Ramadan selalu mengubah wajah Ternate menjelang petang. Di tepi jalan depan Pantai Falajawa, tenda-tenda berukuran dua kali dua meter berdiri rapat, memanjang mengikuti trotoar. Meja-meja kayu dipenuhi aneka kue dan gorengan. Orang-orang datang setelah pukul empat sore, sebagian masih mengenakan seragam kerja, sebagian lagi membawa anak kecil yang menunjuk-nunjuk kue berwarna terang.

Di sepanjang jalan Kelurahan Muhajirin, Ternate Tengah, lebih dari 46 lapak berjejer. Di depan Taman Falajawa, sekitar 31 lapak lain membuka jualan serupa. Sementara di pelataran Masjid Al-Munawwar Ternate, sedikitnya 10 pedagang musiman ikut meramaikan sore.

Eci duduk di bangku kayu di bawah tendanya, Kamis siang, 26 Februari 2026. Di hadapannya, nampan risol dan lalampa sudah tertata, meski pembeli belum ramai. Ia menjaga lapak milik orang lain selama Ramadan.

Perempuan 32 tahun itu berkata mereka membayar retribusi per meter Rp2 ribu ke Disperindag. Ukuran lapak dua meter, jadi Rp4 ribu. Ditambah uang kebersihan Rp3 ribu sehari.

Baginya, biaya itu sebanding dengan hasil yang didapat. Ia menyebut, pada hari ramai, nilai penjualan bisa mencapai Rp6 juta. Dari situ, ia menerima upah bersih sekitar Rp900 ribu per hari.

“Kalau hari biasa paling beda-beda. Kadang Rp600-700 ribu pendapatan saya kalau di hari biasa,” kata Eci kepada Kadera, tersenyum kecil.

Menurut Eci, dua atau satu hari menjelang Lebaran biasanya menjadi puncak penjualan. Tahun lalu, ia sempat membawa pulang hingga Rp2-3 juta dalam sehari. Tahun ini, ia menilai pembeli tetap ramai, meski belum mencapai puncaknya.

Di lapaknya, tiga menu paling cepat habis adalah risol sayur, risol mayo, dan lalampa. Harga yang dipasang rata-rata Rp10 ribu untuk tiga kue. Ada pula yang menjual satuan Rp5 ribu.

Sejumlah pembeli kerap mengeluhkan harga tersebut. Namun Eci beralasan, harga menyesuaikan bahan baku dan kualitas. Ia memastikan, takjil yang tidak habis tak akan dijual kembali keesokan hari.

“Siapa saja yang lewat di sini kami kasih mereka kue yang belum habis. Kami bagi-bagi. Kami tidak boleh menjual. Besoknya, harus takjil baru. Jadi kue di sini baru semua,” ujarnya.

Pengawasan dari dinas kesehatan, menurut dia, juga rutin dilakukan. Petugas pernah mendatangi lapak-lapak takjil untuk memastikan kebersihan dan keamanan pangan.

Hal serupa disampaikan Salman Baba, 40 tahun, pedagang lain di lokasi yang sama. Di lapaknya tersedia 27 jenis takjil, sebagian hasil produksi sendiri, sebagian titipan. Menu yang paling diminati antara lain mie car ikan, kue sus, dan tart susu.

Salman mengaku penjualan tahun ini cenderung menurun dibanding Ramadan sebelumnya. Pada tiga hari pertama puasa, ia mencatat pendapatan masing-masing Rp450 ribu, Rp300 ribu, dan Rp200 ribu. Tahun lalu, pada periode yang sama, ia bisa meraih hampir Rp1 juta di hari pertama.

Meski demikian, ia tetap menjaga kualitas dagangan. Takjil yang tidak terjual dibagikan kepada warga sekitar. “Kalau kue sisa itu tidak bisa jual lagi. Di habiskan hari itu juga dan dibagikan ke orang-orang. Karena bulan puasa ini bulan yang berkah, kita bersedekah dengan kue,” katanya.

Menjelang magrib, pembeli mulai berdatangan. Tangan-tangan cepat memilih kue, memasukkannya ke plastik bening. Dalam hitungan menit, meja yang semula penuh perlahan berkurang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan di tepi Pantai Falajawa tetap menjadi ruang pertemuan antara pembeli yang mencari menu buka dan pedagang musiman yang menggantungkan penghasilan pada satu bulan yang singkat.