KITA malas dengan peringatan hari buku. Malas bukan dosa. Malas yang memiliki sebab-sebab. Selama setahun, ada beberapa tanggal yang dinyatakan ada urusannya dengan buku. Maka, institusi atau orang-orang mufakat bila itu hari yang diperingati demi buku. Padahal, tahun-tahun yang terus berdatangan tidak memberi kegirangan bagi orang-orang yang “mengimani” buku.
Hari buku ditiadakan tidak menimbulkan malu. Kita mulai berpikiran tidak perlu adanya peringatan hari buku. Padahal buku masih ada, yang lama dan baru. Apakah buku memang tidak patut mendapatkan hari yang istimewa. Jawab saja dengan malu-malu: “Buku selalu saja menguatkan arti prihatin, kecewa, jemu, dan sesalan.”
Di Indonesia, buku makin tidak berguna bila kita mengikuti pengakuan kaum politik, yang dulu dan sekarang suka pamer koleksi buku. Ada yang pamer suka membeli buku. Para tokoh yang sibuk berpolitik malah berpidato agar rakyat membaca buku. Yang membuat buku kehilangan “sinar” adalah kebijakan-kebijakan pemerintah, berakibat buku-buku tidak mudah menghuni kamar atau rumah.
Sekolah dan universitas memberi sokongan agar membaca buku adalah peristiwa kuno dan memalukan. Tahun-tahun yang telah membuktikan bahwa birokrasi dan institusi pendidikan tidak mementingkan buku, selain pidato yang klise dan pembuatan spanduk yang dibaca matahari dan diguyur hujan.
Kita berpikiran sesat: buku masih memiliki masa lalu tapi buku tidak punya masa depan. Apakah yang membenarkan pengakuan bahwa buku ada dan tiada dipengaruhi kekuasaan? Akibatnya, kita tidak yakin mengenai buku yang bermasa depan. Yang masih agak memberi secuil pengesahan adalah buku dan masa lalu.
Yang bermasa lalu itu Goenawan Mohamad. Di majalah Tempo, 2 Mei 2010, ia menulis: “Buku bisa bertaut dengan trauma, setidaknya dalam pengalaman saya. Ketika saya berumur enam, tentang pendudukan Belanda menangkap ayah dan menggeledah seisi rumah. Di hari itu, setelah bapak diikat tangannya dan dinaikkan ke atas truk, kami sekeluarga duduk ketakutan. Satu kejadian masih saya uingat: dua orang serdadu mengangkut sejumlah buku dari kamar kerja ayah dan melemparkan jilid-jilid itu ke dalam sumur.”
Buku-buku yang dibuang mungkin berbahaya atau tidak berguna. Di sumur, buku-buku menyerah pada air. Sumur bukan tempat terindah untuk menghormati buku. Dulu, kita terbiasa menyimak berita dan cerita pembakaran buku. Ingatan yang dinyatakan Goenawan Mohamad memastikan air memiliki kekuatan dalam kehancuran buku.
Hari ini kita tidak ingin melihat pembuangan buku-buku dalam sumur. Berjalanlah di pasar buku bekas atau trotoar di pelbagai kota yang digunakan untuk berdagang buku. Di situ, buku-buku sulit terjual, selanjutnya berpindah tempat dan termiliki seseorang. Buku-buku yang menunggu, perlahan jemu dan rusak.
Buku-buku yang “dihinakan” oleh harga. Yang diinginkan adalah buku-buku laku. Harga yang turun atau sangat murah memungkinkan pedagang tetap mendapat rezeki. Situasi yang bertambah sulit saat buku-buku tidak mendapatkan pembeli dan pembaca, yang berarti rezeki dibayangi timbunan sesalan dan sabar menunggu kehancuran.
Buku-buku tidak perlu dibakar dan dibuang ke sumur. Kekejaman membiarkan buku-buku menumpuk tanpa pembeli, pembaca, dan pemiliki sudah hukuman yang mematikan. Buku-buku yang bernasib buruk bakal cepat hancur. Yang dicetak istimewa cuma menunda tamat. Buku tidak lagi bacaan. Yang terlihat adalah kebiadaban dalam zaman memalukan.
Trauma-trauma baru diciptakan setiap hari. Pada anak dan cucu, kita berdoa mereka tidak tercemar buku. Hidup hanya sia-sia bila masih bersama buku. Di tangan, tidak ada buku. Sikap yang tidak boleh dibilang dosa atau bukti kepandiran. Di atas ranjang, buku-buku mendingan absen digantikan benda-benda yang lain. Di ruang tamu, terlarang tampak tumpukan buku.
Hidup tanpa buku tidak membuat kita cengeng, mencret, atau dendam. Yang terbaik adalah mengurangi buku-buku di dunia, dimulai dari rumah, sekolah, dan kantor pemerintah.
Bagaimana buku masih pantas memberi bahagia? Kita baca bualan Hasan Aspahani dalam “Sajak Ini Kuberi Judul: Buku”. Kita membayangkan yang tidak mudah: Engkau, sayangku, adalah buku/ aku membaca matamu tak jemu// Sampai kau bilang: “Sudah ya/ aku mau memejam dulu…”// “Ya” jawabku sambil diam-diam/ berharap kau mengajakku tidur/ bersamamu. Dan membayangkan/ halaman paling rahasia dalam dirimu.
Larik-larik yang inginnya romantis. Kita membaca puisi yang salah? Puisi masih mementingkan buku. Padahal, kita membacanya saat buku mendingan terkucil atau terpencil.
Sisa kegunaan buku adalah foto. Jadi, orang-orang menambahi jumlah koleksi foto buku atau foto diri bersama buku. Jumlah itu bersaing dengan usaha para pedagang buku di media sosial dan lokas pasar, yang berharap dari foto-foto agar terjual. Ingatlah, bukan foto. Yang dilihat adalah foto yang dibuat apik, berharap paling istimewa.
Pada saat Pablo Neruda bertumbuh remaja dan dewasa, ia tidak dijerat oleh kesaktian kamera yang menghasilkan foto ribuan buku. Ia tetap melihat buku dengan pesona yang tidak habis-habisnya. Buku dilihat oleh mata, belum diperantarai foto.
Ia mungkin sempat melihat iklan-iklan buku atau poster yang menampikan buku. Namun, yang dikehendakinya adalah buku meski selalu saja bermasalah dengan duit. Ia ingin menjawab kehendak tanpa berdosa gara-gara tidak punya uang.
Yang diungkapkan Pablo Neruda, puluhan tahun lalu, sebelum buku berada dalam zaman lesu dan buruk: “Penggemar buku yang memiliki sedikit uang cenderung sering menderita. Buku-buku tidak terlepas dari tangannya melainkan terbang melewatinya melintasi udara, setinggi burung-burung, setinggi harga-harga.”
Ia menemukan jawaban atas keinginan membaca dan memiliki buku. Yang dilakukan adalah membayar buku secara cicilan, yang mendapat persetujuan dari pedagang buku. Ia tidak sempat berfoto bersama buku-buku yang dibelinya tapi mudah menceritakan dan mengakui bila itu berpengaruh dalam gubahan-gubahan sastranya.
Yang menderita dan bahagia gara-gara buku itu melanjutkan ingatan: “… saya tersesat di dalam rimba toko-toko buku, di ceruk dan celah rak-rak buku bekas di wilayah pinggiran dan pusat toko-toko yang sangat bagus di Prancis dan Inggris. Tangan saya keluar dari rak-rak buku dengan berselimut debu tetapi dari waktu ke waktu saya memperoleh harta karuna tau setidaknya tergetar atas pemikiran bahwa saya memilikinya.”
Kita mungkin tersentuh oleh kata-kata mengenai manusia dan kata-kata bertema buku ketimbang diserbu seribu foto buku di media sosial.
*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esai, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.