Pelataran Pasar Bahari Berkesan, Kelurahan Gamalama, Ternate, masih lengang saat disambangi pada Kamis siang, 26 Februari 2026. Matahari tepat di atas kepala, menyengat tanpa ampun. Di deretan lapak yang sebagian tertutup terpal kusam, tak terdengar dengung mesin parut seperti hari-hari biasa.

Rafik Husen, 39 tahun, duduk di bangku kayu sambil menatap layar ponselnya. Earbud yang sedari tadi terpasang ia lepaskan ketika diajak berbincang. Di sisi kanan dan kiri lapaknya, dua mesin parut berdiri diam. Di bagian belakang, sebuah mesin pres santan menempel di dinding kayu.

Siang itu belum ada pelanggan yang memesan kelapa parut maupun santan.

“Bulan Ramadan kemarin itu lebih ramai. Tapi puasa [tahun] ini tidak terlalu,” kata Rafik. Ia menduga, semakin banyak penjual kelapa parut di luar pasar membuat pembeli terbagi. Namun ia tak bisa memastikan.

Menurut Rafik, penjualan justru lebih stabil pada hari biasa. Rumah makan dan pedagang kue menjadi pelanggan tetap sepanjang hari. Saat Ramadan, permintaan datang terutama dari pembuat kue atau warga yang menyiapkan menu berbuka.

“Kalau hari biasa rata-rata semua orang butuh. Kalau bulan puasa paling yang bajual [berjualan] kue saja,” ujarnya.

Obrolan sempat terhenti ketika seorang pelanggan membeli batok kelapa untuk bahan bakar. Setelah itu, Rafik kembali bercerita tentang pasokan. Kelapa tua yang ia parut bukan dari kebun sendiri. Ia membeli dari pemasok dengan harga Rp3.000–Rp5.000 per buah, tergantung ketersediaan. Pasokan biasanya datang dari Jailolo, Oba, Gane Barat, hingga Tobelo.

Rafik menjual kelapa parut Rp20 ribu per kilogram, juga melayani pembelian eceran Rp5.000–Rp10.000. Santan dihargai Rp25 ribu per kilogram. Batok kelapa satu kantong plastik besar dijual Rp10 ribu. Ampas kelapa sebagian diberikan cuma-cuma untuk pakan ternak, sisanya dibuang.

Dalam sehari selama Ramadan, ia membawa pulang Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Angka itu, menurut dia, tidak jauh berbeda dengan hari biasa. Pada hari normal, pendapatan bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Rafik berharap penjualan meningkat mendekati Lebaran. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, dua hari sebelum Idulfitri, omzet bisa melonjak hingga Rp2–3 juta per hari. “Itu tahun kemarin. Tahun ini belum tahu,” katanya.

Di lapak lain, Darwis, 57 tahun, memilih hanya menjual kelapa parut. Ia belum memiliki alat pres santan. Harga beli kelapa yang ia dapat sama, Rp3.000–Rp5.000 per buah. Kelapa parut dijual Rp20 ribu per kilogram.

Pendapatannya selama Ramadan ini, menurut Darwis, cenderung stagnan, sekitar Rp400 ribu–Rp500 ribu per hari. “Ramadan ini biasa saja,” ujarnya.

Dari pendapatan itu, ia masih harus membayar retribusi Rp10 ribu per hari serta biaya listrik Rp50 ribu per sepuluh hari. Belum termasuk kebutuhan operasional lain.

“Kedengarannya pendapatan besar, tapi kalau dipotong dengan ongkos lain kan kecil. Kecuali memang ful tidak ada potongan,” ucapnya.

Di sisi lain, Susi, 52 tahun, warga Kelurahan Tafure, mengaku kebutuhan santan justru meningkat selama Ramadan. Ia membeli dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan.

“Kalau santan saat Ramadan paling meningkat. Misalnya untuk camilan kuah kolak, ayam, semua pakai santan,” katanya.

Namun ia jarang membeli sampai satu kilogram. Biasanya hanya Rp5 ribu kelapa parut atau santan secukupnya. Batok kelapa untuk memanggang ikan pun dibeli satu kantong Rp10 ribu.

Menjelang sore, satu dua pembeli mulai datang. Mesin parut kembali dinyalakan. Suaranya memecah sunyi pelataran pasar yang sejak siang terasa sepi. Bagi pedagang kelapa parut, Ramadan tahun ini belum sepenuhnya menghadirkan lonjakan. Harapan mereka kini tertuju pada hari-hari terakhir menjelang Lebaran.