula lainnya. Ia mengatakan sebagian bantuan memang telah dibagikan sekitar satu bulan lalu, namun masih ada nelayan terdampak yang belum menerima bantuan. Sebaliknya, ada penerima yang perahunya tidak mengalami kerusakan berat.

“Bantuan memang sudah ada yang turun, tapi tidak semua korban dapat. Ada yang perahunya tidak rusak parah malah terima, sementara yang rusak parah justru terlewat,” kata Yayan.

Selain bantuan perahu, nelayan Jambula juga menunggu realisasi perbaikan infrastruktur pesisir, terutama jalan dan talut pemecah ombak yang kerap rusak akibat cuaca ekstrem. Mereka berharap perbaikan fisik segera dilakukan sebelum puncak musim gelombang tinggi.

Pelaksana tugas Kepala DKP Maluku Utara, Fauzi Momole, belum memberikan tanggapan. Hingga berita ini diterbitkan, pesan singkat yang dikirim pada Jumat, 6 Februari 2026, belum direspons.