Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menyatakan kesiapan menggelar Hari Jadi Tidore (HJT) ke-918 yang akan diperingati pada 12 April 2026.
Perayaan tahunan ini menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah panjang Tidore yang telah eksis jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, Daud Muhammad, mengungkapkan perayaan tahun ini mengusung tema “Merawat Tradisi, Mempertegas Jati Diri Bangsa Maritim.” Ia menambahkan, terdapat sejumlah penyesuaian dalam prosesi ritual adat dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu perubahan terlihat pada ritual Kota Tupa dan Dawaro Munara, yang merupakan rangkaian awal berupa pengantaran sesaji sekaligus permohonan izin kepada pihak Kesultanan untuk memulai seluruh kegiatan HJT.
“Jika tahun sebelumnya Tupa diantar ke Gimalaha Tomayou di Kelurahan Gamtufkange, tahun ini Pemerintah Kota akan langsung mengantarnya ke Kedaton Kesultanan Tidore,” jelas Daud, Sabtu, 4 April 2026.
Selanjutnya, Tupa akan dibawa oleh Bobato Kesultanan menuju Kananga Mabopo di perbatasan Kelurahan Gamtufkange dan Soasio. Setelah itu, Tupa diserahkan kepada Gimalaha Tomayou untuk disemayamkan selama satu malam di rumah adat yang dikenal sebagai Alina Permata Faralom Gam Nnyili Gamtufkange.
Pada 5 April 2026, Tupa kemudian diantar ke rumah adat milik Lima Marga (Tomayou Soa Ramtoha) yang tersebar di beberapa wilayah, yakni dua rumah di Kelurahan Tambula, satu di Folarora, dan dua lainnya di Gurabunga.
Perubahan juga terjadi pada ritual Ake Dango (Air Bambu). Jika sebelumnya langsung diantar dari Gurabunga ke Kedaton, kini prosesnya dilakukan bertahap. Ake Dango terlebih dahulu dibawa ke Alina Permata Faralom Gam Nnyili Gamtufkange, lalu oleh Gimalaha Tomayou diantar ke Kananga Mabopo untuk dijemput Soa Raha sebelum akhirnya diserahkan ke Bobato Kesultanan di Kedaton.
“Proses pengantaran Ake Dango akan dilaksanakan pada 8 April 2026,” tambahnya.
Sementara itu, ritual Lufu Kie atau Parade Armada Kesultanan tetap dilaksanakan tanpa perubahan pada 9 April 2026. Kegiatan ini akan melibatkan 23 armada laut, terdiri dari 12 juanga, 1 kagunga milik Sultan, serta 10 speed boat dari SKPD.
Namun demikian, beberapa agenda seperti Dama Nyili-Nyili dan pameran terpaksa ditunda akibat efisiensi anggaran menyusul pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat.
Rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan Pengajian Ratib Hadad di Kedaton Kesultanan Tidore pada 10 April 2026, usai salat Isya. Puncak perayaan HJT ke-918 akan digelar pada 12 April 2026 di lokasi yang sama.
Perayaan ini juga direncanakan akan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, para kepala daerah di wilayah sekitar, tiga Kesultanan di Maluku Utara (Bacan, Ternate, dan Jailolo), serta perwakilan dari kementerian terkait.
“Perayaan ini menjadi ajang penting untuk merawat tradisi sekaligus mempertegas identitas Tidore sebagai bangsa maritim,” pungkas Daud.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.