Adi, 29 tahun, duduk di atas trotoar Jalan Merdeka, depan kantor Cabang Maluku-Malut, Kota Ternate, sore itu. Di depannya, ratusan kelapa muda bertumpuk tanpa meja, tanpa tenda. Hanya sebilah parang dan kantong plastik bening yang menjadi peranti utama. Setiap Ramadan, ia kembali ke titik yang sama, menunggu azan Magrib sekaligus menunggu rezeki.
Pukul 16.00 WIT, Adi mulai membuka dagangan. Satu per satu kelapa dibelah dengan tebasan cekatan. Airnya dituang, dagingnya dikeruk, lalu dimasukkan ke dalam plastik. Pembeli berdiri melingkar, mengawasi proses yang nyaris ritual itu. Di sela kesibukan, ia menyeka keringat dan melayani pesanan berikutnya.
“Tara [tidak] dapat marah karena saya sudah izin Dishub dan bank. Retribusi Rp10 ribu sehari,” kata Adi, Jumat, 27 Februari 2026. Ia mengaku tak pernah mendapat teguran karena telah mengantongi izin berjualan di lokasi tersebut.
Pemuda asal Desa Messa, Weda Timur, Halmahera Tengah itu menjadikan Ramadan sebagai musim panen tahunan. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari seratus butir kelapa muda dengan harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per buah.
Jika seluruh stok habis, omzetnya dapat mencapai Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Namun pada Ramadan 1447 Hijriah ini, rata-rata pendapatannya berkisar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per hari.
“Dekat lebaran, bisanya Rp25 ribu per buah,” ujarnya. Tahun lalu, momentum itu membuat penghasilannya berlipat.
Di belakang Benteng Oranje, suasana tak kalah ramai. Lapak-lapak sederhana berjajar di tepi jalan. Aroma sabut kelapa bercampur debu dan asap kendaraan. Denting parang memecah tempurung bersahutan dengan deru knalpot.
Muhammad Ikdar Domo, 39 tahun, salah satu pedagang di lokasi itu, mengatakan ada sekitar 14 pedagang musiman yang berjualan. Masing-masing membayar retribusi Rp10 ribu per hari.
“Pedagang musiman di sini tara dapa marah. Tong [kami] so dapat izin,” kata Ikdar.
Ikdar mulai berdagang sejak pukul 13.00 WIT hingga menjelang berbuka. Setiap hari, ia menjual 200 hingga 250 butir kelapa. Dibeli dari petani Tobolo dan Sulamadaha seharga Rp5 ribu per buah, lalu dijual Rp10 ribu, harga yang tak berubah sejak tahun lalu.
Namun, menurutnya, Ramadan kali ini tak seramai sebelumnya. Tahun lalu, ia bisa meraup lebih dari Rp1,5 juta per hari. Kini, pendapatannya paling tinggi sekitar Rp1 juta, bahkan kerap hanya Rp800 ribu hingga Rp900 ribu.
“Mungkin karena sudah banyak pedagang kelapa,” ujarnya. Hari itu, sekitar 80 butir telah terjual.
Meski begitu, ia tetap optimistis. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penjualan biasanya melonjak saat memasuki pertengahan Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
“Pelanggan banyak itu saat awal dan pertengahan puasa. Puncaknya menjelang lebaran,” jelasnya.
Di Ternate, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia juga menjadi musim usaha. Di antara dahaga yang ditahan dan azan yang dinanti, kelapa muda menjelma sumber penghidupan, setidaknya hingga takbir menutup bulan suci.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.