Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, telah menghanguskan 143 hektare lahan dan lebih dari 10.000 tanaman produktif milik warga. Pemerintah daerah bersama tim tanggap darurat terus berupaya menangani kebakaran dan membantu masyarakat terdampak.
Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Mus, mengatakan tim tanggap darurat telah mendirikan lima posko dengan melibatkan 120 petugas dari unsur pemadam kebakaran, Satpol PP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, dan Brimob.
Pemerintah daerah juga mengerahkan aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) untuk membantu proses pemadaman. Sebagian personel ditugaskan mendukung pelayanan di posko kesehatan dan dapur umum.
“Banyak dari petugas kami juga membantu di dapur umum dan posko kesehatan. Untuk itu, kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak gegabah, dan bergotong royong membantu satu sama lain,” kata Sashabila, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia juga mengimbau warga untuk menyelamatkan dokumen penting serta mendata kerugian secara cermat agar pemerintah daerah dapat menghitung total dampak kebakaran yang dialami masyarakat.
Sashabila menyebutkan, pendataan luas lahan dan jumlah tanaman yang terdampak masih berlangsung di sejumlah titik, termasuk Todoli, Tikong, dan Lise. Api bahkan telah menjalar hingga ke Lise, Kecamatan Lede, dengan jangkauan sekitar lima kilometer.
Kondisi tersebut menyulitkan warga untuk membawa air ke lokasi kebakaran guna memadamkan api. Karena itu, ia meminta tim di lapangan segera mengidentifikasi titik-titik api agar penyaluran logistik dan kebutuhan pemadaman dapat dilakukan lebih cepat.
“Karena itu, kami berharap tim di lapangan mencari titik api sehingga logistik bisa diangkut lebih cepat ke lokasi,” ujarnya.
Berdasarkan data sementara per 10 Oktober 2026, lebih dari 10.000 tanaman produktif milik warga terdampak kebakaran. Data tersebut mencakup tiga lokasi, yakni Desa Nggele dan Salati di Kecamatan Taliabu Barat Laut serta Buambono di Kecamatan Taliabu Utara. Sementara itu, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 143 hektare.
Untuk mempercepat penanganan, Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Menurut Sashabila, Gubernur Maluku Utara juga telah menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat untuk mengupayakan bantuan, termasuk kemungkinan dukungan pemadaman melalui udara.
“Kami sudah berupaya untuk hadir dan berkomunikasi dengan pemerintah provinsi. Ibu Gubernur juga sudah berkomunikasi dengan pemerintah pusat. Siapa tahu kami bisa mendapat bantuan water cannon lewat udara dari pemerintah pusat,” katanya.
Sashabila mengaku khawatir apabila api terus meluas dari kawasan perkebunan warga dan merambat masuk ke wilayah hutan. Selain memperbesar dampak kebakaran, kondisi tersebut juga berpotensi menyulitkan upaya pengendalian api.
“Yang kami khawatirkan ketika api sudah tidak berada di wilayah perkebunan yang masih bisa dihitung, tetapi sudah masuk ke wilayah hutan. Itu yang menjadi kekhawatiran kami,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat turut mendoakan keselamatan petugas dan warga yang terdampak. Sashabila juga meminta media terus memberitakan perkembangan kebakaran agar kondisi di lapangan mendapat perhatian lebih luas.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.