ORANG ramai membicarakan pernyataan Presiden Prabowo bahwa kebahagiaan nasional Indonesia menempati peringkat pertama di dunia. Angka dan klaim itu beredar cepat, disambut bangga, dipertanyakan diam-diam, lalu mengendap sebagai wacana. Namun esai ini tidak hendak mengukur bahagia dengan indeks, survei, atau grafik. Ia ingin berjalan ke arah yang berbeda–menyusurinya dari ruang batin yang jarang disentuh perayaan politik.

Kita tidak pernah memulai hidup dari titik nol. Kita sudah berada di dunia–terlempar ke dalam ruang dan waktu yang tidak kita pilih. Kita lahir dari keluarga tertentu, kelas sosial tertentu, sejarah tertentu, dengan bahasa, norma, dan harapan yang lebih dulu ada. Sejak awal, hidup bukanlah halaman kosong. Ia sudah dipenuhi garis-garis yang ditarik oleh dunia.

Dari keterlemparan itu, kita tumbuh dari ruang-ruang yang berbeda, membawa cerita yang tidak sepenuhnya sama. Ada yang hidupnya mengalir tenang seperti sungai yang telah lama mengenal jalurnya. Ada pula yang sejak awal harus belajar di tengah gelombang arus yang kasar dan tak kenal ampun. Gelombang yang menguji tidak hanya kekuatan tubuh, tetapi juga ketahanan batin.

Betapapun berbedanya jalan hidup, kita semua hidup di dalam dunia yang menuntut. Tuntutan itu selalu hadir tidak sekadar sebagai paksaan kasar. Ia justru sering datang dalam bentuk yang halus dan akrab dengan kita: “seharusnya”, “kata orang”, “begitulah biasanya”. Inilah yang dunia anonim, suara kolektif yang tidak jelas siapa subjeknya, namun terus berkuasa atas cara kita berpikir, merasa, bertindak, dan menilai diri kita. Ini bukan karena kita sungguh memilihnya, namun karena semua orang menuntut dan menentukan mana yang “layak” mana yang “benar”.

Di zaman yang penuh kecepatan, kini kita pun hidup perlahan dipersempit menjadi etalase. Kita, yang disebut manusia, dinilai dari apa yang nampak atau menempel padanya. Harta, relasi, performa sosial, jejak digital, dan segala hal yang bisa dijadikan pembanding di sana. Dan eksistensi direduksi menjadi citra.

Kita seperti cermin yang dipoles bukan oleh diri kita sendiri, melainkan oleh orang lain yang merasa berhak menentukan kualitas pantulan tersebut. Dan suka tidak suka, kita pun jatuh dalam keseharian yang dangkal.

Dari kondisi itu, kebahagiaan ikut terseret. Ia tidak lagi muncul sebagai pengalaman batin yang jujur, melainkan sebagai status yang harus diakui. Bahagia berubah jadi izin sosial. Ia membutuhkan validasi, butuh penonton, restu, untuk diakui oleh orang ramai. Kebahagiaan tidak lagi “dialami”, kebalikannya “dipamerkan”. Dan apa yang dipamerkan selalu rapuh karena bergantung pada pandangan orang lain.

Kita pun terlibat dalam perlombaan yang tidak pernah kita pilih secara sadar. Kita mengejar kebahagiaan yang bahkan tidak sempat kita pertanyakan maknanya. Dengan kata lain, kita hidup bukan sebagai diri sendiri, yang terjadi adalah versi yang diterima oleh manusia lain.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa kebahagiaan tidak ditentukan oleh Aku? Mengapa selalu ada tangan-tangan yang ingin memegang kendali? Tangan-tangan itu tidak lain disebut sebagai modal, yakni modal ekonomi, modal sosial, modal simbolik, yang kemudian membentuk struktur dan relasi kuasa. Semakin besar modal seseorang, makin besar pula keberaniannya untuk mendikte bagaimana orang lain seharusnya hidup. Pada titik itulah, kebahagiaan tak ubahnya komoditas, yang bukan menjadi eksistensial.

Pemahaman ini tidak semata-mata hanya refleksi filsafat, melainkan dari wajah-wajah yang aku temui setiap hari. Dari percakapan di warung kopi, kampus, kantor, kebun, yang di mana orang-orang menyembunyikan letih dibalik tawa. Banyak kebahagiaan yang muncul ternyata tipis–indah di luar, rapuh di dalam.

Aku teringat pada seorang politisi yang pernah berjalan dengan kepala tegak. Ia percaya bahwa dunia jaringan kuasa merupakan rumah paling aman bagi bahagia. Matanya bersinar oleh prestise, dan senyumnya dipenuhi keyakinan. Namun ketika relasi kuasa runtuh, dan jejaring sosial berbalik, kebahagiaan itu hilang secepat kilat.

Apa yang terjadi berikutnya adalah senyumnya memudar, matanya redup. Ia terguncang karena harapan atas masa depan yang selama ini ia biarkan diatur oleh kehendak luar kini tidak lagi bersahabat.

Sejak itu, ia kemudian sibuk merajut kembali pencitraan. Dengan berharapan manusia meliriknya, atau memberinya hadiah bernama “validasi.” Setiap unggahan, setiap tawa yang direkam, setiap kadera tempat orang duduk dan berbicara, menyisakan satu kegelisahan yang sama: apakah orang lain masih melihatnya bahagia? Padahal kebahagiaan semacam itu rapuh – ia hidup sejauh ruang sosial yang mengiyakannya.

Meski demikian, hidup yang otentik bukan berarti hidup tanpa dunia. Justru kebalikannya, adalah hidup dengan kesadaran penuh akan keterlemparan dan keterbatasan. Keotentikan muncul ketika berani menarik dirinya kembali dari kebisingan manusia dan bertanya – bagaimana aku ingin mengada. Bukan berdasarkan standar luar, tapi dari pengakuan jujur atas kemungkinan kehendak dirinya sendiri.

Tentu kisah-kisah tersebut berserakan di ruang dan waktu sekitar kita. Cinta yang patah karena tekanan sosial. Kawan yang berkhianat demi status. Rekan kerja yang menipu demi naik kelas. Keluarga yang menekan pilihan hidup demi menjaga nama. Semua ini terjadi karena kita menyerahkan “remote” kehidupan kepada tangan luar – membiarkan yang bising ini ribut menentukan apa yang seharusnya membuat kita bahagia.

Maka keberanian yang paling radikal adalah mengambil kembali “remote” kehidupan. Menarik keputusan ke dalam diri – bukan sebagai egoisme, melainkan tanggung jawab eksistensial. Membangun jarak perlahan dari tuntutan dunia tanpa memutus relasi. Dari sana, kebahagiaan tidak lagi dikejar, tapi muncul sebagai dampak dari hidup yang lebih jujur pada diri ketimbang pengakuan dan memerlukan izin. Juga kebebasan untuk tidak menyerahkannya pada tangan-tangan yang ingin mengendalikan.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tujuan akhir. Ia juga bukan puncak yang harus ditaklukkan. Dalam bahasa Heidegger, yang lebih penting adalah cara kita mengada di dunia ini. Dan bahagia sendiri bukanlah kepuasan instan seperti gula di lidah, tapi ia cepat larut.

Sering kali, apa yang kita sebut kebahagiaan itu mungkin bukan sepenuhnya milik kita. Karena kita hanya menumpang, pada keadaan dan pengakuan. Dan ketika semua itu pergi, kita pun ikut runtuh. Di sinilah kebahagiaan dan penderitaan bukanlah sesuatu yang terpisah, justru saling bergantung. Kini, apa yang kita miliki, nikmati, besok akan pergi menjadi kecemasan. Kita berjuang untuk bahagia dan memilikinya, kemudian kita pun takut kehilangan. Akhirnya kita juga tidak benar-benar tenang.

Kebahagiaan eksternal tidak memberi jawaban yang cukup demi menenangkan batin. Sebab, sejak awal ia berdiri di atas kesalahan konseptual yang menempatkan kebahagiaan sebagai fondasi hidup. Yang memungkinkan ialah “memiliki diri sendiri”, berarti berdamai dengan keterlemparan, menerima dan tetap memilih untuk hidup secara sadar. Kesadaran, ketenangan, dan kebijaksanaan tidak bisa dirampas oleh keadaan, politik kehidupan, waktu, selama kita tidak menyerahkannya.

Demikian juga bahwa kebahagiaan tidak bisa dikejar secara mati-matian, apalagi dengan semangat untuk menaklukkan. Justru pentingnya keadaan batin yang tak lagi menggantungkan hidup pada harapan yang rapuh. Dan kita perlunya menghadapi kenyataan hidup itu, mempertanyakan sekaligus yang akan datang.

Esai ini tidak menjanjikan kebahagiaan. Juga tidak seperti klaim penguasa. Ia (kebahagiaan) hanya mengajak berhenti sejenak dari kebisingan, untuk mendengar kembali suara diri sendiri yang kerap kita abaikan. Dan barangkali, di situlah jalan pulang Dasein–meminjam istilah Heidegger–perlahan terbuka.[]


Yoesran Sangaji adalah seorang yang suka membaca dan minum kopi, asal Pulau Bacan.