Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, mencatat sebanyak 1.399 titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ribuan titik tersebut tersebar di wilayah Halmahera Timur, dengan dampak kebakaran yang menyebabkan tanaman perkebunan warga mengering hingga mati.

Meski demikian, BPBD mengklaim sebagian besar titik panas kini telah padam setelah wilayah tersebut diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu juga ditandai dengan berkurangnya asap yang sebelumnya menyelimuti sejumlah kawasan pedesaan.

Darso Gajal, Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Timur, mengatakan penanganan karhutla masih terkendala keterbatasan personel dan fasilitas, terutama untuk menjangkau titik api yang berada jauh dari permukiman.

“Terakhir berdasarkan data satelit, titik hotspot sebanyak 1.399 titik,” kata Darso kepada reporter Kadera.id, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut dia, titik panas yang berada dekat dengan jangkauan petugas relatif lebih mudah dipantau dan ditangani. Sebaliknya, titik yang berada di lokasi terpencil menyulitkan tim tanggap darurat untuk melakukan penanganan langsung. Untuk titik-titik tersebut, pemantauan masih mengandalkan data satelit.

Dalam penanganan karhutla, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD), TNI, Polri, serta masyarakat. Namun, luasnya wilayah terdampak dan banyaknya titik panas membuat upaya penanganan di lapangan belum dapat menjangkau seluruh lokasi.

Darso mengatakan hujan yang mengguyur Halmahera Timur beberapa hari terakhir membantu meredakan kebakaran. Ia menyebut sebagian besar titik panas telah padam, meski pemantauan tetap diperlukan.

“Beberapa hari kemarin kan hujan itu. Hampir semua (titik hotspot) so padam. Karena itu terbukti dengan asap di pedesaan itu so trada,” ujarnya.

Terkait dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, khususnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Darso mengaku belum menerima laporan resmi mengenai warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat karhutla.

“Belum ada laporan resmi dari masyarakat atau pihak Dinkes, rumah sakit, puskesmas maupun masyarakat terjangkit ISPA karena kebakaran,” katanya.

Meski belum menerima laporan tersebut, Darso mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat kondisi kemarau masih berlangsung. Ia juga meminta warga tidak membakar sampah sembarangan karena berpotensi memicu kebakaran baru.

Menurut dia, pencegahan karhutla membutuhkan kesadaran dan keterlibatan seluruh masyarakat agar kebakaran tidak kembali meluas dan menimbulkan kerugian bagi warga.

“Saya kira tong harus lebih peka, dewasa, menyikapi ini secara keseluruhan supaya jangan terjadi kebakaran yang menghukum tong sandiri bagitu,” pungkasnya.