PADA tahun yang mau berakhir, lembaran yang tersisa adalah Desember. Yang masih bersama kalender terbuat dari kertas dan dipasang di dinding tidak cuma melihat masalah-masalah waktu. Kertas yang menyerukan waktu memuat peristiwa dan makna-makna yang bakal berlalu atau teringat dalam waktu yang lama.
Hidup di Indonesia, Desember memiliki kalender berduka. Artinya, ingatan-ingatan kita mengenai Desember sering bencana, dari masa ke masa. Pada lembaran kalender, bencana mudah terkalahkan oleh tanggal-tanggal yang dijadikan hari-hari peringatan.
Kini, Desember adalah duka ditambah marah yang menyasar pemerintah. Kita masih enggan membuat tanda di kalender bahwa Desember bukan sekadar bulan yang terakhir. Desember dapat berarti seribu tanda seru dari alam dan kematian. Apakah kita tega melihat kalender bila melupakan sedih dan marah?
Hari-hari terakhir menimbulkan angan pembuatan jadwal demi raihan makna. Desember bagi pemerintah mungkin kesibukan yang melawan kemustahilan. Segala kebijakan tampak terwujudkan. Keterangan-keterangan dari para pejabat seolah menyatakan setahun yang sukses. Kita yang terbiasa menyimak laporan pemerintah memilih geleng-geleng kepala. Bagaimana kalender selera pemerintah itu membuat kita menjadi bodoh?
Perusahaan-perusahaan mengartikan Desember dalam hitungan rugi-untung sambil menyiasati hari-hari yang libur. Maka, tahun yang berakhir adalah kemampuan mencipta kepuasan dan kemenangan. Tahun yang dianggap bergerak dengan nalar-transaksional.
Yang pasti Desember tidak sepenuhnya milik pemerintah dan perusahaan.
Kita boleh mengelak dari agenda-agenda mereka yang besar dan terlalu berisiko. Kalender yang dimiliki pemerintah dan perusahaan mungkin juga dipasang di dinding atau ditaruh di atas meja. Yang membedakan adalah pertaruhan “nafsu” dan “pengendalian” waktu. Pada nama-nama hari dan angka, pengertian hidup selalu disusun meski luput dan jarang tegak.
Namun, kita tidak selamanya bersama kalender yang kertas. Dinding-dinding di rumah mulai kehilangan kalender. Yang membuat dan membagikan kalender tetap banyak tapi keinginan memasangnya di dinding bersama paku yang berkarat makin surut. Dinding tak lagi harus berwaktu.
Kalender boleh tetap tergulung, yang mengartikan “baru” dalam waktu yang lama. Kebutuhan atas ingatan-ingatan waktu telah berganti, tidak mutlak bersumber lembaran-lembaran yang kadang disahkan dengan logo, nama, foto, dan slogan. Kalender yang kertas membenarkan kefanaan.
Pada tahun-tahun kemarin, kita yang masih hidup bersama kalender kertas menyatakan bekas setelah Desember. Kertas itu memiliki kegunaan-kegunaan yang tidak meruntuhkan waktu. Ada yang menjadikannya sebagai pembungkus, lambaran, kerajinan, dan lain-lain. Tugas yang selesai saat tahun berganti. Kertas-kertas sebenarnya lelah saat masih berada di dinding dan meja. Yang menggunakan kalender-kalender bekas, yang tidak ingin tanda waktu sia-sia dan secepatnya hancur. Mengapa kita membuat perpisahan yang berlogikan fungsi?
Pada 2026, kalender yang kertas tetap menandai waktu. Kita perlahan tergoda untuk melihat dalam gawai. Praktis menjadi patokan. Waktu tetap bergerak tapi ulah kita berubah. Pada tahun yang berlalu dan tahun yang datang, kita biasa gagal mengartikan diri bersama waktu. Di hadapan kalender, kita masih saja dihajar kebingungan dan keraguan.
Yang tampil dalam media sosial adalah foto dan kata-kata yang “menipu” saat orang-orang merayakan waktu yang dinamakan tahun baru. Kita sudah jenuh dan merasa itu sia-sia. Keinginan melihat lagi kalender-kalender lama justru bentuk nostalgia waktu, yang menjebak dalam penyesalan dan kangen yang tak terbatas. Kita melihat lagi di lembaran kertas adalah situasi hidup yang dalam penandaannya belum teremehkan seperti sekarang.
Dulu, ada orang-orang yang memandang kalender untuk melihat foto artis, mobil, pemandangan, hero, binatang, dan lain-lain. Lembaran-lembaran kalender tidak sepenuhnya waktu. Di situ, ada gambar dan foto yang membujuk kita menuju pengalaman berbeda. Ada yang punya kebiasaan melingkari tanggal atau membuat coretan di lembaran kalender. Ia memastikan kalender itu sistem ingatan. Yang terbiasa melihatnya setiap hari dijamin ada dalam jalinan ingatan-ingatan.
Kesibukan berwaktu dengan kertas hampir dimasalalukan. Kita yang masih bertahan melihat kertas adalah melihat waktu mungkin tercecer dari keriuhan zaman. Kita merasa waktu tidak terlalu cepat bila menyadari yang fana. Kalender di dinding dan meja sempat memberi bujukan agar waktu adalah ramuan dari warna, bentuk, dan ukuran. Kita yang menyentuh, merobek, dan membuat catatan di kalender merasakan keterlibatan yang “tradisional”.
Pada suatu saat, orang-orang yang sanggup mengumpulkan kalender-kalender kertas, dari masa ke masa, sepatutnya menggelar pameran. Anggaplah itu pameran manusia dan waktu. Yang melihat kalender dari masa 1950-an dan 1960-an bakal mengingat revolusi dan Indonesia yang terseok-seok untuk maju.
Pada masa Orde Baru, produksi kalender kadang “terperintah” oleh gagasan-gagasan pembangunan nasional atau pembaratan yang makin membesar. Konon, kalender yang bermunculan saat Soeharto berkuasa dapat dijadikan representasi Indonesia: dari politik sampai industri hiburan.
Koleksi kalender dari masa lalu itu “dokumentasi” yang telanjur lama diabaikan. Kita masih memiliki ingatan pula saat kalender berupa kertas menjadi pembatas buku. Ada yang selembar saja dalam ukuran kecil, yang bisa ditaruh di tas atau dompet. Kalender dan kertas yang membawa beragam cerita itu adalah ingatan, selain yang berusaha mengumpulkan dan melakukan rekonstruksi Indonesia.
Kalender yang benda memungkinkan pembentukan cerita-cerita. Ada yang bersandar pada kalender untuk menghimpun biografi (individua tau keluarga), yang nantinya menyimpan air mata dan tawa.
Pada abad XXI, kalender-kalender yang kertas lekas kenangan saja saat kita tidak lagi menghendaki dengan rumus praktis dan murah. Waktu tak lagi sama seperti pengalaman dari masa-masa yang lalu. Waktu makin menyempit makna tapi kita yang menginginkannya mumpung segalanya dapat berada di tangan dan terselenggara dengan sentuhan jari.
Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.