“Tak! Tak! Tak!”

Bunyi parang yang membelah daging ayam di atas talenan kayu bundar terdengar ritmis. Suara itu beradu dengan riuh orang-orang yang lalu-lalang di sudut Pasar Higienis Bahari Berkesan, Kota Ternate. Aroma daging segar bercampur bau amis tipis menyergap hidup.

Siang itu, Jumat, 27 Februari 2026, Irwan, 40 tahun, sibuk menata ayam potong berbungkus plastik bening di atas meja lapaknya. Tangannya cekatan, gerakannya terlatih. Wajahnya tampak serius, nyaris tanpa jeda sejak pagi.

Satu-dua pembeli singgah. Mereka datang dengan kebutuhan masing-masing: ada yang meminta ayam dipotong kecil, ada pula yang memilih utuh.

“Ini harga berapa?” tanya seorang perempuan paruh baya dengan dialek Jawa. Percakapan singkat itu tenggelam di tengah kebisingan pasar.

Beberapa menit di depan lapak, Irwan memperhatikan gerak-gerik saya. Setelah melayani pembeli lain, ia mendekat. “Ada keperluan apa?” tanyanya. Ia mengangguk pelan setelah saya menyampaikan maksud kedatangan.

Bulan Ramadan, kata Irwan, adalah masa paling sibuk bagi pedagang ayam potong di pasar ini. Ia datang sejak pukul empat pagi, bahkan sebelum azam Subuh berkumandang. Dari kulkas besar di sudut lapak, ayam-ayam segar dikeluarkan satu per satu, lalu disusun rapi di atas meja berubin putih. Di dekatnya, sepotong kayu telanan dan sebuah timbunan tua setia menemani.

“Saya datang ke pasar sejak pukul empat pagi, pulang pukul enam sore,” kata Irwan.

Irwan bukan pemilik usaha. Ia hanya karyawan. Karena itu, disiplin adalah harga mati. Harga ayam potong yang ia jual bervariasi, bergantung ukuran dan berat badan ayam. Per ekor dibanderol Rp35 ribu hingga Rp55 ribu. Perbedaan pedagang, katanya, juga kerap memengaruhi harga.

“Kalau saya biasa lihat dari ukurannya. Semakin besar, ya, harga semakin mahal,” ucapnya.

Selama Ramadan, penjualan ayam meningkat cukup tajam. Dalam sehari, Irwan bisa menghabiskan lima hingga enam karung, masing-masing berisi 20–25 ekor ayam. Di hari biasa, dua sampai tiga karung sudah dianggap lumayan.

Saiful, 30 tahun, pedagang ayam potong lain di pasar itu, menguatkan cerita Irwan. Menurut dia, hampir seluruh ayam potong yang dijual di Pasar Higienis Bahari Berkesan bukan diproduksi di Maluku Utara. Ayam-ayam tersebut didatangkan dari Surabaya.

“Kalau hari biasa, paling tiga karung habis,” kata Saiful. Penjualan baru melonjak ketika ada acara wisuda atau pesta pernikahan. Saat itu, sepuluh karung ayam bisa ludes dalam sehari.

Ramadan menjadi cerita berbeda. Pembeli datang silih berganti. Dalam sehari, Saiful bisa menjual lima sampai enam karung ayam. Puncaknya terjadi di awal Ramadan dan menjelang Idulfitri.

“Lima karung dalam satu hari itu masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan penjualan ayam jelang Idulfitri. Karena kalau rame itu bisa sampai 10 karung. Bahkan bisa bisa 60 karung dalam sehari,” katanya.

Harga ayam potong, menurut Saiful, tak jauh berbeda. Per ekor dijual Rp35 ribu hingga Rp55 ribu, tergantung ukuran. Pembeli juga bisa membeli per kilogram dengan harga Rp65 ribu. Potongan daging bisa dipilih sesuai selera.

“Ada yang beli per ekor, ada juga yang beli satu kilogram,” katanya.

Di antara bunyi “tak! tak! tak!” yang tak pernah berhenti, para pedagang ayam potong menaruh harapan. Idulfitri tinggal menghitung hari, sebuah momen ketika lapak-lapak kecil di pasar menjadi saksi bertambahnya pundi-pundi rupiah.