Nasib dunia ada di mulut Trump. Ia terbiasa mengucap kata-kata yang mengejutkan dunia. Omongan penguasa di Amerika Serikat itu terbukti menentukan nasib dunia. Ia yang merasa paling berkuasa, yang menjadikan kata-katanya adalah “kebenaran” yang terlarang dibantah. Mengapa ia tampak semuanya dalam omongan?
Konon, Amerika Serikat adalah negara panutan demokrasi. Yang dilakukan Trump justru menodai demokrasi. Ia merusak demokrasi dengan mengejek, marah, dan membual. Maka, kita menyaksikan perang yang rumit: Israel-Amerika Serikat-Iran. Perang yang menghasilkan ribuan berita bohong dan absurditas.
Apakah kita dipaksa untuk mengenali (lagi) Amerika Serikat? Artinya, kita melihat Amerika Serikat masa lalu. Siapa yang mampu menjelaskan dan mengisahkan agar kita tidak asing dengan negara besar yang sering mendikte dunia?
Kita mulai saja dengan mengikuti kesaksian-kesaksian HB Jassin. Sosok yang moncer dalam ketekunan dokumentasi dan kritik sastra Indonesia itu pernah berkelana ke Amerika Serikat. Hasilnya adalah tulisan-tulisan yang dibukukan berjudul Omong-Omong HB Jassin: Perjalanan ke Amerika 1958-1959.
Yang ditulis HB Jassin mengenai Bloomington: “Hanya satu kota kecil berpenduduk lebih kurang 30.000 orang, ditambah 10.000 orang mahasiswa yang tinggal dalam kampus. Kota di sini, orang menyebutnya ‘downtown’, hanya setengah jam jalan kaki dari asrama. Di situlah letaknya toko-toko, kantor pos, stasiun kereta api, dan lain-lain.
Bloomington dapat dikatakan suatu kampung saja kalu di Indonesia, bedanya di sana adalah kampung modern yang serba teratur dan bersih. Kampung itu mempunyai gedung-gedung perumahan yang baik. Orang yang naik sepeda hampir tidak kelihatan. Yang ada hanya mobil-mobil, malahan lebih banyak mobil daripada orang.”
Kalimat yang terakhir bikin kita geli sekaligus kagum. Pada masa 1950-an, ada kelakar bahwa mobil berkuasa di Amerika Serikat. Maksudnya, jumlahnya memang banyak. Negara itu bergerak cepat dengan mobil. Kota yang dianggap kampung oleh HB Jassin memiliki keunggulan. Namun, kita yang ingin mengetahui Bloomington mendingan membaca cerita yang digubah Budi Darma.
HB Jassin menjadikan Bloomington sebagai penggelan mengakrabi Amerika Serikat. HB Jassin bercerita pengalamannya tapi kurang gereget bagi kita yang mau mengenang Amerika Serikat. Kini, Bloomington pasti sudah banyak perubahannya dibandingkan tulisan-tulisan HB Jassin dan Budi Darma.
Pada hari-hari yang berbeda, para pengarang Indonesia pun berkunjung ke Amerika Serikat. Kedatangan dengan beragam pamrih. Yang mereka berikan kepada kita bukan foto tapi puisi. Dokumentasi tulisan oleh para pengarang itu dikumpulkan menjadi buku yang berjudul On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry (1991). Buku yang membuktikan jalinan Amerika Serikat dan Indonesia tapi berbeda dari omongan-omongan Prabowo Subianto. Beberapa hari yang lalu, kita dibuat kaget oleh kalimat-kalimat Prabowo Subianto tentang Indonesia-Amerika Serikat: dulu dan kini. Kita diminta mengingat kebaikan-kebaikan Amerika Serikat saat mata-dunia sedang melihat penguasa di sana bikin ulah yang sembrono.
Kita memilih puisi, bukan pidato atau pernyataan penguasa di depan kamera. Puisi kadang membuat kita memiliki kesempatan melamun meski tidak dijanjikan sampai pada kebenaran-kebenaran Amerika Serikat.
Sitor Situmorang menulis puisi berjudul “Genesis Negeri Robert Frost”. Puisi lama yang membuat kita melupakan gedung pencakar langit atau kemodernan yang fantastis. Yang terbaca: Pada hari ketiga/ (di hutan Connecticut atau Virginia)/ Menjelang akhir perlintasan benua/ kereta api menembus hutan pagi… Pengembara ragu:/ Adakah tujuan lebih agung/ si sana, di Washington DC?/ belum ketemu/ di lain kota, di lain negeri// melebihi/ kesempurnaan hari penjadian/ di hutan pagi ini.
Puisi yang menawarkan pengalaman indah, bukan kapitalisme atau perang. Puisi yang pernah ditulis, yang belum mendapat susulan puisi baru. Kita belum ingin membaca puisi mengenai Amerika Serikat dan perang berlatar abad XXI.
Kita melanjutkan membaca puisi yang digubah Taufiq Ismail berjudul “Trem Berkelenengan di Kota San Fransisco.” Ia tidak hanya menulis puisi-puisi mengenai Amerika. Dulu, ia rajin menerjemahkan puisi-puisi dari Amerika Serikat dalam bahasa Indonesia. Sosok yang “tepat” menjadi panutan jalinan sastra Amerika Serikat-Indonesia.
Puisi yang pamer pujian: Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitmu. Bukit-bukit/ yang ditumbuhi rumah-rumah Eropa, Meksiko, Habsyi, dan Cina/ bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan yang/ mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai tak/ kunjung habisnya. Debu segan padamu. Kotoran mekanika dan/ asam arang kauserahkan sepenuhnya pada Los Angeles, si buruk/ muka. Dia cemburu padamu. Puisi mengajak kita mengenali kota-kota. Yang ditulis adalah masa lalu. Pada abad XXI, kota-kota itu sangat berubah berbarengan kita kecewa pada Amerika Serikat.
Kini, adakah pengarang Indonesia yang sudah mulai menulis puisi-puisi bertema Amerika Serikat? Kita mengandaikan puisi-puisi mengandung marah, kecaman, kutukan, dan penyesalan. Dunia benar-benar sedang dipusingkan oleh Amerika Serikat. Kita sedang melihat pertunjukkan akbar, yang justru menghinakan peradaban.
Akhirnya, kita mengenali Amerika Serikat melalui buku berjudul Amerika dan Dunia (2005), yang diterbitkan berdasarkan kerja sama Kedutaan Besar Amerika Serikat, Freedom Institut, dan Yayasan Obor Indonesia. Buku memuat artikel-artikel penting dari para pemikir terkenal.
Fareed Zakaria memberi penjelasan, yang berlatar puluhan tahun silam: “Amerika Serikat melihat modernitas sebagai hal yang semuanya bagus. Tapi bagi dunia Arab, moderintas merupakan suatu kegagalan setelah kegagalan-kegagalan lain.”
Kutipan yang membekali kita untuk mengerti ulah Amerika Serikat di Iran dan pelbagai negara di Arab. Namun, kita bingung, Indonesia ternyata terlibat dalam kerumitan posisi dalam perang Israel-Amerika Serikat-Iran. Kita belum menemukan jawabannya, sambil menantikan puisi-puisi yang memihak keindahan dan kedamaian ketimbang kehancuran dan kematian akibat perang.
*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.