JANUARI. Kita mulai dari Koropon. Akhir Desember lalu saya berdiri di sana, di sebuah pulau kecil di depan Mabapura, Halmahera Timur. Senja belum benar-benar. Anak muda—semangat, sibuk menyiapkan pembukaan sebuah festival, Festival Koropon. Spanduk direntang, panggung dirakit, suara musik diuji.
Koropon kita tahu, adalah tempat para tetua Mabapura dahulu singgah sebelum bikin kampung itu, di situ pula ritual arwahan dimulai—ruang peralihan antara laut, darat, dan ingatan. Sayang, saya tidak menemukan napak tilas arwahan itu. Tak penanda, tak ruang hening, tidak juga jejak ritual. Kita lebih sering memanggil ingatan kolektif dalam cerita, tapi tubuh, tempatnya berpijak telah lebih dulu disapu bersih.
Kini pulau kecil itu gersang. Kapan digusur dan untuk apa, entah! Selat kecil antara daratan Mabapura dan koropon ditimbun, dibeton, diaspal jadi jalan. Panas menyengat. Dari sini, jika memandang ke timur, kita melihat lanskap yang telah berubah. Pulai kecil Gei dan Pakal dikeruk Antam, Tanjung Buli dikeruk, pulau kecil Mabuli digali Makmur Jaya Lestari. Tak jauh dari situ, tidak lebih satu kilometer dari Mabapura sebuah PLTU raksasa dengan bahan bakar batu bara sedang dibangun untuk menyokong industri baterai listrik. Di tengah kepungan itu, festival digelar—disponsori belasan perusahaan tambang—sebagai bagian dari ulang tahun desa.
‘Festival’ selalu terdengar seperti kabar baik atau mungkin kesan hidup, kebersamaan, dan optimisme. Tapi di Koropon, festival terasa janggal. Ia seperti perayaan di atas tanah yang kehilangan napas. Bukan semata peristiwa budaya, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam: krisis. Krisis wilayah hidup. Krisis ingatan. Krisis keberanian untuk menyebut yang sedang terjadi.
Di sinilah mental bangsa terjajah bekerja—halus, nyaris tak terasa. Paulo Freire menyebutnya fear of freedom: ketakutan pada kebebasan itu sendiri. Saya, kamu, dan mungkin kita semua lebih nyaman dengan sistem yang menindas tapi pasti, ketimbang kebebasan yang menuntut risiko dan tanggung jawab. Tambang datang membawa bahasa pembangunan dan kemajuan. Aparat hadir membawa bahasa ketertiban. Dan warga—yang hidupnya paling dekat dengan tanah dan laut—belajar patuh, bahkan ketika yang terancam adalah keselamatan mereka sendiri.
Saya teringat Frantz Fanon menyebut kondisi ini sebagai inferiority complex of the colonized. Luka psikologis yang diwariskan kolonialisme. Dan kita tahu, kolonialisme tidak hanya merampas tanah, tetapi membentuk jiwa, juga mental. Ia mengajarkan bahwa yang datang dari luar selalu lebih tahu. Bahwa pengetahuan lokal adalah keterbelakangan. Bahwa adat adalah penghalang kemajuan. Akibatnya, setelah penjajah pergi, banyak bangsa bekas jajahan terus mengukur diri dengan standar luar—merasa “maju” hanya jika meniru sesuatu dari luar, minder pada pengalaman hidup sendiri.
Di Koropon, luka itu tampak nyata. Konflik horizontal mudah menyala. Warga saling curiga. Yang tertindas mulai mengadopsi cara berpikir penindasnya sendiri— internalized oppression, begitu kata Freire. Negara dan pemerintah dianggap selalu benar. Izin dipandang tak bisa digugat. Padahal terang-benderang, kawasan ini rawan ekologis, rawan sosial, rawan masa depan.
Mungkin ada sesuatu yang luput saat kita bicara pembangunan dengan bahasa laporan dan izin. Tubuh warga menyimpan pengetahuan lain. Ingatan yang tak tercatat: bau ikan ngafi (teri) dijemur, setelah hujan, rasa asin laut di angin sore, seliweran suara orang menjual ikan, ombak yang berubah ketika daratan ditimbun. Hal-hal kecil ini bekerja diam-diam membentuk kesadaran, jauh sebelum kata “krisis” diucapkan.
Ingatan macam ini bukan romantisme masa lalu. Ini lebih mirip kerja batin yang sunyi, cara tubuh membaca perubahan sebelum statistik datang. Ketika air dalam kamar mandi tiba-tiba keruh, ketika panas terasa tak wajar, ketika suara malam tak lagi sama—tubuh sebenarnya sedang memberi peringatan.
Sayangnya, kita telah lama dilatih untuk tidak mempercayai pengetahuan semacam itu. Kita diajari meragukan pengalaman sendiri, dan percaya pada peta, grafik, dan presentasi yang datang dari luar.
Di titik inilah kolonialisme bekerja dan paling lama tinggal. Ia membuat kita asing terhadap ingatan kita sendiri. Membuat warga ragu pada apa yang mereka lihat, cium, dan rasakan. Seolah kebenaran hanya sah jika datang dari bahasa teknokratik, dari meja rapat, dari dokumen berstempel.
Jika kita berdiri di Koropon, laut di Teluk Mabapura itu tampak terlampau tenang. Hamparannya licin dan berkilap, seperti minyak kelapa di wajan sebelum api dinyalakan. Tidak bergelombang, tidak menolak. Keteduhan yang sering dipuji itu mungkin lebih mirip Minyou duka, teduh yang menyiman duka. Atau mungkin membawa kabar duka.
Sebab di sekelilingnya, darat telah koyak: bukit dibelah, mangrove ditimbun, pulau-pulau kecil digali atas nama izin dan investasi. Atau teluk ini memilih diam—bukan karena tak tahu apa-apa, tetapi terlalu lama menjadi saksi. Dalam ‘minyou’ itu, kita berhadapan dengan pertanyaan yang tak nyaman: apakah ini kedamaian, atau kelelahan lautan yang telah lama tak diberi pilihan.
Lalu, apa itu Koropon hari ini?
Said Marsaoly adalah Pegiat Salawaku Institute, bermukim di Teluk Buli, Halmahera Timur.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.